Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kemendagri: Alokasi APBD untuk Pengolahan Sampah Rata-rata Kurang dari 1 Persen

Kompas.com, 4 Oktober 2024, 16:15 WIB
Faqihah Muharroroh Itsnaini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mencatat rata-rata alokasi anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) tahun 2023 kabupaten/kota untuk pengolahan sampah di hanya sebesar 0,64 persen.

Hal ini disampaikan oleh Analis Kebijakan Ahli Muda, Direktorat Jendral Bina Pembangunan Daerah, Kemendagri, Rima Yuliantari Suharin. Rendahnya anggaran, kata dia, menjadi salah satu tantangan pengelolaan sampah di kota maupun kabupaten di Indonesia.

"Persoalan besarnya adalah yang pertama adalah terkait dengan rendahnya biaya pengolahan persampahan yang digelontorkan oleh pemerintah daerah melalui APBD-nya. Ini rata-rata tahun 2023 itu hanya sekitar 0,64 persen dari total APBD," ujar Rima dalam acara Media Workshop yang digelar di Jakarta, Kamis (3/10/2024). 

Baca juga:

Ia menjelaskan, dibandingkan beberapa wilayah di Indonesia, Jakarta merupakan kota dengan anggaran APDB tertinggi untuk pengolahan sampah. Angkanya mencapai 3 persen. 

Namun, anggaran yang terbilang tinggi jika dibandingkan dengan daerah lainya tersebut,  belum menjadikan pengolahan sampah di Jakarta sepenuhnya berhasil. 

"Kalau DKI ini sekitar 3 persenan, itu saja masih terseok-seok, gimana yang 513 (kabupaten dan kota) lainnya,“ imbuh dia.

Sebab, Rima menyampaikan, dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, tercantum bahwa pemerintah daerah bertanggung jawab penuh atas pengolahan sampah di daerah mereka. 

Perlu perubahan perilaku dan kolaborasi

Hal tersebut, menurutnya menjadi salah satu tantangan mencapai target pemerintah, yakni 100 persen rumah tangga mendapatkan layanan pengelolaan sampah yang aman dan menyeluruh pada tahun 2045.

Rima mengungkapkan, salah satu indikator pengelolaan sampah belum optimal adalah masih banyaknya pekerja informal yang mengambil sampah di tempat pembuangan akhir (TPA).

"Kalau kita lihat, banyak sekali pemulung masih ada di TPA. Banyak sekali pemulung masih ngumpulin sampah pada tempat-tempat pembuangan sementara," ujar dia.

Baca juga:

Padahal, pemerintah menetapkan bahwa 90 persen sampah harus terkelola dengan baik, sementara hanya 10 persen yang menjadi residu di TPA. 

"Itu berarti, pekerjaan rumah (PR) pertama kita adalah mengubah perilaku masyarakat agar lebih sadar dalam memilah sampah sejak dari sumbernya," imbuh Rima. 

Ia berharap, pemerintah daerah bisa menjalankan program kolaboratif untuk membantu mengedukasi masyarakat tentang pentingnya memilah sampah dari sumbernya. 

Pemerintah daerah telah memiliki kewenangan untuk bekerja sama dengan berbagai mitra, baik dari NGO internasional, NGO lokal, maupun pihak swasta, yang diatur melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2018. 

"Kita (juga) ada mengeluarkan permen dari tahun 2020, ini tentang tata cara kerjasama antara pemerintah daerah dengan mitra," terang Rima. 

Baca juga: Menilik Kipah BRI untuk Praktik Keberlanjutan Komunitas Lokal di Lestari Summit 2024

Menurutnya, contoh implementasi kerja sama ini salah satunya sudah terlihat di Provinsi DKI Jakarta. Berbagai pihak bekerja bersama dalam upaya pengelolaan sampah yang lebih baik. Kolaborasi serupa diharapkan dapat menjadi model untuk daerah-daerah lain di Indonesia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Aktivitas Fisik Jadi Upaya Adaptasi Perubahan Iklim, Ini Alasannya
Aktivitas Fisik Jadi Upaya Adaptasi Perubahan Iklim, Ini Alasannya
LSM/Figur
United Tractors Dapat 2 Penghargaan pada Peringatan Bulan K3 Nasional 2026
United Tractors Dapat 2 Penghargaan pada Peringatan Bulan K3 Nasional 2026
Swasta
Kesepakatan Impor Migas RI-AS Dinilai Berisiko bagi Ketahanan Energi Nasional
Kesepakatan Impor Migas RI-AS Dinilai Berisiko bagi Ketahanan Energi Nasional
LSM/Figur
Panas Ekstrem Bisa Batasi Aktivitas Manusia, Lansia Paling Terdampak
Panas Ekstrem Bisa Batasi Aktivitas Manusia, Lansia Paling Terdampak
LSM/Figur
SOBI dan Parongpong RAW Lab, Bantu Masyarakat Ubah Sistem Pangan dan Olah Limbah
SOBI dan Parongpong RAW Lab, Bantu Masyarakat Ubah Sistem Pangan dan Olah Limbah
Swasta
65.000 liter Bahan Kimia Alkali Dituang ke Laut untuk Hadapi Pemanasan Global
65.000 liter Bahan Kimia Alkali Dituang ke Laut untuk Hadapi Pemanasan Global
Pemerintah
Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Pemerintah
Cara Kurangi Beban Sampah Bantargebang Bisa Dimulai dari Rumah Tangga
Cara Kurangi Beban Sampah Bantargebang Bisa Dimulai dari Rumah Tangga
Pemerintah
DBS Salurkan Rp 11,2 Miliar untuk 5 Bisnis Sosial Indonesia, Bantu Dokter di Desa Pakai AI
DBS Salurkan Rp 11,2 Miliar untuk 5 Bisnis Sosial Indonesia, Bantu Dokter di Desa Pakai AI
Swasta
Perempuan Indonesia Lebih Tekun Belajar AI Dibanding Laki-laki
Perempuan Indonesia Lebih Tekun Belajar AI Dibanding Laki-laki
Swasta
Bumi Memanas Lebih Cepat, Batas 1,5 Derajat Diprediksi Terlampaui Sebelum 2030
Bumi Memanas Lebih Cepat, Batas 1,5 Derajat Diprediksi Terlampaui Sebelum 2030
LSM/Figur
Indonesia Diprediksi Dilanda Gelombang Panas per April, Suhu di Atas Normal
Indonesia Diprediksi Dilanda Gelombang Panas per April, Suhu di Atas Normal
LSM/Figur
THR Tak Bikin Daya Beli Masyarakat Naik, Ahli Jelaskan Penyebabnya
THR Tak Bikin Daya Beli Masyarakat Naik, Ahli Jelaskan Penyebabnya
LSM/Figur
Mikroba Laut Dalam Jadi Sekutu Hadapi Perubahan Iklim
Mikroba Laut Dalam Jadi Sekutu Hadapi Perubahan Iklim
Pemerintah
Pulihkan Kualitas Air, 7.000 Liter Eco Enzyme Dituangkan ke Sungai Jeletreng Tangsel
Pulihkan Kualitas Air, 7.000 Liter Eco Enzyme Dituangkan ke Sungai Jeletreng Tangsel
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau