Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hutan Hujan Amazon Alami Kebakaran, Kekeringan, hingga Deforestasi

Kompas.com, 3 Januari 2025, 14:16 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hutan hujan Amazon mengalami kebakaran hebat, kekeringan ekstrem, hingga deforestasi lahan sepanjang tahun 2024. Hal ini menyebabkan hilangnya bioma atau ekosistem flora dan fauna yang menjadi penyeimbang perubahan iklim.

Hutan hujan Amazon mencakup wilayah sembilan negara, yaitu Brasil, Kolombia, Peru, Bolivia, Ekuador, Venezuela, Guyana, Suriname dan Guyana Perancis.

Mengutip AP News, Kamis (2/12/2025), hutan hujan Amazon mengalami kebakaran hutan terparah sejak terakhir kalinya pada 2005 lalu.

Baca juga: 5 Dampak Buruk Deforestasi, Ancam Siklus Air sampai Ketahanan Pangan

Otoritas setempat menduga kebakaran sengaja dilakukan untuk penggundulan hutan demi pembukaan lahan.

“Kebakaran dan kekeringan yang terjadi pada tahun 2024 di seluruh hutan hujan Amazon dapat menjadi indikator yang tidak menyenangkan bahwa kita sedang mencapai titik kritis ekologi yang lama ditakutkan,” ujar Direktur Advokasi Amazon Watch Andrew Miller.

Menurut lembaga nirlaba Rainforest Foundation AS, 2024 menjadi tahun terburuk bagi kebakaran hutan Amazon. Area yang terbakar sekitar 15,1 juta hektare antara Januari-Oktober.

Sebagian besar hutan hujan di Brazil diselimuti asap pada Agustus 2024, akibat kebakaran yang melanda Amazon, sabana Cerrado, lahan basah Pantanal, dan negara bagian Sao Paulo.

Amazon menyimpan sekitar 20 persen air tawar di dunia, serta keanekaragaman hayati termasuk 16.000 spesies pohon. Kendati demikian, pemerintah setempat memandang hutan tersebut sebagai wilayah yang harus dieksploitasi.

Sementara itu, keberlanjutan atau hak-hak masyarakat adatnya tak terlalu diperhatikan. Para ahli menyebut eksploitasi oleh individu maupun terorganisasi pun meningkat signifikan.

Lainnya, Sungai Amazon mulai kekeringan hingga menyebabkan beberapa negara mengumumkan keadaan darurat dan mendistribusikan makanan maupun air kepada penduduk yang terdampak.

Baca juga: Jika Gagal Patuhi Aturan Deforestasi UE, Indonesia Bisa Rugi Rp 50 Triliun

"Saya meyakini, orang-orang makin menyadari peran mendasar Amazon bagi kelangsungan hidup masyarakat secara keseluruhan. Namun, saya khawatir soal titik kehancuran Amazon yang tidak dapat dikembalikan lagi," ucap Pengacara Lingkungan Cesar Ipenza.

Tingkat Kehilangan Lahan Hutan Menurun

Di sisi lain, tingkat hilangnya hutan Amazon di kawasan Brazil dan Kolombia menurun. Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang keanekaragaman hayati juga sepakat, memberi masyarakat adat lebih banyak suara dalam keputusan konservasi alam.

“Jika hutan hujan Amazon ingin terhindar dari titik kritis, masyarakat adat akan menjadi faktor penentu,” tutur Miller.

Tingkat penurunan hutan di Amazon mencapai 30,6 persen, angka kerusakan terendah dalam sembilan tahun terakhir.

Akan tetapi, perbaikan di bawah kepemimpinan Presiden Luiz Inácio Lula da Silva dinilai kontras dengan deforestasi yang mencapai titik tertinggi dalam 15 tahun.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pertamina Lirik Tebu jadi Bahan Baku Bensin Nabati
Pertamina Lirik Tebu jadi Bahan Baku Bensin Nabati
BUMN
BRIN Dorong Pengembangan PLTSa untuk Tangani Sampah di Wilayah 3T
BRIN Dorong Pengembangan PLTSa untuk Tangani Sampah di Wilayah 3T
Pemerintah
Menteri LH Perkuat Penegakan Hukum Kasus Karhutla
Menteri LH Perkuat Penegakan Hukum Kasus Karhutla
Pemerintah
BMKG Sebut Hujan Bakal Melanda hingga 20 April, Ini Wilayah yang Harus Waspada
BMKG Sebut Hujan Bakal Melanda hingga 20 April, Ini Wilayah yang Harus Waspada
Pemerintah
Waste4Change: Produksi Sampah Nasional Per Hari Setara 12 Candi Borobudur
Waste4Change: Produksi Sampah Nasional Per Hari Setara 12 Candi Borobudur
LSM/Figur
Pangkas Emisi, Perusahaan Logistik Global Beralih ke Avtur Ramah Lingkungan
Pangkas Emisi, Perusahaan Logistik Global Beralih ke Avtur Ramah Lingkungan
Swasta
Gas Metana di Atmosfer Melonjak Dalam 4 Tahun, Tertinggi pada 2021
Gas Metana di Atmosfer Melonjak Dalam 4 Tahun, Tertinggi pada 2021
LSM/Figur
Minim Aksi Iklim, Pendapatan Rata-Rata Masyarakat Dunia Diprediksi Turun 15 Persen
Minim Aksi Iklim, Pendapatan Rata-Rata Masyarakat Dunia Diprediksi Turun 15 Persen
Pemerintah
ISO Perbarui Standar Utama Manajemen Lingkungan
ISO Perbarui Standar Utama Manajemen Lingkungan
Swasta
Dosen Unej Teliti Tanaman Zaman Prasejarah di Geopark Ijen
Dosen Unej Teliti Tanaman Zaman Prasejarah di Geopark Ijen
LSM/Figur
Krisis Selat Hormuz, FAO Ingatkan Bahaya Inflasi Pangan Global
Krisis Selat Hormuz, FAO Ingatkan Bahaya Inflasi Pangan Global
Pemerintah
KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
Pemerintah
Pakar IPB Beberkan Cara Berantas Lonjakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Pakar IPB Beberkan Cara Berantas Lonjakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Pemerintah
Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran
Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran
LSM/Figur
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau