Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
M Saddam Husein
Mahasiswa Pascasarjana

Mahasiswa Pascasarjana IPB University

Pentingnya Ekowisata Yang Berkelanjutan di Berbagai Wilayah di Indonesia

Kompas.com, 1 Januari 2025, 11:28 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Indonesia memiliki sekitar 17.504 pulau dengan tiga perempat wilayah merupakan laut seluas 5,9 juta km persegi, dengan panjang garis pantainya yaitu 95.161 km.

Hal ini menjadikan  yang merupakan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada (Hasanah, 2020).

Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa, termasuk ekosistem pesisir dan laut yang penting untuk ekowisata bahari.

Keindahan alam, seperti terumbu karang, pantai berpasir putih, dan keanekaragaman hayati laut, menjadi daya tarik utama bagi wisatawan domestik dan internasional.

Namun, ancaman terhadap keberlanjutan ekosistem ini semakin meningkat akibat eksploitasi berlebihan, pencemaran, serta jumlah pengunjung yang melebihi kapasitas daya dukung kawasan.

Baca juga: Potensi Besar Perikanan dan Ekowisata di Natuna, Terganjal Akses

Potensi Ekowisata dan Tantangannya

Menurut Dahuri (2009), ekowisata di kawasan pesisir Indonesia terutama yang melibatkan aktivitas seperti snorkeling, diving, dan wisata pantai, memiliki potensi ekonomi yang signifikan.

Kegiatan ekowisata dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal melalui pekerjaan di sektor pariwisata, serta konservasi alam yang mendukung kelestarian lingkungan hidup.

Namun demikian, tanpa pengelolaan yang berkelanjutan, potensi ini dapat merusak ekosistem yang menjadi daya tarik utama, seperti terumbu karang dan habitat biota laut lainnya.

Meskipun Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah, kondisi ekosistem pesisir di berbagai wilayah mengalami degradasi. Banyak kawasan terumbu karang di Indonesia yang terancam akibat perubahan iklim, polusi, dan kegiatan manusia yang merusak.

Pengelolaan yang tidak tepat dapat menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki, yang berdampak pada ekosistem lokal dan perekonomian yang bergantung pada sumber daya alam tersebut.

Salah satu contoh kawasan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata bahari berkelanjutan adalah Teluk Tamiang, yang terletak di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.

Kawasan ini menawarkan berbagai daya tarik wisata alam, seperti terumbu karang yang masih relatif sehat, pantai berpasir putih yang indah, serta keanekaragaman hayati laut yang melimpah.

Terumbu karang di Teluk Tamiang menjadi habitat penting bagi berbagai jenis ikan karang, moluska, dan biota laut lainnya. Keindahan bawah lautnya menawarkan peluang besar bagi kegiatan snorkeling, selam, dan berbagai aktivitas wisata air lainnya (Husein et al. 2024).

Baca juga: Mengintip Pemanfaatan Mangrove sebagai Ekowisata di Bali Barat

Meskipun memiliki potensi yang sangat besar, pengelolaan ekosistem pesisir di Teluk Tamiang perlu dilakukan dengan sangat hati-hati dan berkelanjutan untuk mencegah kerusakan yang tidak dapat diperbaiki.

Pantai Teluk Tamiang dapat dijadikan case study dalam upaya pengelolaan ekowisata berkelanjutan di Indonesia, dengan mengintegrasikan aspek konservasi dan pemberdayaan masyarakat lokal.

Pantai Teluk Tamiang.DOK. Humas Pemkab Kotabaru Pantai Teluk Tamiang.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
PLTS Atap dan Power Wheeling Diusulkan untuk Kejar Target Listrik 100 GW
PLTS Atap dan Power Wheeling Diusulkan untuk Kejar Target Listrik 100 GW
LSM/Figur
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
LSM/Figur
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Pemerintah
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Swasta
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
LSM/Figur
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Pemerintah
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Swasta
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
LSM/Figur
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau