Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pertamina NRE Investasi di PLTS Filipina hingga Kembangkan Baterai EV

Kompas.com, 4 Juli 2025, 17:31 WIB
Zintan Prihatini,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) melakukan sejumlah langkah transisi energi.

CEO Pertamina NRE, John Anis, menjelaskan bahwa pihaknya telah membeli 20 persen saham Citicore Renewable Energy Corporation (Citicore) Filipina dengan nilai investasi 120 juta dollar AS atau Rp 1,95 triliun.

"Kami punya pertimbangan strategis, salah satunya kalau dilihat RUPTL memang sudah 76 persen dengan 60 persen dari renewable 16 persennya untuk storage. Tetapi kalau lihat detail, tetap di lima tahun pertama itu renewable-nya enggak terlalu banyak," ungkap John dalam acara di Jakarta Pusat, Kamis (3/7/2025).

Investasi tersebut, lanjut dia, sekaligus sebagai persiapan untuk panel surya domestik.

Baca juga: Pemanfaatan PLTS Atap Capai 445 MW, Terbanyak dari Sektor Rumah Tangga

Pasalnya, kapasitas terpasang PLTS khususnya PLTS atap di Indonesia pada 2024 baru mencapai sekitar 800 megawatt (MW). Berbanding terbalik dengan Filipina yang menargetkan 1 gigawatt (GW) kapasitas terpasang per tahunnya.

"Misalnya kalau kita membangun 1 megawatt mungkin di kita bisa satu-dua minggu, di sana mungkin sehari dua hari mereka bisa selesai. Berbicara soal solar panel kuncinya di konstruksinya, mereka punya pengalaman yang cukup panjang karena dari perusahaan konstruksi," jelas John.

"Jadi, itulah yang ingin juga kami ambil ya. Jadi, kami ada transfer pengetahuan, mengambil komitmen Indonesia sebagai transisi energi di Asia terutama di Asia Tenggara dan akselerasi kemampuan konstruksi," imbuh dia.

Pertamina NRE turut andil dalam pengembangan baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di dalam negeri. John menyatakan bahwa baterai EV ditargetkan bisa diproduksi pada 2026 mendatang.

Baca juga: Kombinasi Panel Surya Atap dan Baterai EV Penuhi 85 Persen Listrik Jepang

Pertamina NRE, selaku anak perusahaan Pertamina, ditunjuk untuk membangun ekosistem baterai EV sekaligus berperan dalam konsorsium yang dipimpin Antam, Indonesia Battery Corporation (IBC), dan Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CBL).

"Untuk fase pertama (kapasitas baterai) 6,9 gigawatt hour tetapi nanti akan ke 15 gigawatt hour, jadi tambah sekitar 8,1 untuk fase 2. Kami berharap juga bisa produksi segera di tahun 2026," tutur dia.

Dia menyebut, produksi baterai EV membutuhkan investasi yang sangat besar. Kendati demikian, John tak memerinci berapa nilai investasi tersebut.

"Di awal lebih banyak mungkin (bahan baku) lithium, tetapi ujung-ujungnya nanti nikel. Jadi ini bagian dari planning yang besar, masih panjang dan memang investasinya nanti cukup luar biasa," ujar John.

Baca juga: Pabrik Panel Surya Terbesar di Indonesia Bakal Produksi 1,4 Juta Lembar Per Tahun

Perusahaan pun berencana memproduksi battery electric vehicle (BEV) hingga baterai daur ulang. John menyebut, Pertamina NRE menggandeng LONGi Green Technology Co Ltd, produsen panel surya terbesar di dunia untuk membangun pabrik di Karawang, Jawa Barat. 

"Kami mulai tentu saja masih SMB di awal. Tetapi, harapannya nanti kami bisa mulai ekspansi dulu terus mulai manufacturing. Bahkan cita-citanya, dan LONGi juga sudah setuju (Pertamina) bisa brand sendiri," ucap dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Pemerintah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
Studi Ungkap 50 Persen Perairan Dunia Terkontaminasi Sampah
LSM/Figur
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Volume Sampah Dunia Diprediksi Melonjak 80 Persen pada 2050
Pemerintah
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035
Pemerintah
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang
Pemerintah
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
Swasta
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
LSM/Figur
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau