Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PPA Institute Jadikan Bioskop sebagai Mimbar Dakwah Pengembangan Diri

Kompas.com, 18 Juni 2023, 12:00 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com – Bioskop selama ini merupakan tempat hiburan untuk menonton karya sinematik dari berbagai negara.

Namun oleh PPA Institute, lembaga training berbasis ilmu-ilmu Al Qur’an dan hadist, bioskop dijadikan sebagai salah satu tempat dakwah dalam menyampaikan ajaran-ajaran Islam, khususnya pembangunan karakteristik.

Menurut Co-founder PPA Institute Sonny Abi Kim, yang baru-baru ini menyelenggarakan seminar bertema Surrender di CGV Cirebon, menyampaikan nilai agama tidak melulu harus di masjid atau rumah ibadah.

Bahkan, tempat-tempat yang menjadi area publik pun bisa dijadikan “mimbar” selama tidak mengganggu kepentingan orang lain.

Bioskop menjadi pilihan karena tempat ini lebih ekslusif dan nyaman untuk mengadakan pelatihan pengembangan diri.

Baca juga: Gandeng Dua Pemkab di Jambi, Tanoto Foundation Tingkatkan Kualitas Pendidikan Dasar

Di kota-kota besar seperti New York, lanjut Sonny, orang bebas berdakwah di area publik bahkan di trotoar jalan. Mereka membagikan Al Qur’an dengan gratis, melakukan tanya jawab di jalan, bahkan kadang berdebat.

"Kami memilih bioskop karena tempat ini cocok untuk semua kalangan, dan ini adalah pendekatan yang berbeda bagi dunia pengembangan diri,” ungkapnya.

Surrender sendiri merupakan buku terbaru dari PPA Institute yang ditulis oleh Sonny Abi Kim. Sesuai dengan judulnya, buku ini mengajak pembacanya untuk menempuh langkah “berserah” yang bisa mengundang keajaiban.


“Berserah itu bukan menyerah dengan keadaan, justru sebaliknya, orang yang berserah kepada Allah tidak akan menyerah terhadap apapun. Berserah adalah upaya aktif, bukan pasif,” imbuhnya.

Berdasarkan pengalamannya sebagai pegiat dakwah, Sonny mengatakan, persoalan yang dihadapi masyarakat biasanya jarang akan menemukan titik temu sebelum mereka mengkondisikan hati dan pikirannya untuk berserah.

Baca juga: Tingkatkan Fasilitas Pendidikan di Bantar Gebang, Mandiri Sekuritas Salurkan Donasi Rp 50 Juta

“Kita sering melawan takdir, menolak nasib buruk yang menimpa kita. Padahal, semua itu terjadi atas izin Allah. Jika kita ridho dengan sesuatu yang menyenangkan dalam hidup kita, harusnya kita juga ridho dengan sesuatu yang tidak nyaman yang menimpa kita, karena dua-duanya terjadi atas kehendak Allah," tuturnya.

Mengundang pertolongan langit, bisa dipercepat dengan berserah diri terlebih dulu kepada ketetapan Allah.

“Jangan berontak, mengeluh, sedih yang berlebihan karena itu menandakan kita tidak ridho dengan takdir Allah. Cukup menerima dulu, legowo, maka pertolongan Allah pasti akan segera hadir," kata Sonny.

Sonny menegaskan, tauhid adalah jalan keluar dalam mengatasi depresi akibat persoalan-persoalan hidup.

Berdasarakan data badan dunia WHO tahun 2019, rasio bunuh diri di Indonesia mencapai 2,4 per 100.000 penduduk. Artinya, dari 100 ribu penduduk, 2 di antaranya melakukan bunuh diri.

Indonesia adalah negara mayoritas muslim terbesar di dunia. Artinya, dengan rasio seperti ini, tugas semua sebagai penyeru kebaikan belumlah selesai karena masih ada orang yang menganggap bunuh diri sebagai solusi untuk menyelesaikan permasalahan hidup.

"Di sinilah kami hadir, memberikan solusi praktis melalui pendekatan tauhid, karena ada energi besar dibalik rasa ketidakberdayaan di hadapan Allah,” tutupnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau