BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Home Credit

5 Kegiatan Berkelanjutan sembari Menunggu Berbuka Puasa

Kompas.com, 20 Maret 2024, 16:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Ramadhan adalah bulan yang penuh keberkahan dan ditunggu-tunggu semua umat muslim di seluruh dunia.

Selama Ramadhan pula, umat muslim diperintahkan untuk berpuasa mulai dari terbitnya fajar hingga matahari tenggelam.

Ketika sore, waktu menunggu berbuka puasa bisa kita manfaatkan untuk melakukan kegiatan berkelanjutan yang ramah lingkungan.

Kegiatan berkelanjutan tersebut bisa kita lakukan dari sampah rumahan yang kita hasilkan untuk menjadi sesuatu yang lebih berguna dan dapat membantu upaya pelestarian alam.

Dilansir dari berbagai sumber, berikut lima contoh kegiatan berkelanjutan yang bisa kita lakukan sembari menunggu waktu berbuka puasa.

Baca juga: Jalani Ramadhan Hijau, Ini Tips Kurangi Food Waste Selama Puasa

1. Membuat ecobrick

Siswa SMA Katolik Hikmah Mandala sedang membuat huruf yang terbuat dari rangkaian ecobrick, yaitu penanganan sampah plastik dengan menguncinya di dalam botol plastik bekas, Rabu (21/2/2018).KOMPAS.com/Ira Rachmawati Siswa SMA Katolik Hikmah Mandala sedang membuat huruf yang terbuat dari rangkaian ecobrick, yaitu penanganan sampah plastik dengan menguncinya di dalam botol plastik bekas, Rabu (21/2/2018).

Salah satu kegiatan untuk menunggu waktu berbuka puasa contohnya adalah membuat ecobrick.

Ecobrick adalah bata yang ramah lingkungan yang terbuat dari limbah plastik. Ecobrick terbuat dari plastik, berwujud botol plastik dengan isian berbagai macam sampah plastik hingga penuh dan padat.

Bahan yang diperlukan untuk membuat ecobrick berupa botol plastik bekas, berbagai jenis sampah plastik, tongkat kayu, dan gunting.

Cara membuatnya sangat sederhana yaitu potong-potong berbagai jenis sampah plastik menjadi kecil, lalu dimasukkan ke dalam botol plastik bekas hingga padat.

Ecobrick berfungsi bukan sebagai penghancur sampah plastik, melainkan memperpanjang usianya dan mengolahnya menjadi sesuatu yang berguna yang bisa dipergunakan lagi untuk kepentingan manusia.

Ecobrick bisa dipakai sebagai alternatif batu bata atau dirangkai menjadi benda-benda lain seperti meja, kursi sederhana, menara, panggung kecil, dan lain-lain.

Baca juga: Olahraga Tetap Disarankan Saat Puasa, Ini Jenis dan Waktu yang Tepat

Membuat lubang biopori

ilustrasi lubang drainase di halaman rumahSHUTTERSTOCK/ANI FATHUDIN ilustrasi lubang drainase di halaman rumah

Sampah organik dari rumah bisa diolah menjadi hal yang bermanfaat bahkan bisa memiliki nilai ekonomis.

Sampah organik juga bisa menjadi sumber resapan air guna menangkal banjir atau genangan saat hujan datang.

Metode menjadikan sampah sebagai resapan adalah dengan cara membuat lubang biopori. Upaya ini cocok dilakukan di kawasan rawan banjir.

Caranya cukup sederhana yaitu melubangi tanah dengan kedalaman sekitar 1 meter dan diameter 30 sentimeter (cm) hingga 40 cm.

Setelah itu, masukkan pipa PVC seukuran diameter lubang. Isi lubang biopori dengan sampah organik rumahan. Kemudian tutup lubang dengan kawat besi.

Tidak hanya satu, lubang biopori bisa dibuat di beberapa tempat dan diisi dengan sampah organik lainnya.

Sampah organik di dalam biopori bisa berubah menjadi kompos selama tiga bulan. Setelah tiga bulan, ambil kompos yang sudah jadi kemudian isi ulang lubang biopori.

Baca juga: Puasa Bisa Kurangi Gejala Maag dan GERD, Asal Jaga Jenis Makanan

Membuat eco-enzyme

Ilustrasi eco-enzyme.SHUTTERSTOCK / Ichiyuki Ilustrasi eco-enzyme.

Selain membuat lubang biopori, sampah organik juga bisa diolah menjadi eco-enzyme. Kegiatan pembuatan ramuan eco-enzyme bisa dilakukan sembaru menunggu azan Maghrib.

Eco-enzyme berguna zebagai zat cairan serba guna yang juga bisa dipakai untuk pembersih rumah, contohnya membersihkan lantai, toilet, dapur dan sebagainya.

Akan tetapi, tidak semua sampah organik yang bisa dijadikan zat pembersih ramah lingkungan. Umumnya yang dipakai adalah sisa kulit buah, potongan sayur, atau ampas buah.

Sisa kulit buah dan potongan sayur dikumpulkan terlebih dulu kemudian difermentasikan dengan bahan campuran gula aren dan air.

Proses fermentasi ini membutuhkan waktu tiga bulan. Pada satu pekan pertama, tutup wadah perlu dibuka guna mengeluarkan gas yang ada di dalamnya.

Setelah tiga bulan, saring semua yang ada di dalam wadah tersebut dan ambil cairannya. Cairan ini yang disebut sebagai eco-enzyme.

Baca juga: Kedubes RI Perkenalkan Buka Puasa ala Indonesia di Amerika

Membuat pot dari botol

warga RW 10 Kebayoran Lama di jaksel memanfaatkan pot dari botol bekas dan pipa untuk menanam sayuran organik seperti selada. KOMPAS.com/ JIMMY RAMADHAN AZHARI warga RW 10 Kebayoran Lama di jaksel memanfaatkan pot dari botol bekas dan pipa untuk menanam sayuran organik seperti selada.

Apabila Anda memiliki banyak botol plastik, bisa disulap menjadi pot-pot cantik yang bisa menghiasi kebun rumah. Adapun bahan dan alat yang harus disiapkan adalah botol plastik dan silet atau gunting.

Cara membuat pot dari botol pun cukup mudah. Caranya, potong bagian tengah botol menjadi dua bagian. Lalu, buatlah lubang di bagian bawah botol yang berguna sebagai drainase dan ventilasi udara.

Untuk memperindahnya, pot bisa diwarnai menggunakan cat yang ada di rumah. Hias pot sesuai dengan selera.

Setelah itu, pot sudah bisa digunakan dan meletakkan tanah dan pupuk ke dalamnya, lalu tanam bibit yang diinginkan. Pastikan tanaman mendapat air dan sinar matahari yang cukup.

Baca juga: Ayomakan dan Kitabisa Sebar 1.000 Paket Makanan Berbuka Puasa

Membuat pupuk dari teh bekas

Kantong teh celup bekas dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.FREEPIK Kantong teh celup bekas dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.

Teh celup merupakan salah satu produk rumah tangga yang sering dikonsumsi. Biasanya, kantong teh celup yang sudah digunakan dibuang ke tempat sampah.

Padahal, ampas teh celup bisa dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik karena mengandung nitrogen dan kafein yang tinggi untuk menyuburkan tanaman.

Cara menggunakannya pun mudah. Cukup buka kantong teh dan keluarkan ampasnya. Lalu, campurkan ke media tanam sehingga media tanam semakin bernutrisi dan mendorong tanaman untuk tumbuh subur.

Itu tadi berbagai kegiatan berkelanjutan yang bisa dilakukan di rumah sembari menunggu waktu berbuka puasa.

Saat kegiatan-kegiatan tersebut, kita bisa beribadah sekaligus mengolah sampah dari rumah menjadi sesuatu yang lebih berguna.

Dengan demikian, ibadah dan upaya pelestarian lingkungan bisa berjalan beringingan serta saling melengkapi bukan?

Baca juga: 6 Cara Mengajarkan Anak Puasa Ramadhan sejak Dini

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of

Terkini Lainnya
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
Pencabutan IUP Harus Disertai Penegakan Hukum dan Pemulihan Lingkungan
LSM/Figur
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Sandiaga Uno: Indonesia Punya Prospek Cerah di Ekonomi Hijau
Pemerintah
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
Tanoto Foundation Fellowship Dibuka untuk Lulusan S1 dan S2, Cek Syaratnya
LSM/Figur
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pulau Umang di Banten Hendak Dijual Rp 65 Miliar, Begini Kata KKP
Pemerintah
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
Siswa SMAN 1 Kedamean Pantau Air dan Tanah lewat Sistem Hydrotech Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Efek 'Burnout' Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Efek "Burnout" Manajer, Performa Karyawan Ikut Turun
Pemerintah
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Ketika Musim Tak Lagi Terbaca: Mendesak Literasi Iklim dari Desa
Pemerintah
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Gelombang Panas Laut Tingkatkan Daya Rusak Badai hingga 60 Persen
Pemerintah
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Apindo: Hanya 36 Persen Karyawan yang Dibayar Sesuai Upah Minimum
Swasta
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Pemerintah
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
Jumat Tanpa Asap, 37.158 Insan PLN Tinggalkan Kendaraan Fosil demi Gaya Hidup Hijau
BUMN
'Sustainability' Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
"Sustainability" Tak Lagi Sekadar Formalitas, Harus Berdampak Nyata untuk Bisnis
Pemerintah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
Harga Plastik Naik, Kemasan Guna Ulang Dinilai Jadi Solusi Tekan Biaya dan Sampah
LSM/Figur
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
JPMorgan Beli Kredit Karbon, Targetkan Pangkas 85.000 Ton Emisi
Swasta
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Tiga Spesies Baru Tanaman Endemik Sumatra Ditemukan lewat Media Sosial
Pemerintah
Komentar di Artikel Lainnya
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau