Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemerintah Lakukan Perencanaan Ruang Laut untuk Pengelolaan Lestari

Kompas.com, 16 Oktober 2024, 11:27 WIB
Faqihah Muharroroh Itsnaini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perencanaan ruang laut dan pesisir menjadi faktor penting dalam perancangan kawasan konservasi yang lestari.

Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan didukung oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), melakukan pembelajaran perencanaan ruang laut dan pesisir.

“Laut adalah sumber kehidupan. Untuk itu perencanaan ruang laut menjadi faktor penting untuk melindungi kelestarian ekosistem dan mendukung pengelolaan berkelanjutan untuk generasi mendatang," terang Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Sakti Wahyu Trenggono.

Baca juga: Langkah Hijau Kompas.com, Penanaman Mangrove untuk Selamatkan Pesisir Subang

Hal itu disampaikannya dalam 6th International Marine Spatial Planning Forum, yang diadakan di Bali, pada 8-11 Oktober 2024.

Pada kesempatan ini, melalui Program Kelautan, YKAN berbagi pembelajaran dalam mendukung perencanaan ruang laut dan pesisir yang merupakan upaya prioritas Pemerintah Indonesia untuk menjembatani pengelolaan laut. Tujuannya, untuk dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta perlindungan keanekaragaman hayati laut.

Baca juga: Air Bersih dan Sanitasi Wilayah Pesisir Masih Perlu Perhatian

Komitmen Indonesia

Manajer Senior Perlindungan Laut YKAN Yusuf Fajariyanto, sebagai negara peratifikasi Konvensi Keanekaragaman Hayati, Indonesia berkomitmen untuk menerapkan rekomendasi perlindungan dan pelestarian keanekaragaman hayati di tingkat nasional yang akan berkontribusi pada kesepakatan dan upaya di tingkat global.

"Indonesia bermaksud untuk memenuhi Target 3 Kerangka Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal," ujarnya. 

Untuk itu, Indonesia telah menggagas Visi Kawasan Konservasi Perairan 30x45, yakni pada 2045, 30 persen wilayah pesisir dan laut Indonesia dialokasikan untuk melindungi dan melestarikan keanekaragaman hayati dan sumber daya, guna mendukung pembangunan jangka panjang Indonesia selama 100 tahun ke depan.

Baca juga: Air Bersih dan Sanitasi Wilayah Pesisir Masih Perlu Perhatian

Dalam mencapai visi tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan membentuk tim teknis yang didukung oleh YKAN dan para pemangku kepentingan terkait dalam melakukan kegiatan penataan ruang untuk mengidentifikasi area-area yang penting di seluruh perairan Indonesia, yang dapat dialokasikan sebagai pengembangan kawasan konservasi yang baru ataupun perluasan dari kawasan konservasi yang sudah ada.

Rancangan tata ruang yang telah dilakukan menunjukkan bahwa secara keseluruhan terdapat sekitar 117 juta hektare perairan pesisir dan laut yang dapat dialokasikan sebagai kawasan perlindungan laut.

Angka yang lebih tinggi dari target sebesar 30 persen (97,5 juta hektare) pada tahun 2045. Hal ini merupakan upaya mengantisipasi potensi konflik dengan kegiatan pembangunan di wilayah pesisir dan laut.

Kawasan yang dirancang merupakan kawasan bernilai konservasi tinggi di Indonesia dengan fitur biaya konservasi yang relatif rendah, atau dengan kata lain potensi konflik telah diantisipasi sejak perancangan dilakukan.

Pemetaan partisipatif

Dalam perancangan kawasan konservasi, pelibatan masyarakat sebagai pemanfaat kawasan amatlah penting. Hal ini biasa disebut dengan pemetaan partisipatif.

"Pemetaan partisipatif dilakukan dengan melibatkan masyarakat dan pemangku kepentingan sebagai sumber utama mengenai informasi karakteristik, kondisi, kegiatan pemanfaatan sumber daya dan ancaman konservasi di kawasannya," kaya Yusuf. 

Baca juga: Keunikan di Pesisir Jakarta, Kampung Akuarium yang Tak Pernah Terendam Banjir

Prosesnya, kata dia, dilakukan melalui diskusi yang difasilitasi oleh fasilitator dan penyusun peta untuk memperoleh informasi dari masyarakat dengan dipandu kuesioner dan peta dasar.

"Informasi yang diperoleh dari masyarakat kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk peta dua dimensi," imbuh dia. 

Ia menjelaskan, melalui kegiatan pemetaan partisipatif, dapat dipetakan daerah penangkapan ikan, budi daya perikanan, wisata bahari, penampakan mamalia laut dan biota langka terancam punah dan dilindungi, hingga pantai peneluran penyu.

Selain itu, diketahui juga ancaman terhadap sumber daya, pemanfaatan wilayah laut, serta kearifan lokal dan informasi tematik lainnya yang akan digunakan untuk mengembangkan perencanaan tata ruang dan merancang kawasan konservasi.

Baca juga: Pemetaan Ekosistem Mangrove di Kota-kota Pesisir

"Pengelolaan kawasan konservasi yang efektif memerlukan data yang dapat diandalkan mengenai sebaran dan kondisi habitat. Pemetaan habitat perairan dangkal melalui penginderaan jauh memberikan landasan bagi pengambilan keputusan dengan memberikan informasi rinci dan akurat tentang luasan spasial. Informasi ini sangat penting untuk mengidentifikasi kawasan yang diprioritaskan untuk perlindungan," pungkasnya. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
PFOS Zat Kimia Abadi Ditemukan pada Lebah dan Madu, Apa Dampaknya pada Manusia?
PFOS Zat Kimia Abadi Ditemukan pada Lebah dan Madu, Apa Dampaknya pada Manusia?
LSM/Figur
Krisis Iklim dan Keringat Bikin Warna Lukisan Michelangelo di Vatikan Memudar
Krisis Iklim dan Keringat Bikin Warna Lukisan Michelangelo di Vatikan Memudar
LSM/Figur
Mangrove di Teluk Benoa Bali Disebut Mati Massal
Mangrove di Teluk Benoa Bali Disebut Mati Massal
LSM/Figur
1 Miliar Orang Khawatir Kehilangan Tanah dan Rumah Menurut Laporan PBB
1 Miliar Orang Khawatir Kehilangan Tanah dan Rumah Menurut Laporan PBB
Pemerintah
Tak Semua Harus Diganti, Ini Cara Service Hub Batam Milik Schneider Optimalkan Aset
Tak Semua Harus Diganti, Ini Cara Service Hub Batam Milik Schneider Optimalkan Aset
Swasta
Milenial Jadi Pengguna AI Paling Efektif 2025, Mengapa?
Milenial Jadi Pengguna AI Paling Efektif 2025, Mengapa?
Swasta
Paparan CO2 Meningkat, Studi Ungkap Dampaknya pada Darah Anak dan Remaja
Paparan CO2 Meningkat, Studi Ungkap Dampaknya pada Darah Anak dan Remaja
LSM/Figur
Tumpahan Minyak Kapal Cemari Pantai di Phuket Thailand, Pariwisata Terancam
Tumpahan Minyak Kapal Cemari Pantai di Phuket Thailand, Pariwisata Terancam
LSM/Figur
Craftsmanship dan Sustainability, Strategi Filoposy Bertahan di Industri Fesyen
Craftsmanship dan Sustainability, Strategi Filoposy Bertahan di Industri Fesyen
Swasta
Krisis Iklim dan Kapal Besar Ancam Laut Karimunjawa, Bagaimana Nasib Nelayan?
Krisis Iklim dan Kapal Besar Ancam Laut Karimunjawa, Bagaimana Nasib Nelayan?
LSM/Figur
Risiko di Balik Label Microwave-Safe, Ratusan Ribu Mikroplastik Bisa Masuk ke Makanan
Risiko di Balik Label Microwave-Safe, Ratusan Ribu Mikroplastik Bisa Masuk ke Makanan
LSM/Figur
Ruang Jelajah Gajah dan Harimau di TN Bukit Tigapuluh Jambi Makin Sempit
Ruang Jelajah Gajah dan Harimau di TN Bukit Tigapuluh Jambi Makin Sempit
Pemerintah
Pemerintah Targetkan Aturan Turunan Nilai Ekonomi Karbon Terbit Maret 2026
Pemerintah Targetkan Aturan Turunan Nilai Ekonomi Karbon Terbit Maret 2026
Pemerintah
ICCTF-Bappenas Buka Lowongan Konsultan Keuangan Proyek Karbon Biru
ICCTF-Bappenas Buka Lowongan Konsultan Keuangan Proyek Karbon Biru
Pemerintah
Tren Career Co-Piloting, Orangtua Gen Z Ikut Tulis CV hingga Nego Gaji
Tren Career Co-Piloting, Orangtua Gen Z Ikut Tulis CV hingga Nego Gaji
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau