Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 26 November 2023, 07:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Editor

KOMPAS.com - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) memperkirakan, pembangunan rendah karbon untuk mewujudkan ekonomi hijau dapat menciptakan 15,3 juta pekerjaan baru.

Deputi Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan Bappenas Maliki mengatakan, pembangunan rendah karbon bisa menciptakan belasan juta lapangan kerja hijau atau green jobs sampai 2045.

"Ini merupakan kesempatan baik bagi kita," kata Maliki dalam Indonesia's Green Jobs Conference 2023 di Jakarta, Jumat (24/11/2023) sebagaimana dilansir Antara.

Baca juga: Mayoritas Mahasiswa Kurang Familiar Dampak Pekerjaan Hijau, Butuh Sosialisasi Masif

Potensi pekerjaan hijau yang begitu besar dan jumlah angkatan kerja yang cukup banyak di Indonesia harus mampu dioptimalkan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan ekonomi hijau.

Namun, peluang peningkatan pekerjaan hijau tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya yakni sumber daya manusia (SDM) yang didominasi lulusan SMP ke bawah.

Tantangan lainnya yaitu ketidaksesuaian keahlian antara lulusan pendidikan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja dan informasi pasar tenaga kerja juga masih belum menjadi intelijen pasar kerja yang baik.

Selain itu, pasar kerja Indonesia belum mampu merespons perubahan cepat jenis lapangan kerja, kebutuhan keahlian, struktur pendidikan serta pola budaya kerja, serta industri yang belum menerapkan prinsip berkelanjutan menyebabkan penciptaan lapangan kerja hijau belum tumbuh pesat.

Baca juga: Green Jobs, Bidang Pekerjaan Layak yang Menjawab Masalah Lingkungan

"Peningkatan kapasitas SDM Indonesia sudah selayaknya harus diikuti dengan semangat keberlanjutan di dalam menjaga lingkungan yang lestari," ujar Maliki.

Maliki menyampaikan, Kementerian PPN/Bappenas berkomitmen untuk memimpin dan terus mengawal perjalanan promosi pekerjaan hijau tersebut.

Dalam mengawal pekerjaan hijau, Maliki menyampaikan Kementerian PPN/Bappenas didukung proyek kerja sama Indonesia dan Jerman, Innovation and Investment for Inclusive Sustainable Economic Development (ISED).

Proyek tersebut mempromosikan pentingnya mencetak SDM berkualitas, produktif, dan berdaya saing dalam mendorong pertumbuhan ekonomi hijau dan mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.

Baca juga: 1 Juta Pekerjaan Batu Bara Bakal Lenyap pada 2050

Pengembangan pekerjaan hijau di Indonesia melalui proyek ISED diimplementasikan dengan kolaborasi lintas sektor.

Implementasi lainnya adalah menyusun definisi pekerjaan hijau dalam konteks lokal, dua Peta Okupasi, Peta Jalan Pengembangan SDM yang Mendukung Pekerjaan Hijau, serta kebijakan yang menjadi pedoman implementasi.

Contoh pekerjaan hijau yang dimaksud seperti inspektor bidang pertanian dan tanaman organik di bidang pertanian, spesialis bangunan hijau di bidang konstruksi, dan green productivity master specialist di bidang manufaktur.

Baca juga: 14 Juta Pekerjaan Diprediksi Hilang Lima Tahun Mendatang

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau