Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kemiskinan Ekstrem Terkonsentrasi di Indonesia Timur

Kompas.com, 24 Agustus 2023, 10:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com – Jumlah penduduk yang masuk kategori miskin ekstrem di Indonesia tercatat 3,3 juta jiwa dan terkonsentrasi di bagian timur.

Hal tersebut diutarakan Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesejahteraan Sosial Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Nunung Nuryartono.

Nunung menyampaikan, perlu penanganan khusus untuk mengatasi kemiskinan ekstrem, sebagaimana dilansir Antara.

Baca juga: Kemiskinan Ekstrem Diyakini Hilang pada 2024

“Tentu kita bisa melihat, persentase angka kemiskinan ekstrem yang tinggi ini di Indonesia bagian timur, sehingga perlu penanganan yang khusus,” ujar Nunung di Jakarta, Rabu (23/8/2023).

Untuk pulau Jawa, meski persentasenya kemiskinan ekstrem kecil, jumlah penduduk yang tinggi membuat angka absolut menjadi tinggi. Namun, dia tidak menyebut secara rinci besarannya.

Oleh karenanya, sasaran program penanganan kemiskinan ekstrem tidak hanya berfokus pada provinsi yang tingkat kemiskinannya tinggi, tetapi wilayah yang angka absolut penduduk miskinnya juga tinggi.

“Jadi, sasaran-sasaran di wilayah dengan persentase tinggi dan secara absolut jumlah penduduknya tinggi,” papar Nunung.

Baca juga: Sekoper Cinta Kurangi Kemiskinan 300.000 Orang di Jawa Barat

Dia optimistis bahwa pada 2024 persentase kemiskinan ekstrem bisa mencekati nol koma sekian.

Persentase kemiskinan ekstrem pada Maret 2022 mencapai 2,04 persen. Pada September 2022, persentasenya menjadi 1,74 persen.

Pada Maret 2023, persentase kemiskinan ekstrem turun lagi menjadi 1,12 persen dibandingkan September 2022.

Merujuk pada data tersebut, dia optimistis angka kemiskinan akan berada di angka nol persen pada 2024.

Baca juga: Masih Adanya Kemiskinan Ekstrem Tunjukkan Masalah Penyaluran Bansos

Sebelumnya, Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR Said Abdullah meyakini kemiskinan ekstrem di Indonesia akan hilang alias 0 persen pada 2024.

Said menuturkan, pada 2022 persentase kemiskinan ekstrem di Indonesia sudah 2,04 persen, sebagaimana dilansir Antara, Rabu (16/8/2023).

“Artinya kalau bisa 1,6 persen atau 1,5 persen (pada 2023), maka saya yakin tahun 2024, kemiskinan ekstrem bisa 0 persen,” ujar Said seusai Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI Tahun 2023 di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta.

Baca juga: Wujudkan Desa Tanpa Kemiskinan dan Kelaparan Melalui SDGs

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Bisakah Kebun Kelapa Sawit Jadi Hutan Lagi? Ini Penjelasan KLH Soal Reforestasi
Bisakah Kebun Kelapa Sawit Jadi Hutan Lagi? Ini Penjelasan KLH Soal Reforestasi
Pemerintah
Ini Negara dengan Kualitas Udara Terburuk di Dunia 2025, Ada Pakistan
Ini Negara dengan Kualitas Udara Terburuk di Dunia 2025, Ada Pakistan
LSM/Figur
AI Bantu Perluasan dan Perawatan Ruang Terbuka Hijau di Kota
AI Bantu Perluasan dan Perawatan Ruang Terbuka Hijau di Kota
LSM/Figur
Hadapi Suhu Ekstrem, Inggris Bentuk Komisi Khusus Risiko Panas
Hadapi Suhu Ekstrem, Inggris Bentuk Komisi Khusus Risiko Panas
Pemerintah
Hanya 14 Persen Wilayah di Dunia yang Punya Udara Sehat Sesuai Pedoman WHO
Hanya 14 Persen Wilayah di Dunia yang Punya Udara Sehat Sesuai Pedoman WHO
LSM/Figur
Migrasi Ikan Global Dilaporkan Turun Drastis, Populasinya Anjlok 81 Persen
Migrasi Ikan Global Dilaporkan Turun Drastis, Populasinya Anjlok 81 Persen
LSM/Figur
Suhu Air Laut yang Naik Picu Gelombang Panas Ekstrem di Darat
Suhu Air Laut yang Naik Picu Gelombang Panas Ekstrem di Darat
LSM/Figur
Mikroba Tentukan Masa Depan Iklim, Bisa Lepaskan Karbon Purba
Mikroba Tentukan Masa Depan Iklim, Bisa Lepaskan Karbon Purba
LSM/Figur
Tanaman Hias Bikin Ruangan Lebih Sejuk, Ini Alasannya
Tanaman Hias Bikin Ruangan Lebih Sejuk, Ini Alasannya
LSM/Figur
Bumi Catat Rekor Panas Ekstrem Tahun 2025, PBB Ingatkan Dampaknya
Bumi Catat Rekor Panas Ekstrem Tahun 2025, PBB Ingatkan Dampaknya
Pemerintah
Ada Kapal Pesiar Bertenaga Hidrogen Pertama di Dunia, Seperti Apa?
Ada Kapal Pesiar Bertenaga Hidrogen Pertama di Dunia, Seperti Apa?
LSM/Figur
Perusahaan Fesyen Ini Tetapkan Target Berbasis Sains untuk Kurangi Dampak Lingkungan pada Lahan
Perusahaan Fesyen Ini Tetapkan Target Berbasis Sains untuk Kurangi Dampak Lingkungan pada Lahan
Swasta
Industri Pakaian Disebut Terlalu Lamban Kurangi Emisi Karbon
Industri Pakaian Disebut Terlalu Lamban Kurangi Emisi Karbon
LSM/Figur
Hiu di Bahama Positif Mengandung Kokain dan Kafein, Diduga akibat Ulah Manusia
Hiu di Bahama Positif Mengandung Kokain dan Kafein, Diduga akibat Ulah Manusia
LSM/Figur
Teknologi Lapangan Tenis Ramah Lingkungan, Bisa Jadi Penyerap Karbon
Teknologi Lapangan Tenis Ramah Lingkungan, Bisa Jadi Penyerap Karbon
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau