KOMPAS.com - Menteri Energi Amerika Serikat (AS) Chris Wright mengatakan, pemanasan global adalah efek samping dari pembangunan dunia modern.
Wright menyampaikan hal tersebut saat membuka konferensi energi terbesar di AS, CERAWeek, pada Senin (10/3/2025).
"Pemerintahan (Presiden AS Donald) Trump akan memperlakukan perubahan iklim sebagaimana adanya, sebuah fenomena fisik global yang merupakan efek samping dari pembangunan dunia modern," kata Wright, sebagaimana dilansir Reuters.
Baca juga: Pemanasan Global Sebabkan Kadar Oksigen Danau di Dunia Turun
Dia mengatakan, minyak, gas, dan batu bara sangat penting bagi ekonomi global dan bahwa pertumbuhan permintaan energi di masa depan tidak terbatas.
"Segala sesuatu dalam hidup melibatkan pengorbanan. Segala sesuatu," sambung Wright.
Wright menyampaikan, pemerintahan AS saat ini akan mengakhiri berbagai kebijakan iklim di era mantan Presiden Joe Biden.
Dia menambahkan, berbagai kebijakan iklim yang telah diterapkan oleh Biden untuk memerangi pemanasan global sejauh ini tidaklah efektif.
Baca juga: Tanaman Pangan Penting Dunia Terancam Punah karena Pemanasan Global
Beberapa kebijakan Biden yang dia singgung di antaranya adalah memperluas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB), serta mendorong adopsi kendaraan listrik.
"Obatnya jauh lebih merusak daripada penyakitnya," ucap Wright.
Di sisi lain, menurut penelitian terbaru, kerusakan ekonomi yang disebabkan pemanasan global dan perubahan iklim enam kali lebih buruk daripada perkiraan sebelumnya.
Temuan tersebut mengemuka dalam studi baru berjudul The Macroeconomic Impact of Climate Change: Global vs Local Temperature yang dirilis dalam National Bureau of Economic Research.
Saat ini, rata-rata suhu udara di Bumi telah naik 1 derajat celsius bila dibandingkan era pra-industri. Para ilmuwan bahkan memperkirakan suhu Bumi bisa naik 3 derajat celsius pada 2100.
Baca juga: Dikira Ramah Lingkungan, Bahan Pendingin AC HFO Ternyata Picu Pemanasan Global
Dalam penelitian tersebut, kenaikan suhu Bumi 1 derajat celsius dapat menurunkan produk domestik bruto (PDB) dunia sebesar 12 persen.
Kenaikan suhu Bumi mencapai 3 derajat celsius bisa menurunkan output, modal, dan konsumsi lebih dari 50 persen pada 2100.
Menurut penelitian tersebut, kerugian ekonomi akibat perubahan iklim sangatlah parah sehingga sebanding dengan kerusakan ekonomi yang disebabkan oleh perang di dalam negeri dan secara permanen.
"Pertumbuhan ekonomi masih akan terjadi, namun pada akhir abad ini masyarakat mungkin akan menjadi 50 persen lebih miskin dibandingkan jika bukan karena perubahan iklim," kata Adrien Bilal, ekonom dari Harvard yang menulis laporan tersebut bersama Diego Kanzig dari Northwestern University.
Baca juga: Bisakah Menanam Pohon di Kutub Utara Atasi Pemanasan Global?
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya