Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Indonesia Mundur dalam Transisi Energi, 19 Juta Lapangan Kerja Berpeluang Hilang

Kompas.com, 20 November 2025, 10:00 WIB
Manda Firmansyah,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia berisiko melewatkan masa emas ekonomi hijau, sebuah peluang pertumbuhan yang bisa dicapai tanpa merusak lingkungan.

Alih-alih memanfaatkan momentum ini, pemerintah justru mendorong target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang bebannya akan diwariskan ke generasi berikutnya.

Dalam dokumen komitmen iklim Second Nationally Determined Contribution (SNDC), Indonesia terlihat masih mengandalkan pertambangan dan industri ekstraktif untuk mengejar pertumbuhan ekonomi.

"Saya khawatir kalau model SNDC-nya Indonesia seperti sekarang dan komitmen iklimnya tidak jelas seperti ini. Kita akan melewati keuntungan dari ekonomi hijau, bahkan sampai 2035," ujar Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira Adhinegara di Jakarta, Rabu (19/11/2025).

Negara lain telah lebih dulu memperbaiki sumber daya alam dan mengembangkan teknologi transisi energi.

Indonesia justru melewatkan momentum tersebut, hingga tertinggal satu dekade dari Tiongkok, Vietnam, dan Filipina.

Keterlambatan ini dipicu lemahnya perencanaan, ketidaksiapan industri, serta ketidakmampuan menjawab keraguan investor.

Baca juga: IESR: Revisi Perpres 112 Tahun 2022 Ancam Target Transisi Energi

Vietnam dan Filipina sudah mengamankan fondasi transisi energi sejak 2015. Vietnam, misalnya, melakukan lewat ledakan panel surya, Filipina melalui reformasi kelistrikan.

"Ada kabar baru 2 jam lalu dari teman-teman Filipina ini. Jadi, proyek pembangkit (listrik tenaga) gasnya akhirnya dibatalkan. Kenapa? Karena proyek pembangkit gasnya itu mengancam terumbu karang di Verde (Island) Passage," tutur Bhima.

Keputusan seperti ini menunjukkan kesadaran Filipina sebagai negara kepulauan yang rentan krisis iklim. Indonesia punya kondisi serupa dan dapat memilih peran: menjadi korban atau menjadi pemain utama.

Bhima menyebut Indonesia justru bergerak mundur dan kehilangan peluang menciptakan 19 juta lapangan kerja dari transisi energi, belum termasuk inisiatif energi terbarukan berbasis komunitas.

Kesempatan besar itu terbuang karena pemerintah percaya pada narasi yang keliru, termasuk keyakinan bahwa hilirisasi nikel otomatis mendukung transisi energi.

Kenyataannya, pasar mobil listrik di Indonesia tidak berkembang, sementara industri nikel mengalami kelebihan pasokan dan banyak perusahaan tumbang.

"Disebut ya di SNDC, padahal yang terjadi apa. EV-nya Indonesia enggak booming, nikelnya dikeruk, over supply, terus banyak yang bangkrut. Jadi, masa keemasan golden period-nya itu sudah hilang," ucapnya.

Di sisi lain, Pakistan justru mengalami booming panel surya dan kini kebingungan karena sudah telanjur berinvestasi pada PLTU batu bara. Indonesia terancam mengalami masalah serupa jika tidak segera mengejar ketertinggalan transisi energi.

Bhima meminta pemerintah berhenti menunggu “booming komoditas” sebagai solusi pembangunan. Pola lama itu dinilai tidak akan mengantar Indonesia menuju pertumbuhan 8 persen yang berkualitas, justru memperburuk ketimpangan dan membebani APBN dengan kerusakan lingkungan.

"Jadi, isunya adalah (pertumbuhan ekonomi) 8 persen mengabaikan lingkungan versus pertumbuhannya mungkin tidak akan mencapai 8 persen, tetapi lapangan kerja yang tersedia banyak, anak mudanya bahagia, alamnya juga kemudian bisa lebih terjaga," ujar Bhima.

Baca juga: Kata Walhi, RI dan Brasil Kontraproduktif Atasi Krisis Iklim jika Transisi Energi Andalkan Lahan

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Aeon Group dan Baznas Sinergi Pulihkan Layanan Pendidikan dan Kesehatan Pascabencana Sumatra
Aeon Group dan Baznas Sinergi Pulihkan Layanan Pendidikan dan Kesehatan Pascabencana Sumatra
Swasta
Tren Micro-Retirement, Upaya Gen Z Pulih dari Burnout
Tren Micro-Retirement, Upaya Gen Z Pulih dari Burnout
LSM/Figur
OJK dan Inggris Luncurkan Kelompok Kerja Pembiayaan Iklim
OJK dan Inggris Luncurkan Kelompok Kerja Pembiayaan Iklim
Pemerintah
UNICEF Gandeng DBS Foundation untuk Tingkatkan Kesejahteraan Anak di NTT
UNICEF Gandeng DBS Foundation untuk Tingkatkan Kesejahteraan Anak di NTT
LSM/Figur
Belajar dari Pencemaran Sungai Cisadane, Reproduksi Ikan Bisa Terancam
Belajar dari Pencemaran Sungai Cisadane, Reproduksi Ikan Bisa Terancam
LSM/Figur
Perlu Strategi Terpadu Atasi 65 Persen Sampah Nasional yang Belum Terkelola
Perlu Strategi Terpadu Atasi 65 Persen Sampah Nasional yang Belum Terkelola
LSM/Figur
PLTM Kukusan 2 di Lampung Beroperasi, Produksi Listrik 35,02 GWh per Tahun
PLTM Kukusan 2 di Lampung Beroperasi, Produksi Listrik 35,02 GWh per Tahun
Swasta
Transisi Energi Indonesia Hadapi Tantangan AI dan Data Center, PLTP Perlu Modernisasi Sistem
Transisi Energi Indonesia Hadapi Tantangan AI dan Data Center, PLTP Perlu Modernisasi Sistem
Swasta
Zulhas Sebut Proyek WtE Hanya Selesaikan 20 Persen Sampah di Indonesia
Zulhas Sebut Proyek WtE Hanya Selesaikan 20 Persen Sampah di Indonesia
Pemerintah
Ilmuwan Temukan Spesies Tokek Baru di Cagar Alam Kamboja
Ilmuwan Temukan Spesies Tokek Baru di Cagar Alam Kamboja
LSM/Figur
KLH Bekukan Izin 80 Unit Ekstraksi Nikel dan Batu Bara
KLH Bekukan Izin 80 Unit Ekstraksi Nikel dan Batu Bara
Pemerintah
Lowongan Kerja KKP 2026 untuk Formasi di Sumba Timur, Ini Syaratnya
Lowongan Kerja KKP 2026 untuk Formasi di Sumba Timur, Ini Syaratnya
Pemerintah
Di London, Proses Daur Ulang Masih Stagnan meski Robot AI Bantu Sortir Sampah
Di London, Proses Daur Ulang Masih Stagnan meski Robot AI Bantu Sortir Sampah
Swasta
SDG Academy Indonesia Terbaru Diluncurkan, Jadi Pusat Pembelajaran Nasional
SDG Academy Indonesia Terbaru Diluncurkan, Jadi Pusat Pembelajaran Nasional
Pemerintah
Mendagri: RI Urutan Kelima Negara Penghasil Sampah Terbanyak di Dunia
Mendagri: RI Urutan Kelima Negara Penghasil Sampah Terbanyak di Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau