Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Danur Lambang Pristiandaru
Asisten Editor Global

Mengawali karier sebagai jurnalis di media lokal Solopos pada tahun 2016. Bertugas meliput berbagai desk mulai dari daerah hingga olahraga.

Pada tahun 2018 melanjutkan studi magister di Universitas Pertahanan jurusan Ketahanan Energi.

Pada tahun 2020, bergabung sebagai Asisten Editor kanal Global Kompas.com. Sempat menggawangi kanal Lestari pada tahun 2023 dan kembali lagi ke kanal Global sebagai Asisten Editor pada tahun 2025.

Meminati dan mendalami sejumlah isu seperti geopolitik, hubungan bilateral dan regional, energi terbarukan, transisi energi, keamanan energi, dan lingkungan.

Beberapa kali mendapat beasiswa liputan mendalam dan investigasi dari berbagai institusi seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Google News Initiative, Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), CLASP, Forest Watch Indonesia (FWI), hingga Institute for Essential Services Reform (IESR).

Mengapa Kita Harus Khawatir Peningkatan Gas Metana?

Kompas.com, 25 April 2024, 16:53 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

BULAN lalu, Badan Energi Internasional atau International Energi Agency (IEA) melaporkan emisi metana dari sektor energi pada 2023 mencapai 128 juta ton pada 2023.

Sebagai gambaran, bayangkan saja gas metana dengan total berat lebih dari 20 juta gajah afrika lepas begitu saja ke udara.

Sebagai perbandingan, angka pada 2023 naik sekitar 3 juta ton dari 2022 yang tercatat 125 juta ton. Emisi metana dari energi berasal dari aktivitas minyak, gas, batu bara, dan bioenergi.

Itu hanya dari sektor energi saja dan selama setahun, belum termasuk sektor lain penyumbang emisi metana seperti pertanian dan alihfungsi lahan.

Bila menilik dalam lanskap yang lebih luas, konsentrasi gas metana di atmosfer hingga Desember 2023 mencapai 1,9 bagian per juta atau parts per million (ppm) menurut data badan atmosfer dan kelautan AS, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).

Satu ppm metana menunjukkan bahwa satu dari setiap juta molekul dalam sampel udara adalah metana.

Bila dibandingkan lebih jauh lagi, konsentrasi metana di atmosfer sebelum Revolusi Industri hanya 0,7 ppm.

Itu artinya, konsentrasi metana di atmosfer saat ini naik 271 persen dibandingkan masa-masa sebelum abad ke-18.

Besarnya emisi metana tersebut membuat komunitas ilmiah khawatir. Dan kita sudah sepatutnya ikut prihatin.

Memerangkap panas lebih kuat

Metana memang memiliki umur di atmosfer yang lebih pendek dibanding karbon dioksida. "Umur" metana antara tujuh hingga 12 tahun di atmosfer, sedangkan karbon dioksida "berusia" lebih dari 100 tahun.

Meski memiliki "umur" yang relatif pendek, metana memerangkap panas matahari 25 kali lebih besar daripada karbon dioksida.

Setiap gas rumah kaca memiliki nilai potensi pemanasan global atau global warming potential (GWP). Nilai GWP mengukur seberapa besar potensi suatu gas sebagai kontributor perubahan iklim.

Menurut Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim atau Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), nilai GWP untuk metana antara 84-87 ketika mempertimbangkan dampaknya dalam jangka waktu 20 tahun.

Apabila mempertimbangkan dampaknya dalam jangka waktu 100 tahun sama seperti karbon dioksida, nilai GWP-nya antara 28-36.

Artinya, 1 ton metana bisa dianggap setara dengan 28 hingga 36 ton karbon dioksida jika melihat dampaknya selama 100 tahun.

Sejauh ini, berdasarkan penghitungan yang dilakukan IEA, metana berkontribusi sekitar 30 persen atas kenaikan suhu Bumi sejak Revolusi Industri.

Sedangkan menurut penelitian yang dipimpin Profesor Emeritus Euan Nisbet dari Royal Holloway University of London, peran metana terhadap iklim jauh lebih dominan.

Dalam penelitian Nisbet, metana menjadi biang keladi utama di setiap mencairnya periode zaman es.

Saat ini, emisi metana Bumi meningkat dengan cepat sejak 2006. Emisi metana dalam kurun 2006 sampai 2022, alias 16 tahun, setara dengan peningkatan metana mencairnya zaman es terakhir sekitar 12.000 tahun lalu.

Karena fenomena tersebut, kemungkinan besar Bumi akan mencapai iklim yang lebih hangat lebih cepat, sehingga membawa perubahan besar terhadap iklim planet ini.

Saking berbahayanya metana terhadap iklim di Bumi, berbagai pihak mulai meluncurkan satelit khusus untuk memantau secara akurat dan siapa yang harus bertanggung jawab.

Terbaru, raksasa teknologi Google bekerja sama dengan Environmental Defense Fund meluncurkan satelit bernama MethaneSat yang melacak kebocoran metana secara lebih presisi dari sektor energi fosil, utamanya minyak dan gas.

Aktivitas manusia

Menurut data IEA, peningkatan emisi metana secara drastis saat ini tidak bisa dilepaskan dari campur tangan manusia.

Pada 2022, dari total emisi metana yang lepas ke atmosfer, 40 persen di antaranya berasal dari proses alamiah.

Sisanya, 60 persen emisi metana yang lepas ke atmosfer disebabkan oleh aktivitas manusia seperti penggunaan energi, pertanian, sampah, pembakaran, dan lainnya.

Sektor pertanian dan energi menjadi kontributor terbesar pelepasan emisi metana akibat aktivitas manusia.

Sementara itu, lima negara penghasil metana terbesar di dunia adalah China, India, Amerika Serikat (AS), Rusia, dan Brasil.

Secara keseluruhan, kelima negara tersebut bertanggung jawab atas hampir separuh emisi metana secara global.

Di sisi lain, komunitas internasional sebenarnya sudah menyepakati traktat pengurangan emisi metana bernama Global Methane Pledge.

Perjanjian antarnegara yang diluncurkan pada 2021 bertepatan COP21 tersebut menargetkan dapat memangkas emisi metana setidaknya 30 persen pada 2030 dengan baseline 2020.

Namun, tersisa tujuh tahun lagi untuk mencapai target tersebut, sedangkan tingkat emisi metana dari tahun ke tahun justru semakin meningkat.

Tanpa adanya komitmen dan aksi iklim yang ambisius dari para pemangku kepentingan, target yang diikrarkan hanya sebatas janji. Dan Bumi tempat kita hidup hanya ada satu.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Membongkar Mitos Sawit sebagai Miracle Crop
Membongkar Mitos Sawit sebagai Miracle Crop
Pemerintah
PLN Mobile Perkuat Ekosistem EV Berbasis Green Energy, dari Home Charging hingga SPKLU
PLN Mobile Perkuat Ekosistem EV Berbasis Green Energy, dari Home Charging hingga SPKLU
BUMN
Membangun dari Manusia, Ini Cara Bakti BCA Memberdayakan Individu hingga Komunitas
Membangun dari Manusia, Ini Cara Bakti BCA Memberdayakan Individu hingga Komunitas
BrandzView
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Pemerintah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
LSM/Figur
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Pemerintah
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Pemerintah
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau