Lebih lanjut, sekitar 4 persen perusahaan melaporkan belanja modal hijau (capex) mereka.
Baca juga: Sebagian Besar Perusahaan di Dunia Siap Hadapi Pelaporan Baru untuk ESG
Namun yang lebih memprihatinkan adalah bahwa hanya 1 persen yang memiliki target capex hijau, dan hanya 0,2 persen yang berkomitmen untuk menyelaraskan rencana capex mereka dengan target pengurangan emisi jangka panjang mereka.
Meskipun demikian, perusahaan-perusahaan Asia Pasifik memiliki tingkat pengungkapan rata-rata yang tinggi untuk metrik inti tertentu yang diwajibkan berdasarkan kerangka ISSB, termasuk pengawasan dewan atas isu-isu iklim, emisi Cakupan 1 dan 2, serta target pengurangan emisi.
Laporan tersebut mencatat bahwa perusahaan-perusahaan Asia-Pasifik memiliki tingkat pengungkapan ISSB rata-rata sekitar 15 persen atau kedua setelah Eropa, yang memiliki tingkat 19 persen.
Laporan tersebut juga menemukan bahwa perusahaan-perusahaan Asia Pasifik mengungkapkan rata-rata 7,8 indikator dari 31 indikator inti, sementara perusahaan-perusahaan Eropa rata-rata mengungkapkan sembilan.
“Pengungkapan ini menunjukkan pemahaman yang kuat tentang dasar-dasar pelaporan iklim oleh perusahaan-perusahaan Asia Pasifik, yang dapat dikaitkan dengan peraturan iklim di yurisdiksi Asia-Pasifik, meningkatnya kematangan praktik keberlanjutan perusahaan, dan dukungan jangka panjang untuk rekomendasi Taskforce on Climate-related Financial Disclosures (TCFD),” tulis laporan tersebut.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya