Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

NTT Optimistis Persentase Anak Stunting Turun di Bawah Target Nasional

Kompas.com, 17 Mei 2023, 22:55 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

Di sisi lain, Ruth menuturkan bahwa berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) NTT, persentase anak stunting di provinsi tersebut ditargetkan 12 persen pada 2023.

Dia optimistis target RPJMD tersebut dapat tercapai mengingat penurunan anak stunting di NTT rata-rata 4,4 persen setiap tahunnya.

Apalagi, NTT juga mendapatkan berbagai bantuan dari berbagai pihak dan sejumlah lembaga kemanusiaan untuk menurunkan angka stunting di sana.

Baca juga: Kepala BKKBN: Angka Stunting di Indonesia Turun Jadi 21,6 Persen

“Kami sedang berusaha untuk penanganan (kasus) anak-anak balita gizi kurang, gizi buruk, berat badan tidak naik. Stunting baru tidak boleh ada, stunting lama bisa dibantu keluar dari statusnya,” ujar Ruth.

Berdasarkan status gizinya, anak stunting di NTT 81,3 persen mengonsumsi karbohidrat. Akan tetapi dari persentase tersebut, 87,7 persennya mengonsumsi karbohidrat dengan porsi yang kurang dari kebutuhan.

58,6 persen balita stunting di NTT sudah mengonsumsi protein hewani. Dari persentase itu, 10,4 persen di antaranya mengonsumsi protein hewani dengan porsi yang masih kurang dari kebutuhan.

Di sisi lain, sebanyak 75,4 persen anak stunting di NTT tidak mengkonsumsi lauk nabati.

Baca juga: Atasi Stunting, Pemkab Nunukan Kucurkan APBD Bantuan Makanan Bergizi

Koordinasi lintas sektor

Dinas Kesehatan, Kependudukan, dan Pencatatan Sipil Provinsi NTT menangani anak stunting dengan berbagai intervensi serta kampanye makanan bergizi.

Contoh dari intervensi yang dilakukan adalah pemberian edukasi dan suplemen untuk ibu menyusui dan balita, pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil kurang energi kronik (KEK), intervensi spesifik untuk bayi gizi buruk dan gizi kurang, hingga kampanye aksi bergizi bagi remaja putri.

Ruth menyampaikan, Pemerintah Provinsi NTT menggelar rapat koordinasi sebanyak dua kali dalam setahun dengan melibatkan bupati atau wali kota se-provinsi dan OPD terkait untuk aksi penanganan stunting.

Ruth menuturkan, 30 persen penanganan stunting dilakukan oleh Dinas Kesehatan, Kependudukan, dan Pencatatan Sipil Provinsi NTT seperti program intervensi, kampanye makanan bergizi, pemantauan timbangan balita, dan lain-lain.

Sisanya, yaitu 70 persen, adalah strategi pencegahan sensitif yang bisa dilakukan oleh organisasi perangkat daerah (OPD) atau pihak lain yang ingin membantu. Maka, penanganan stunting memang memerlukan koordinasi lintas sektor.

Baca juga: Ribuan Anak di Kota Jayapura Menderita Stunting

“70 persen sisanya namanya strategi pencegahan sensitif. Salah satunya air bersih, tidak boleh buang air besar (BAB) sembarangan, pangan harus untuk anak-anak. Nah itu dilakukan oleh OPD yang lain,” ujar Ruth.

“Sehingga saya sampaikan, rapat koordinasi yang dipimpin langsung gubernur mengatasi hal-hal ini,” sambungnya.

Dia mencontohkan, daerah dengan jumlah anak stunting yang banyak akan diberikan sejumlah bantuan dari OPD atau pihak lain sepeti bibit sayur, ternak, ternak kecil, ternak besar, prioritas untuk pembangunan air bersih, dan pembangunan jamban layak.

Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Percepatan Penanganan dan Pencegahan Stunting Provinsi NTT Sarah Lery Mboeik mengatakan bahwa air bersih dan sanitasi dan layak juga penting untuk menyelesaikan stunting.

Sarah mencontohkan, di Kota Kupang, penyebab stunting selain kemiskinan adalah anak-anak yang cacingan.

Sehingga, ketika makanan yang masuk ke tubuh, gizinya semakin berkurang. “Penyebab cacingan karena sanitasi buruk dan pasokan air bersih yang kurang,” ujar dia sebagaimana dilansir Kompas.com, 3 April 2023.

Baca juga: Dinkes Sebut 20,65 persen Anak di Kota Jayapura Alami Stunting

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Petani Hortikultura Skala Kecil Perlu Konsolidasi untuk Perkuat Daya Saing
Pemerintah
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
PBB: Perang Besar Jadi Ancaman Global Paling Ditakuti Masyarakat Dunia
Pemerintah
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Laporan Sumber Daya Air Global: Benua di Seluruh Dunia Makin Mengering
Pemerintah
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
BRIN Dorong Varietas Tanaman Tahan Banjir, Kekeringan hingga Salinitas
LSM/Figur
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Perkuat Bisnis, Perusahaan Genjot Pengeluaran untuk Adaptasi Iklim
Pemerintah
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk 'Urban Farming' Tanaman Anggur
Kisah Warga Setu Olah Sampah Organik untuk "Urban Farming" Tanaman Anggur
LSM/Figur
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Menjadi Ruang Tumbuh Anak Pekerja, Begini Peran SD YPTSS di Solok Selatan
Swasta
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
UNTR Menjaga Asa Anak-anak Pedalaman Kalimantan melalui Pendidikan dan Pemberdayaan
Swasta
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
PT Vale Perkuat Hilirisasi Nikel Sekaligus Dekarbonisasi dengan Energi Bersih
BUMN
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
PLTS Bukan Satu-satunya, UNTR Jawab Tantangan ESG dengan Diversifikasi Bisnis
Swasta
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Tantangan Data Cuaca, Negara Miskin Hadapi Akurasi Prediksi yang Rendah
Pemerintah
Studi: Rating ESG Tak Gambarkan Deforestasi Akibat Ulah Perusahaan
Studi: Rating ESG Tak Gambarkan Deforestasi Akibat Ulah Perusahaan
Pemerintah
Jejak Karier Wahidah di Balik Kendali Ekskavator Perkebunan Solok Selatan
Jejak Karier Wahidah di Balik Kendali Ekskavator Perkebunan Solok Selatan
Swasta
Perempuan di Balik Aktivitas Lapangan Perkebunan Sawit Solok Selatan
Perempuan di Balik Aktivitas Lapangan Perkebunan Sawit Solok Selatan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau