Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pencarian Gambar di Internet Dipengaruhi oleh Pandangan tentang Perubahan Iklim

Kompas.com, 29 November 2024, 19:18 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebuah studi dari Universitas Stanford, California menemukan bahwa hasil pencarian di internet mencerminkan pandangan users mengenai perubahan iklim yang berlaku di wilayah tersebut.

Misalnya saja di Argentina. Saat kebakaran hutan hebat terjadi dalam beberapa tahun terakhir, hasil pencarian internet teratas kemungkinan besar akan menyertakan rumah yang terbakar.

Sementara di Estonia, di mana tingkat kekhawatiran relatif rendah tentang perubahan iklim, orang-orang yang melakukan pencarian di internet lebih cenderung melihat gambar gunung es, beruang kutub, atau bagan ilmiah yang mungkin membuat perubahan iklim tampak seperti fenomena yang jauh atau abstrak.

"Jika dunia ingin mengatasi perubahan iklim, diperlukan informasi yang cukup. Hasil pencarian yang lebih relevan dan objektif adalah kunci untuk proses informasi tersebut," ungkap Madalina Vlasceanu, penulis senior studi ini.

Baca juga:

Mengutip laman resmi Universitas Stanford, Jumat (29/11/2024) dalam studinya, peneliti menganalisis gambar yang ditampilkan di Google Image Search di 49 negara sebagai respons terhadap istilah pencarian seperti perubahan iklim.

Untuk mengukur dampak gambar-gambar tersebut, mereka kemudian menilai respons emosional orang-orang setelah melihatnya.

Mereka menemukan di negara-negara di mana orang-orang sudah memiliki lebih banyak perhatian tentang perubahan iklim, gambar yang ditampilkan dalam hasil pencarian memiliki peringkat lebih tinggi.

Begitu pula respons emosional dan kebutuhan untuk bertindak, juga memiliki peringkat lebih tinggi.

Namun hal tersebut tidak selalu terjadi di negara-negara yang menghadapi risiko dan dampak iklim yang intens.

Hal tersebut menurut peneliti menunjukkan algoritma pencarian gambar berkontribusi pada efek penyebaran sentimen yang sudah ada sebelumnya, dalam hal ini adalah tema perubahan iklim.

Dalam percobaan lanjutan, peneliti kemudian menunjukkan berbagai gambar terkait iklim yang ditampilkan oleh Google di negara-negara dengan kekhawatiran iklim yang tinggi atau rendah pada 900 responden untuk mengevaluasi bagaimana mereka dipengaruhi gambar-gambar tersebut.

Peneliti menemukan responden di negara dengan kekhawatiran tinggi mengenai perubahan iklim merasa lebih terancam oleh perubahan iklim.

Mereka pun mendukung kebijakan iklim dan cenderung mengambil tindakan seperti membeli kendaraan listrik atau memasang panel surya.

"Ini menunjukkan gambar-gambar iklim yang memperlihatkan realitas objektif dapat mendorong perubahan besar dalam sentimen iklim," kata penulis utama studi Michael Berkebile-Weinberg.

Baca juga:

Para peneliti juga mengatakan temuan mereka menunjukkan perlunya algoritma yang secara akurat menggambarkan dampak perubahan iklim.

“Algoritma pencarian internet memainkan peran penting dalam menginformasikan dunia tentang risiko dan solusi untuk krisis iklim global kita yang semakin cepat,” papar Vlasceanu.

“Jika kita memiliki penelusuran gambar yang lebih baik, kita dapat menginspirasi orang untuk mengambil tindakan yang tepat, sepadan dengan tingkat ancamannya,” tambahnya.

Untuk mencapai hal tersebut perlu kolaborasi lintas disiplin untuk mewujudkan upaya berskala global melalui inovasi kebijakan, program pendidikan, pengembangan infrastruktur, atau penerapan algoritmik

Peneliti menambahkan kolaborator utama akan mencakup ilmuwan perilaku, pengembang alat penelusuran gambar dan AI generatif, ilmuwan iklim, insinyur yang berfokus pada keberlanjutan, pendidik dan perwakilan di pemerintahan dan hukum yang menetapkan dan menegakkan kebijakan lingkungan, energi, dan sumber daya alam, dan lain sebagainya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
LSM/Figur
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Pemerintah
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Pemerintah
Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan
Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan
LSM/Figur
Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT
Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT
Pemerintah
Jelang Penerapan EUDR, Sepertiga Perusahaan Masih Minim Komitmen Deforestasi
Jelang Penerapan EUDR, Sepertiga Perusahaan Masih Minim Komitmen Deforestasi
Pemerintah
Danantara Kaji Wacana Pembangunan PSEL di 31 Wilayah Aglomerasi
Danantara Kaji Wacana Pembangunan PSEL di 31 Wilayah Aglomerasi
Pemerintah
Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal
Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal
Pemerintah
KLH Bakal Tetapkan Tersangka Kasus Longsor Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang
KLH Bakal Tetapkan Tersangka Kasus Longsor Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang
Pemerintah
Deloitte: Physical AI Diprediksi Ubah Operasi Bisnis dalam Tiga Tahun
Deloitte: Physical AI Diprediksi Ubah Operasi Bisnis dalam Tiga Tahun
Swasta
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
Pemerintah
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
LSM/Figur
'Blue Carbon' Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
"Blue Carbon" Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
Swasta
PLTS Atap dan Power Wheeling Diusulkan untuk Kejar Target Listrik 100 GW
PLTS Atap dan Power Wheeling Diusulkan untuk Kejar Target Listrik 100 GW
LSM/Figur
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau