KOMPAS.com - Studi terbaru dari Departemen Psikologi di Lingnan University menemukan bahwa karyawan yang aktif mencari peluang, mau belajar, dan punya kecerdasan emosional (EQ) yang tinggi, terbukti bekerja jauh lebih baik dan lebih bersemangat.
Tim peneliti menjelaskan bahwa kombinasi sifat tersebut membantu karyawan menciptakan peluang yang lebih baik untuk perkembangan karier jangka panjang mereka di dunia kerja yang rumit. Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam Journal of Business and Psychology.
Melansir Phys, Jumat (26/6/2026) penelitian yang dilakukan oleh Prof. Wang Huatian, asisten profesor riset di Departemen Psikologi Lingnan University bersama Eindhoven University of Technology di Belanda ini melakukan studi dari September 2020 hingga Desember 2022 di lingkungan rumah sakit.
Selama empat minggu berturut-turut, penelitian ini melibatkan 368 karyawan medis termasuk dokter, perawat, dan staf administrasi di 42 departemen yang berbeda di tiga rumah sakit umum di Provinsi Shandong, Cina. Para peserta memiliki usia rata-rata 34,9 tahun dan rata-rata masa kerja 9,7 tahun.
Baca juga: 13 Perusahaan Global PHK Karyawan karena Kehadiran AI
Setiap minggu, mereka diminta mengisi formulir penilaian untuk mencatat kinerja mereka sendiri. Hal yang dicatat meliputi apakah mereka telah bertindak proaktif, semangat mereka dalam bekerja, serta penilaian mandiri terhadap performa kerja mereka.
Tim peneliti membagi peserta menjadi dua kelompok yakni karyawan jabatan tinggi dan karyawan jabatan rendah.
Mereka kemudian menggunakan indikator nyata, seperti lama masa kerja dan jumlah pendapatan, untuk menganalisis perbedaan status sosial di dalam kelompok kerja tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam tim kerja yang memiliki perbedaan masa kerja dan pendapatan yang mencolok, karyawan junior yang aktif mencari bimbingan, saran, dan peluang dari senior atau atasan mereka, menunjukkan kinerja dan semangat kerja yang jauh lebih tinggi. Sebaliknya, efek ini tidak terlalu kuat pada karyawan yang memiliki jabatan lebih tinggi.
Selain itu, karyawan dengan kecerdasan emosional (EQ) yang tinggi lebih sukses mendapatkan bantuan atau peluang yang mereka cari.
Kemampuan EQ ini contohnya seperti bisa membaca situasi, memahami emosi orang lain, tahu waktu yang tepat untuk berbicara, serta mampu menyampaikan sesuatu dengan cara dan pilihan kata yang pas agar tidak terjadi kesalahpahaman atau konflik.
Wang menjelaskan, dalam kerja sama antar-tim di tempat kerja, karyawan junior memang sering kali berada di posisi yang kurang menguntungkan karena kurangnya pengaruh dan sumber daya.
Namun, mereka bisa membalikkan keadaan ini dengan memanfaatkan EQ yang kuat dan aktif menciptakan peluang sendiri.
Dengan melihat jarak jabatan dengan senior sebagai kesempatan untuk belajar, karyawan junior bisa mempercepat pertumbuhan mereka, mengumpulkan pengalaman kerja lebih cepat, dan memperluas jaringan profesional.
Hal ini bisa meningkatkan nilai dan kehadiran mereka di mata tim, sekaligus membuka jalan yang lebih baik untuk perkembangan karier mereka di masa depan.
"Meskipun penelitian ini dilakukan di lingkungan rumah sakit, hasilnya memberikan masukan berharga yang bisa diterapkan di berbagai jenis tempat kerja," terang Wang.
Baca juga: Gen Z dan Karyawan Senior Berpengalaman Makin Sulit Cari Kerja
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya