Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Agroforestri Intensif Dinilai Jadi Solusi Ketahanan Pangan dan Krisis Iklim

Kompas.com, 4 Desember 2024, 20:17 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Agroforestri intensif dinilai dapat menjadi solusi ketahanan pangan dan penanganan krisis iklim di Indonesia.

Peneliti Tropenbos Indonesia Hery Santoso menjelaskan, agroforestri intensif tidak sekadar rehabilitasi lahan dan pemenuhan kebutuhan saja. Melainkan, berorientasi pada usaha komersial berkelanjutan.

"Kalau kita sudah mengarah ke sana, maka beberapa hal yang selama ini menjadi kendala agroforestri bisa kita tutup. Mulai dari produktiviti, kelembagaan, jaringan pasar dan seterusnya," ujar Hery dalam acara Mengarusutamakan Agroforestri Intensif yang digelar Tropenbos Indonesia di Jakarta Pusat, Rabu (4/12/2024).

Baca juga:

Agroforestri merupakan kebun campur yang mencakup tanaman kayu, tanaman pangan dan tanaman komersial antara lain kopi, karet, kakao, hingga rempah.

"Intensifikasi di sini lebih pada diarahkan ke pengetahuan di mana proses intensifikasi tidak hanya mengarah pada input, tetapi bagaimana pengetahuan tentang tanaman campur dan krisis iklim dipahami," papar Hery.

Hery menyebut, selama ini agroforerstri yang diketahui masih berada di tingkat dasar atau family farming agroforestry.

"Yang kami maksud agroforestri intensif memang satu langkah di depan, tidak berorientasi pada hal-hal yang sangat konvensional," tutur dia.

Riset yang dilakukan Kelompok Kerja Pengembangan Agroforestri (KKPA) menunjukkan bahwa intensifikasi agroforestri, berpeluang menyelesaikan persoalan-persoalan produktivitas dan keuntungan yang rendah bagi petani. Sebab, rata-rata keuntungannya di bawah 50 persen.

Hery mencontohkan, agroforestri intensif dapat dilakukan dengan menggabungkan tanaman-tanaman sawit atau kakao yang produktivitasnya tinggi.

"Saya kira krisis iklim ini tidak bisa dijawab dengan agroforestri konvensional, karena pertumbuhannya. Tetapi, dengan agroforestri intensif. Cuman memang upayanya tidak kaleng-kaleng," sebut dia.

Kunci Agriforestri Intensif

Riset KKPA memperlihatkan, ada tiga kunci untuk memulai konsep agroforestri intensif, yaitu kebijakan, teknologi dan pengetahuan, serta kelembagaan.

KKPA berpendapat bahwa agroforestri kini masih diposisikan sebagai program sektoral. Kehutanan, misalnya, meskipun terkait erat dengan pertanian, perkebunan, perdagangan, dan perindustrian orientasinya sebatas rehabilitasi lahan.

Baca juga:

Pihaknya menyatakan, dukungan paket teknologi dan pengetahuan agroforestri masih sangat terbatas. Selain itu, kerap dianggap sebagai program sektor kehutanan. Sehingga tak banyak investasi pembangunan yang dilakukan.

"Tidak banyak riset-riset pengembangan varietas baru yang secara khusus diperuntukkan bagi pengembangan agroforestri," ungkap para peneliti.

Sejauh ini hampir semua praktik agroforestri ditopang dengan kelembagaan keluarga, yang mengakibatkan upaya untuk meningkatkan skala menjadi wirausaha atau bisnis terkendala.

Untuk mewujudkan agroforestri intensif, penguatan dan pengembangan unit produksi menjadi kebutuhan mendesak.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau