Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Politik Buruk Menyusahkan Bumi, Picu Kemunduran Transisi Energi

Kompas.com, 22 April 2025, 18:00 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Laporan think-tank lingkungan Carbon Tracker menemukan, peristiwa politik tertentu, seperti terpilihnya kembali Donald Trump dan krisis energi akibat perang di Ukraina, telah menyebabkan perusahaan-perusahaan minyak dan gas besar semakin menjauh dari komitmen iklim global.

Hasil tersebut disimpulkan setelah Carbon Tracker menilai 30 perusahaan minyak dan gas hulu terbesar di dunia berdasarkan enam kriteria kunci terkait aksi iklim.

Beberapa metrik yang dipakai termasuk opsi investasi, sanksi atau regulasi yang mungkin memengaruhi rencana perusahaan, rencana produksi, target emisi karbon dan metana, serta sistem kompensasi yang diterima eksekutif perusahaan.

Dalam proses penilaian, setiap perusahaan diberi nilai berdasarkan kinerja mereka, dengan ‘A’ menjadi yang tertinggi dan ‘H’ yang terendah.

Baca juga: Transisi dari Bahan Bakar Fosil Bisa Perkuat Ketahanan Energi Negara

Laporan tersebut menyoroti bahwa meskipun ada upaya global untuk beralih ke energi yang lebih bersih, termasuk janji global untuk melipatgandakan kapasitas energi terbarukan pada tahun 2030, banyak produsen minyak dan gas terbesar justru meningkatkan produksi bahan bakar fosil dan menyetujui proyek-proyek yang tidak sesuai dengan Perjanjian Paris.

Perusahaan-perusahaan minyak dan gas besar tersebut diketahui juga menjadi lebih percaya diri atau agresif dalam mengejar produksi bahan bakar fosil sejak Donald Trump dilantik.

Selain itu tidak satu pun dari perusahaan yang dianalisis mendapat nilai lebih tinggi dari ‘D’, dan tidak ada perusahaan yang unggul di lebih dari satu metrik.

"Sebagian besar perusahaan minyak dan gas besar tidak memperhitungkan penurunan permintaan bahan bakar fosil di masa depan. Tindakan mereka juga masih jauh dari jalur yang diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan Perjanjian Paris," ungkap Analis Carbon Tracker dan penulis utama laporan Rich Collett-White, dikutip dari Edie, Selasa (22/4/2025).

Temuan-temuan ini menimbulkan kekhawatiran bagi para investor, terutama mereka yang memiliki mandat atau fokus pada isu-isu iklim.

Laporan pun menyarankan untuk melakukan penilaian investasi kembali pada perusahaan-perusahaan yang gagal meningkatkan target iklim mereka atau menyelaraskan strategi mereka dengan tujuan-tujuan Perjanjian Paris.

Baca juga: Emisi Industri Bahan Bakar Fosil Picu Kenaikan Signifikan Permukaan Laut

Laporan juga menyarankan bank dan perusahaan asuransi untuk berhati-hati terhadap risiko finansial jangka panjang yang mungkin timbul dari terus mendukung perusahaan-perusahaan yang strateginya tidak sejalan dengan upaya global untuk mengatasi perubahan iklim dalam jangka panjang.

Lebih lanjut, laporan Carbon Tracker menyoroti pula peningkatan investasi dan pengembangan proyek-proyek LNG.

Banyak perusahaan di sektor energi melihat LNG sebagai bahan bakar yang dapat membantu dalam proses transisi dari bahan bakar fosil ke energi yang lebih bersih.

Sementara itu, meskipun ada sedikit kemajuan dalam pengurangan emisi metana oleh perusahaan-perusahaan minyak dan gas, banyak di antaranya masih gagal mengatasi sumber-sumber kebocoran metana yang signifikan.

Akibatnya, perusahaan seperti CNOOC dan Coterra mengalami penurunan peringkat dalam laporan Carbon Tracker karena kinerja mereka yang buruk dalam hal emisi metana.

Baca juga: Perubahan Iklim Dapat Tingkatkan Kadar Arsenik dalam Beras, Apa Bahayanya?

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kebijakan yang Kerap Berubah Bikin Swasta Enggan Investasi di Penanganan Sampah
Kebijakan yang Kerap Berubah Bikin Swasta Enggan Investasi di Penanganan Sampah
Swasta
Peraturan Mendagri Terbaru Pajaki Kendaraan Listrik Sesuai Selera Gubernur, Melawan Visi Prabowo Tekan Impor BBM
Peraturan Mendagri Terbaru Pajaki Kendaraan Listrik Sesuai Selera Gubernur, Melawan Visi Prabowo Tekan Impor BBM
LSM/Figur
Kompleksnya Perdagangan Satwa Liar Ilegal, Aktor Utama Makin Sulit Diburu
Kompleksnya Perdagangan Satwa Liar Ilegal, Aktor Utama Makin Sulit Diburu
Pemerintah
Pencemaran Air Perparah Dampak El Nino Godzilla di Indonesia
Pencemaran Air Perparah Dampak El Nino Godzilla di Indonesia
LSM/Figur
Krisis Iklim Perpanjang Durasi Kebakaran Hutan di Amerika Utara
Krisis Iklim Perpanjang Durasi Kebakaran Hutan di Amerika Utara
LSM/Figur
Korupsi Hambat Perbaikan Tata Kelola Sampah dan Transisi Ekonomi Hijau
Korupsi Hambat Perbaikan Tata Kelola Sampah dan Transisi Ekonomi Hijau
LSM/Figur
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
Pemerintah
RI Dinilai Sibuk Bahas Teknologi dan Lupa Bangun Ekosistem Penanganan Sampah
RI Dinilai Sibuk Bahas Teknologi dan Lupa Bangun Ekosistem Penanganan Sampah
Swasta
Eks Kepala DLH DKI Jakarta Jadi Tersangka Kasus Longsor Sampah Bantargebang
Eks Kepala DLH DKI Jakarta Jadi Tersangka Kasus Longsor Sampah Bantargebang
Pemerintah
Gen Z dan Karyawan Senior Berpengalaman Makin Sulit Cari Kerja
Gen Z dan Karyawan Senior Berpengalaman Makin Sulit Cari Kerja
Pemerintah
Gasifikasi Dinilai Tak Cocok untuk Sampah Kota, BRIN Soroti Risiko PLTSa di Indonesia
Gasifikasi Dinilai Tak Cocok untuk Sampah Kota, BRIN Soroti Risiko PLTSa di Indonesia
LSM/Figur
Gen Z Kerap Dicap Lembek di Tempat Kerja, Mitos atau Realita?
Gen Z Kerap Dicap Lembek di Tempat Kerja, Mitos atau Realita?
LSM/Figur
Studi Terbaru: Kondisi Thailand Berpotensi Seterik Gurun Sahara pada 2070
Studi Terbaru: Kondisi Thailand Berpotensi Seterik Gurun Sahara pada 2070
Pemerintah
Parlemen India Disorot Usai Tolak Usulan Tambah Keterwakilan Perempuan
Parlemen India Disorot Usai Tolak Usulan Tambah Keterwakilan Perempuan
Pemerintah
KemenPU: Orang Indonesia Malas Pilah Sampah Sekaligus Ingin Bayar Murah
KemenPU: Orang Indonesia Malas Pilah Sampah Sekaligus Ingin Bayar Murah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau