Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BRIN: Teknologi Nuklir Dapat Deteksi Pemalsuan Pangan

Kompas.com, 6 Oktober 2024, 09:00 WIB
Add on Google
Danur Lambang Pristiandaru

Editor

KOMPAS.com - Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Henni Widyastuti mengatakan, teknologi nuklir menawarkan tingkat akurasi dan ketepatan yang tinggi untuk mendeteksi pemalsuan pangan.

Peneliti Pusat Riset Teknologi Proses Radiasi BRIN tersebut menyampaikan, teknologi nuklir mampu menangkap perbedaan yang kecil di dalam komposisi kimia.

Henni berujar, saat ini pemalsuan pangan yang terjadi semakin canggih dan kompleks. Sehingga teknik-teknik tradisional yang mengandalkan indera manusia sudah tidak kompatibel lagi untuk digunakan.

Baca juga: Kekeringan Global Ancam Pasokan Pangan dan Produksi Energi

"Kadang untuk memperoleh akurasi yang tinggi dalam deteksi, kita bisa menggunakan dua atau lebih metode yang digabungkan satu sama lain agar hasilnya lebih baik. Beberapa jenis pemalsuan sangat sulit dideteksi karena kompleksitas faktor lingkungan atau jenis campuran yang mendekati bahan asli," kata Henni sebagaimana dilansir Antara, Jumat (4/10/2024).

Henni menjelaskan teknologi nuklir untuk mendeteksi pemalsuan pangan merupakan metode analisis yang memanfaatkan radiasi dan isotop dalam mengidentifikasi keaslian, asal-usul geografis, dan komposisi kimia pangan secara akurat tanpa merusak sampel.

Teknik-teknik ini mencakup pengujian isotop dan elemen pada pangan.

Pertama-tama, bahan pangan melewati uji analisis profil mineral dan analisis profil isotop. Selanjutnya, data yang didapatkan diolah menggunakan statistik atau kecerdasan buatan untuk memperoleh pola-pola tertentu dari profil mineral dan profil isotop yang disebut sebagai sidik jari isotop dan elemen pada produk.

Setiap material organik yang ada di alam pada dasarnya terkait dengan empat siklus, yaitu siklus oksigen, siklus karbon, siklus nitrogen, dan siklus hidrogen.

Baca juga: Tekan Stunting, Rajawali Nusindo Salurkan 438.000 Bantuan Pangan Pemerintah di NTT

Setiap siklus ini memiliki peranan penting dalam metabolisme tanaman, hewan, ataupun ekosistem perairan, yang membentuk rasio alami isotop dan mineral yang unik pada organisme. Rasio ini berfungsi seperti sidik jari yang ada pada manusia.

Dalam analisis profil isotop, jelas Henni, digunakan isotop stabil yang memang sudah ada di alam sebagai penjejak dari suatu bahan pangan yang ingin ditelusuri asal-usulnya.

Umumnya isotop-isotop yang digunakan itu adalah isotop elemen ringan meskipun dalam beberapa kasus juga digunakan isotop-isotop elemen berat seperti strontium dan lain-lain.

"Produk-produk hewan juga bisa terdeteksi isotop (selain tanaman). Kalau di ekosistem perairan, biasanya isotop digunakan untuk mengautentikasi produk-produk seperti ikan, udang, dan jenis-jenis mussel seperti oyster, dan lain-lain," kata dia.

Ia menjelaskan isotop stabil yang terkandung di dalam pangan memang memiliki kecenderungan untuk berubah bergantung kondisi lingkungan. Meski begitu, perubahan tersebut terjadi dalam rentang waktu yang lama hingga beberapa tahun.

Baca juga: Pemerintah Perlu Dorong Bahan Lokal untuk Ketahanan Pangan

"Jadi dia (teknologi nuklir yang menggunakan isotop stabil) relatif lebih stabil terhadap perubahan yang terjadi dalam waktu singkat. Ini yang menyebabkan keakurasiannya itu tinggi dibandingkan teknologi yang lain," ujar Henni.

Pengujian keaslian bahan atau produk pangan dengan menggunakan teknologi nuklir ini juga dipastikan aman, sebab hanya sedikit spesimen yang diambil dari sampel pangan. Proses pengujian keaslian pangan juga tidak memakan waktu yang lama.

Namun, menurut Henni, terdapat kelemahan dari teknologi nuklir ini mengingat instrumen atau alatnya yang berukuran besar dan tidak mudah untuk dipindah-pindahkan sehingga hanya tersedia di laboratorium.

Oleh sebab itu, dibutuhkan pengembangan teknologi pelengkap yang lebih portable sehingga lebih mudah dibawa ke manapun.

Baca juga: Bank Dunia Ingatkan Indonesia Berpotensi Hadapi Masalah Ketahanan Pangan

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
Enam Kali Raih Proper Emas, Sido Muncul Buktikan Praktik Ramah Lingkungan Dimulai dari Kegiatan Sehari-hari
BrandzView
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Dari Kebun Manggis ke Supermarket Eropa, Ini Keunggulan Indonesia Ketimbang Negara Tetangga
Swasta
Lestari Forum 2026: 'Sustainability' Bagian dari Inti Bisnis
Lestari Forum 2026: "Sustainability" Bagian dari Inti Bisnis
Swasta
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
Mengintip Strategi PHE Menjaga Pasokan Energi Nasional Jangka Panjang
BUMN
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Prabowo Bikin Program Listrifikasi Kendaran, Pangkas Pemakaian BBM
Pemerintah
Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam
Gletser Asia Mencair, Pasokan Air Miliaran Orang Terancam
LSM/Figur
Pemerintah Siapkan Kilang Avtur Ramah Lingkungan dari Jelantah
Pemerintah Siapkan Kilang Avtur Ramah Lingkungan dari Jelantah
Pemerintah
Panas dari Lalu Lintas Berdampak pada Kenaikan Suhu Kota
Panas dari Lalu Lintas Berdampak pada Kenaikan Suhu Kota
Pemerintah
Investor Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Pusat Data
Investor Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Pusat Data
Pemerintah
PBB Pilih 20 Kota Terbaik dalam Upaya Pengelolaan Nol Sampah
PBB Pilih 20 Kota Terbaik dalam Upaya Pengelolaan Nol Sampah
LSM/Figur
SmartBioBin, Tong Sampah yang Bisa Pisahkan Limbah dengan Sensor
SmartBioBin, Tong Sampah yang Bisa Pisahkan Limbah dengan Sensor
LSM/Figur
Harga Naik, Momentum Ubah Kebiasaan Pakai Plastik Sekali Pakai
Harga Naik, Momentum Ubah Kebiasaan Pakai Plastik Sekali Pakai
LSM/Figur
Pelaku Industri Dukung Program Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati
Pelaku Industri Dukung Program Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati
Swasta
AI di Kantor, Berpotensi Menumpulkan Kemampuan Berpikir Kritis Karyawan
AI di Kantor, Berpotensi Menumpulkan Kemampuan Berpikir Kritis Karyawan
LSM/Figur
Studi WWF-CSF: Pendanaan Sektor Perusak Hutan 14 Kali Lebih Besar dari Konservasi
Studi WWF-CSF: Pendanaan Sektor Perusak Hutan 14 Kali Lebih Besar dari Konservasi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau