Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cuma 19 Persen Proyek REDD+ Sukses, Tanda Imbalan Tak Cukup Selamatkan Hutan

Kompas.com, 14 Oktober 2025, 19:03 WIB
Monika Novena,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science mengungkapkan hanya sejumlah kecil proyek kompensasi karbon (carbon offset) hutan tropis yang berhasil mencapai pengurangan deforestasi yang signifikan.

Menurut studi tersebut bahkan hanya 19 persen dari proyek-proyek tersebut yang berhasil memenuhi target dan benar-benar efektif menekan deforestasi.

Proyek kompensasi karbon yang dimaksud merupakan bagian dari inisiatif Reducing Emissions from Deforestation and Degradation Plus (REDD+) .

REDD+ adalah program global yang berupaya mengurangi emisi gas rumah kaca.

Caranya adalah dengan memberikan imbalan atau insentif finansial kepada negara berkembang agar mereka melestarikan hutan, meningkatkan penyimpanan karbon di dalamnya, dan mendorong kesejahteraan masyarakat lokal.

Seperti yang diketahui, hutan tropis memiliki fungsi yang sangat penting dalam menjaga keanekaragaman hayati dan menyediakan layanan ekosistem.

Sayangnya, kerusakan dan hilangnya hutan mengakibatkan pelepasan sekitar lima miliar metrik ton karbon dioksida setiap tahun, jumlah yang hanya kalah dari emisi yang dihasilkan oleh penggunaan bahan bakar fosil.

Baca juga: Peran Strategis Industri Kertas dalam Menjaga Hutan Lestari

Nah, program REDD+ memberikan insentif finansial kepada pemerintah, organisasi, komunitas, hingga individu di kawasan hutan sebagai imbalan atas upaya mereka melindungi hutan dan mencegah pelepasan emisi gas rumah kaca yang bersumber dari kerusakan hutan.

Melansir Down to Earth, Jumat (10/10/2025) secara global, lebih dari 350 proyek REDD+ yang bersifat 'sukarela' beroperasi di seluruh dunia, yang sebagian besar didanai melalui penjualan kompensasi karbon (carbon offsets).

Kompensasi karbon adalah mekanisme di mana pembeli, seperti industri penghasil polusi, mendanai upaya yang menghilangkan atau menghindari emisi GHG untuk "mengimbangi" (offset) emisi mereka sendiri. Ini membantu perusahaan mengkompensasi jejak karbon mereka dan memenuhi tujuan lingkungan.

Proyek-proyek ini berada di bawah pasar karbon sukarela yaitu pasar terdesentralisasi tempat pelaku swasta secara sukarela membeli dan menjual kredit karbon yang merepresentasikan pengurangan atau penghilangan karbon dioksida. Satu kredit karbon setara dengan 1 ton CO2 ekuivalen yang dihindari atau dihilangkan.

Popularitas proyek-proyek ini meningkat pesat, terbukti dari fakta bahwa proyek ini mewakili dua per tiga dari total 227,7 juta kompensasi karbon yang diperjualbelikan dari sektor penggunaan lahan. Total nilai pasar untuk kompensasi ini mencapai 1,3 miliar dolar AS pada tahun 2021.

Namun, proyek-proyek semacam itu telah dipertanyakan karena melebih-lebihkan manfaat iklimnya yang mengakibatkan penurunan nilai kompensasi karbon REDD+ sebesar 62 persen antara tahun 2022 dan 2023.

Penelitian ini sendiri mengambil sampel 54 proyek REDD+ dari berbagai wilayah, yaitu Amerika Selatan, Afrika, dan Asia Tenggara.

Kelima puluh empat proyek ini merupakan bagian dari proyek REDD+ sukarela yang telah mendapat sertifikasi dari Verified Carbon Standard (VCS) yang dikelola oleh Verra.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Agroforestri Karet di Kalimantan Barat Kian Tergerus karena Konversi Sawit
Agroforestri Karet di Kalimantan Barat Kian Tergerus karena Konversi Sawit
LSM/Figur
Perkebunan Sawit Tak Bisa Gantikan Hutan untuk Serap Karbon dan Cegah Banjir
Perkebunan Sawit Tak Bisa Gantikan Hutan untuk Serap Karbon dan Cegah Banjir
Pemerintah
Di Balik Kayu Gelondongan yang Terdampar
Di Balik Kayu Gelondongan yang Terdampar
LSM/Figur
Survei LinkedIn 2025 Sebut Permintaan Green Skills di Dunia Kerja Meningkat
Survei LinkedIn 2025 Sebut Permintaan Green Skills di Dunia Kerja Meningkat
Swasta
Menunda Net Zero Picu Gelombang Panas Ekstrem, Wilayah Dekat Khatulistiwa Paling Terdampak
Menunda Net Zero Picu Gelombang Panas Ekstrem, Wilayah Dekat Khatulistiwa Paling Terdampak
LSM/Figur
Guru Besar IPB Sebut Kebun Sawit di Sumatera Bisa Jadi Hutan Kembali
Guru Besar IPB Sebut Kebun Sawit di Sumatera Bisa Jadi Hutan Kembali
Pemerintah
Banjir Sumatera Jadi Pelajaran, Kalimantan Utara Siapkan Regulasi Cegah Ekspansi Sawit
Banjir Sumatera Jadi Pelajaran, Kalimantan Utara Siapkan Regulasi Cegah Ekspansi Sawit
Pemerintah
Panas Ekstrem Ganggu Perkembangan Belajar Anak Usia Dini
Panas Ekstrem Ganggu Perkembangan Belajar Anak Usia Dini
Pemerintah
Implementasi B10 Hemat Rp 100 T Per Tahun, Ini Strategi Pertamina agar Pasokan Stabil
Implementasi B10 Hemat Rp 100 T Per Tahun, Ini Strategi Pertamina agar Pasokan Stabil
BUMN
Genjot Pengumpulan Botol Plastik PET, Coca-Cola Indonesia Luncurkan Program “Recycle Me” 2025
Genjot Pengumpulan Botol Plastik PET, Coca-Cola Indonesia Luncurkan Program “Recycle Me” 2025
Swasta
KLH Janji Tindak Tegas Perusahaan yang Picu Banjir di Sumatera Utara
KLH Janji Tindak Tegas Perusahaan yang Picu Banjir di Sumatera Utara
Pemerintah
27 Harimau Sumatera Terdeteksi di Leuser, Harapan Baru untuk Konservasi
27 Harimau Sumatera Terdeteksi di Leuser, Harapan Baru untuk Konservasi
LSM/Figur
Proyek Bioetanol Kurang Libatkan Petani, Intensifikasi Lahan Perkebunan Belum Optimal
Proyek Bioetanol Kurang Libatkan Petani, Intensifikasi Lahan Perkebunan Belum Optimal
Swasta
Perempuan dan Anak Jadi Korban Ganda dalam Bencana Sumatera, Mengapa?
Perempuan dan Anak Jadi Korban Ganda dalam Bencana Sumatera, Mengapa?
LSM/Figur
4 Gajah Terlatih Bantu Angkut Material akibat Banjir di Aceh
4 Gajah Terlatih Bantu Angkut Material akibat Banjir di Aceh
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau