Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tiga Bahaya Perubahan Iklim Intai Hampir Separuh Anak di Dunia

Kompas.com, 17 Juni 2026, 10:00 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sekitar 1,1 miliar anak-anak saat ini menghadapi setidaknya tiga bahaya iklim yang terjadi bersamaan. Menurut Laporan Risiko Iklim Anak Tahun 2026 yang dirilis UNICEF, kondisi ini mengancam kesehatan, pendidikan, dan keselamatan nyawa mereka.

"Kehidupan anak-anak terus terguncang akibat dampak gelombang panas, kebakaran hutan, kekeringan, dan banjir," kata Direktur Eksekutif UNICEF, Catherine Russell.

"Setengah dari jumlah anak-anak di dunia kini hidup dengan setidaknya tiga ancaman iklim tersebut sekaligus yang memengaruhi kehidupan mereka sehari-hari," katanya lagi, dikutip dari laman resmi United Nations, Senin (15/6/2026).

Ancaman yang bertumpuk

Untuk pertama kalinya, laporan ini menunjukkan dengan tepat di mana saja dan seberapa parah ancaman-ancaman iklim yang saling bertumpuk ini memengaruhi anak-anak, serta merusak fasilitas sosial penting yang mereka butuhkan. Laporan ini juga menjelaskan langkah nyata yang bisa diambil oleh pemerintah untuk mengatasinya.

Baca juga: WHO: 1,5 Juta Orang Meninggal per Tahun akibat Makanan Tidak Sehat, Anak Paling Rentan

Hampir setiap anak di dunia saat ini menghadapi setidaknya satu bahaya iklim. Bahkan, lebih dari empat juta anak terancam menghadapi hingga enam bahaya iklim sekaligus yang terjadi bersamaan.

Laporan ini menggunakan data terbaru untuk memetakan wilayah anak-anak yang terkena dampak dari delapan jenis bahaya iklim yang paling sering terjadi, yaitu banjir rob, kekeringan, suhu panas ekstrem, kebakaran, gelombang panas, banjir luapan sungai, serta badai pasir, debu, dan badai tropis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 296 juta anak hidup di daerah yang terkena tiga kondisi bahaya tersebut secara bersamaan. Sementara itu, kombinasi bahaya kedua yang paling sering terjadi yaitu kekeringan, suhu panas ekstrem, dan badai tropis membuat lebih dari 115 juta anak di seluruh dunia harus menghadapi ancaman yang bertumpuk ini.

Selain menganalisis delapan bahaya iklim yang paling sering terjadi, laporan ini juga memeriksa risiko polusi udara dan penyakit malaria bagi anak-anak. Kedua risiko ini merupakan ancaman yang sangat sensitif terhadap dampak perubahan iklim.

Data menunjukkan bahwa polusi udara kini memengaruhi hampir setiap anak di seluruh dunia. Di saat yang sama, ada satu miliar anak yang terancam terkena malaria. Hal ini menambah daftar bahaya baru bagi anak-anak yang sebenarnya sudah harus menghadapi berbagai bencana iklim lainnya.

Laporan tersebut memperingatkan bahwa jika tidak ada tindakan tegas dan cepat untuk mengurangi emisi gas rumah kaca maka bencana iklim akan menjadi lebih sering terjadi dan semakin parah. Kondisi ini akan semakin membebani anggaran dan sistem pemerintahan, sekaligus mengancam keselamatan serta kesejahteraan anak-anak.

Wilayah paling terdampak

Salah satu wilayah yang terkena dampak paling parah adalah kawasan Sahel di Afrika. Di sana, lebih dari empat juta anak harus menghadapi tiga ancaman sekaligus, yaitu gelombang panas, suhu panas ekstrem, serta badai pasir dan debu.

Sementara itu, anak-anak di negara-negara Asia, termasuk Bangladesh, Myanmar, dan Pakistan, menghadapi lebih banyak jenis bencana iklim dalam satu waktu dengan kondisi yang jauh lebih parah dibandingkan wilayah lain mana pun di dunia.

Negara-negara kaya pun tidak kebal dari masalah ini. Data menunjukkan bahwa di Italia, lebih dari enam juta anak terancam oleh gelombang panas yang berkepanjangan dan kekeringan.

Baca juga: Batasi Medsos Dinilai Tak Efektif, PBB Desak Platform Lebih Aman untuk Anak

Namun, Italia menjadi contoh bagaimana investasi atau modal yang ditanamkan untuk program penyelamatan lingkungan bisa mengurangi sebagian risiko yang dihadapi anak-anak. Hal ini sekaligus mengingatkan bahwa tindakan yang lebih kuat tetap sangat dibutuhkan karena krisis iklim terus memburuk.

Untuk melindungi hak-hak anak dari ancaman iklim dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang terus terjadi, UNICEF mendesak pemerintah, dunia usaha, dan pihak-pihak terkait untuk mengambil tindakan tegas mengurangi polusi udara, melindungi anak-anak dengan mengutamakan perbaikan fasilitas sosial seperti puskesmas dan sekolah.

Selain itu juga pastikan fasilitas penting tersebut masuk ke dalam rencana anggaran, aturan hukum, serta persiapan siaga bencana di setiap negara.

Tak hanya itu, PBB juga mengungkapkan perlunya dukungan bagi anak-anak dan remaja untuk ikut serta dalam aksi peduli lingkungan. Caranya adalah dengan mendanai pendidikan tentang iklim, memberikan ilmu dan keterampilan baru, serta melatih para pejabat pemerintah agar mau mendengar pendapat, menghargai kebebasan berbicara, dan melibatkan anak-anak dalam setiap keputusan yang memengaruhi masa depan hidup mereka.

"Analisis ini bisa membantu pemerintah dan para pengambil keputusan untuk membuat rencana yang lebih baik dan menggunakan anggaran secara lebih hemat untuk membangun fasilitas yang kuat," ungkap Russell.

"Ketika kita memperkuat sistem kesehatan, sekolah, dan membangun fasilitas umum dengan memikirkan kebutuhan anak-anak, kita tidak hanya melindungi mereka dari bahaya iklim hari ini, tetapi juga ikut menyelamatkan masa depan mereka," tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dampak Perubahan Iklim: Kedelai Bisa Tumbuh Lebih Besar tapi Kurang Bergizi
Dampak Perubahan Iklim: Kedelai Bisa Tumbuh Lebih Besar tapi Kurang Bergizi
Pemerintah
Lestari Summit 2026, Hadirkan Isu Keberlanjutan yang Dekat dengan Masyarakat
Lestari Summit 2026, Hadirkan Isu Keberlanjutan yang Dekat dengan Masyarakat
Swasta
Penggemar Piala Dunia Kini Lebih Pilih Produk Ramah Lingkungan
Penggemar Piala Dunia Kini Lebih Pilih Produk Ramah Lingkungan
Pemerintah
Komitmen Lingkungan Perusahaan Terbesar Dunia Naik Tiga Kali Lipat Sejak 2019
Komitmen Lingkungan Perusahaan Terbesar Dunia Naik Tiga Kali Lipat Sejak 2019
Pemerintah
ISO Rilis Draf Panduan Net Zero untuk Perusahaan Sedunia
ISO Rilis Draf Panduan Net Zero untuk Perusahaan Sedunia
Pemerintah
Tempat Kerja Inklusif dan Berkelanjutan semakin Diperhatikan Korporasi
Tempat Kerja Inklusif dan Berkelanjutan semakin Diperhatikan Korporasi
Swasta
Terbitkan Sustainability Report 2025, TelkomGroup Perkuat Integrasi ESG dalam Transformasi Bisnis
Terbitkan Sustainability Report 2025, TelkomGroup Perkuat Integrasi ESG dalam Transformasi Bisnis
BrandzView
WVI Kampanyekan Water fo Timor, Dekatkan Akses Air Bersih dan Sanitasi di NTT
WVI Kampanyekan Water fo Timor, Dekatkan Akses Air Bersih dan Sanitasi di NTT
LSM/Figur
60 Persen Lembaga Keuangan Terkemuka di Dunia Abaikan Risiko Deforestasi
60 Persen Lembaga Keuangan Terkemuka di Dunia Abaikan Risiko Deforestasi
Pemerintah
Mayoritas Bos Perusahaan RI Akui Elektrifikasi Dongkrak Daya Saing Bisnis
Mayoritas Bos Perusahaan RI Akui Elektrifikasi Dongkrak Daya Saing Bisnis
LSM/Figur
MagnaMinds Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Perkuat Pendidikan Inklusif di Sulawesi Utara
MagnaMinds Dorong Kolaborasi Lintas Sektor untuk Perkuat Pendidikan Inklusif di Sulawesi Utara
Swasta
Bebani Listrik, Pusat Data di Asia Pasifik Kini Diperketat
Bebani Listrik, Pusat Data di Asia Pasifik Kini Diperketat
Pemerintah
Perempuan Pesisir Kehilangan Pekerjaan akibat Perubahan Iklim
Perempuan Pesisir Kehilangan Pekerjaan akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
BPOM dan PYFA Kolaborasi Kejar 'Net Zero Carbon', Hubungkan Kesehatan Manusia dan Bumi
BPOM dan PYFA Kolaborasi Kejar "Net Zero Carbon", Hubungkan Kesehatan Manusia dan Bumi
Swasta
Kita Salah Menghitung Risiko
Kita Salah Menghitung Risiko
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau