Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 19/09/2023, 06:00 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang tidak dikelola dengan baik, dapat menimbulkan kerugian baik dari sisi kerusakan ekosistem, terganggunya kegiatan perekonomian hingga mengancam kesehatan manusia seperti gangguan sistem saraf, pencernaan, pernapasan dan organ vital lainnya.

Berdasarkan data pelaporan Sistem Informasi Ditjen PSLB3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) timbulan limbah B3 yang tercatat pada tahun 2023 mencapai 39,3 juta ton.

Sebesar 84 persen atau sekitar 33 juta ton dari limbah B3 tersebut telah dikelola lebih lanjut. Sedangkan 24 persen lainnya telah dimanfaatkan untuk bahan bakar dan bahan baku alternatif untuk substitusi bahan baku industri 1.

Guna mendukung program pemerintah dalam pengelolaan limbah B3, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI), bagian dari SIG melalui divisi pengelolaan limbah Nathabumi, melakukan proses pengelolaan limbah B3, salah satunya dengan kegiatan pemulihan lahan tercemar limbah B3 di seluruh Indonesia.

Baca juga: Limbah Cair Sawit, Pencemar Lingkungan yang Berpotensi Jadi Sumber Energi Terbarukan

Kegiatan ini sejalan dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Direktur Utama SBI Lilik Unggul Raharjo menuturkan SBI memiliki pengalaman dengan berbagai mitra perusahaan dan berperan aktif dalam proses pemulihan lahan terkontaminasi dengan memperhatikan aspek regulasi dan keselamatan kerja.

Menurut Lilik, SBI juga berperan langsung dalam tahap pelaksanaan sesuai dengan kapabilitas yang dimiliki, yaitu dengan melakukan site clearing dan striping.

"Kemudian, melakukan treatment pada limbah B3 serta pengangkutan ke pabrik semen untuk kemudian dimanfaatkan sebagai bahan bakar dan material alternatif melalui metode co-processing di fasilitas tanur semen”, papar Lilik saat Festival LIKE yang diadakan KLHK pada Sabtu (16/9/2023).

Baca juga: Daur Ulang Limbah Elektronik Lebih Rumit, Tapi Cuannya Segudang

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut yang selaras dengan prinsip sustainable development yang tertuang dalam SBI Sustainability Road Map 2030 pada pilar ekonomi yaitu penyediaan solusi berupa produk dan jasa yang mampu mengatasi permasalahan lingkungan.

Selain itu, pemanfaatan limbah B3 sebagai bahan bakar dan material alternatif oleh pabrik semen merupakan salah satu perwujudan komitmen SBI dalam ekonomi sirkular.

Komitmen SBI dalam Pemulihan Lingkungan 

Dalam menjalankan operasinya, SBI terus berinovasi dan berkomitmen dalam usaha pemulihan lingkungan. Dengan prinsip ekonomi sirkular, SBI memelopori pemanfaatan Refuse-Derived Fuel (RDF), limbah industri dan biomassa untuk subtitusi batu bara yang membantu penurunan emisi karbon pada proses produksi semen.

Hingga akhir 2022, SBI melalui unit usaha Nathabumi mampu melakukan pengelolaan limbah sebesar total 800.000 ton menjadi bahan bakar dan bahan baku alternatif.

Melayani lebih dari 600 perusahaan dari beragam industri termasuk industri minyak dan gas, FMCG, otomotif, manufaktur sepatu, bahan kimia, bubur kertas dan kertas.

Baca juga: Ubah Limbah Tongkol Jagung Jadi Energi, Pabrik Biogas Dibangun di Lombok

Pemanfaatan limbah menjadi bahan bakar alternatif ini mampu menggantikan penggunaan batu bara hingga 11,73 persen substitusi energi panas atau thermal substitution rate (TSR).

Selain pemulihan lingkungan dengan pengelolaan timbulan limbah, SBI juga berkontribusi dalam upaya perlindungan lapisan ozon untuk meminimalkan dampak pemanasan global menggunakan fasilitas pemusnah bahan perusak ozon (BPO).

Fasilitas yang juga dioperasikan oleh Nathabumi ini telah berhasil memusnahkan total 100.15 ton BPO dan mencegah pelepasan Gas Rumah Kaca yang setara dengan 220.914 ton CO2 ke atmosfer sejak 2007 hingga semester I-2023.

Hal ini merupakan langkah nyata dari komitmen SBI dalam menjaga lingkungan agar tetap lestari dan tetap layak dihuni untuk generasi mendatang.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Aliansi Perbankan Net Zero Hentikan Kegiatan Sementara
Aliansi Perbankan Net Zero Hentikan Kegiatan Sementara
Swasta
Paparan Logam dan Sulfat dalam Polusi Udara Berpotensi Tingkatkan Risiko Asma
Paparan Logam dan Sulfat dalam Polusi Udara Berpotensi Tingkatkan Risiko Asma
LSM/Figur
Tata Kelola Mangrove Perlu Terintegrasi dengan Tambak
Tata Kelola Mangrove Perlu Terintegrasi dengan Tambak
LSM/Figur
Krisis Iklim Makin Parah,  WALHI Desak Revisi UU Kehutanan Berparadigma Keadilan Ekologis
Krisis Iklim Makin Parah, WALHI Desak Revisi UU Kehutanan Berparadigma Keadilan Ekologis
LSM/Figur
Pesimis Kualitas Udara Jakarta Membaik, Menteri LH Ungkap Sumber Masalahnya
Pesimis Kualitas Udara Jakarta Membaik, Menteri LH Ungkap Sumber Masalahnya
Pemerintah
Badak di Kalimantan Timur Sisa Dua, Kemenhut Siapkan Induk Pengganti
Badak di Kalimantan Timur Sisa Dua, Kemenhut Siapkan Induk Pengganti
Pemerintah
Sudah Saatnya Penyelenggara Event Lebih Sustainable
Sudah Saatnya Penyelenggara Event Lebih Sustainable
Swasta
Studi Jawab Polemik Dampak Kebisingan Turbin Angin pada Manusia
Studi Jawab Polemik Dampak Kebisingan Turbin Angin pada Manusia
LSM/Figur
Produksi Daging Sapi di Brasil Picu Kenaikan Emisi Metana
Produksi Daging Sapi di Brasil Picu Kenaikan Emisi Metana
Pemerintah
Menteri LH: Banyak Produsen AMDK Pakai Air Tanah, Konservasi Cuma Mantra
Menteri LH: Banyak Produsen AMDK Pakai Air Tanah, Konservasi Cuma Mantra
Pemerintah
Laut Asam Melemahkan Gigi Hiu, Ancaman Baru bagi Predator Puncak
Laut Asam Melemahkan Gigi Hiu, Ancaman Baru bagi Predator Puncak
Pemerintah
'Circularity Tour', Aqua Libatkan Pelari Maybank Marathon dalam Aksi Lingkungan dan Ekonomi Sirkular
"Circularity Tour", Aqua Libatkan Pelari Maybank Marathon dalam Aksi Lingkungan dan Ekonomi Sirkular
Swasta
Alarm Punah! Badak Jawa Diprediksi Hilang 50 Tahun Lagi, Translokasi Jadi Jalan
Alarm Punah! Badak Jawa Diprediksi Hilang 50 Tahun Lagi, Translokasi Jadi Jalan
Pemerintah
Hampir 80 Persen Hiu Paus di Lokasi Wisata Luka Akibat Ulah Manusia
Hampir 80 Persen Hiu Paus di Lokasi Wisata Luka Akibat Ulah Manusia
Pemerintah
Penelitian Lebih dari Satu Dekade Ungkap Populasi Hiu Paus di Papua
Penelitian Lebih dari Satu Dekade Ungkap Populasi Hiu Paus di Papua
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau