KOMPAS.com - Salah satu jenis lamun di Laut Mediterania, Posidonia oceanica terancam sektor pariwisata di pulau-pulau Mediterania. Spesies lamun endemik ini menjadi fondasi ekosistem pesisir yang menyerap karbon paling efektif dalam jangka panjang.
Posidonia oceanica hanya tumbuh satu sentimeter persegi per tahun dan membutuhkan waktu hingga enam abad untuk meluas menjadi satu hektar.
Baca juga:
Namun, jangkar kapal yang merobek dasar laut dapat menghancurkan penyimpanan karbon selama ribuan tahun hanya dalam hitungan menit.
Ledakan pariwisata di pulau-pulau Mediterania memperparah kerapuhan ekologis padang Posidonia oceanica.
Setiap hari kapal pesiar berlabuh dan bandara penuh sesak oleh wisatawan yang mengunjungi pulau-pulau Mediterania. Bahkan, terdapat 18,7 juta pengunjung di Kepulauan Balearic, 4,5 juta di Pulau Sardinia, dan 3,1 juta di Pulau Korsika pada tahun 2024.
Industri pariwisata yang menggerakan perekonomian pulau-pulau tersebut mengancam keberlanjutan padang Posidonia oceanica, yang menjadi rumah bagi 20 persen keanekaragaman hayati di Laut Mediterania.
Sebagai informasi, studi tahun 2012 dari IUCN mengklaim Posidonia oceanica berpotensi menyimpan 11-89 persen karbon dioksida yang dihasilkan oleh negara-negara Mediterania sejak Revolusi Industri.
Sementara itu, studi tahun 2025 dari Nature menyatakan, semua jenis lamun menyerap 10 persen karbon lautan setiap tahunnya, dengan Posidonia oceanica memiliki kapasitas penyimpanan jangka panjang tertinggi.
Baca juga:
Setiap pulau memiliki cerita tersendiri terkait keberlangsungan padang lamun. Simak selengkapnya.
Ilustrasi Posidonia oceanica praderia. Lamun Posidonia oceanica di Laut Mediterania terancam pariwisata massal. Jangkar kapal bisa menghancurkan simpanan karbon ribuan tahun.Aturan Uni Eropa telah melindungi Posidonia oceanica sejak tahun 1992. Pada tahun 2006, Uni Eropa mengeluarkan undang-undang pelarangan penangkapan ikan dengan pukat di kawasan lindung laut yang ditumbuhi padang Posidonia oceanica.
Meskipun kerusakan padang Posidonia oceanica berkurang, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penangkapan ikan dengan pukat masih tetap berlanjut.
Pariwisata berubah menjadi sektor paling mengancam keberlanjutan ekosistem selama dekade terakhir.
Sektor pariwisata di pulau-pulau Mediterania berkembang sangat pesat. Pencegahan kerusakan padang Posidonia oceanica belum diantisipasi aturan di tingkat nasional untuk masing-masing negara.
Spanyol telah menjadikan Kepulauan Balearic sebagai wilayah Mediterania pertama yang melarang penambatan kapal di padang lamun secara mutlak.
Negara tersebut juga melarang penangkapan ikan dengan pukat, pembuangan limbah, pembangunan proyek kabel bawah laut, serta perluasan pelabuhan di daerah yang ditumbuhi padang lamun. Pelanggar bisa dijatuhkan denda hingga 450.000 euro (sekitar Rp 8,8 miliar).
Namun, peraturan tidak selalu beriringan dengan penegakan hukum. Layanan Pengawasan padang Posidonia oceanica beroperasi secara musiman di Kepulauan Balearic, dengan sebagian besar stafnya tidak dapat mengeluarkan denda.
Sebagai contoh, pada tahun 2025, petugas lingkungan meminta 6.764 kapal di perairan Kepulauan Balearic untuk pindah, dengan hanya 43 yang didenda. Yang terberat justru mengendalikan perahu sewaan berukuran kecil.
"Terdapat 3.600 perahu rekreasi terdaftar, tetapi jumlahnya lebih dari dua kali lipat perahu ilegal,P ujar presiden Asosiasi Perusahaan Penyewaan Kapal Balearic, Pedro Francisco Gil, dilansir dari Euro Observer, Senin (5/1/2026).
Pengawasan menggunakan drone dan alat canggih lainnya memang sudah ditingkatkan. Akan tetapi, penegakan hukum masih lemah karena kekurangan kehadiran petugas lingkungan.
Baca juga: Baru 10 Persen Luas Padang Lamun di RI yang Tervalidasi
Lamun Posidonia oceanica di Laut Mediterania terancam pariwisata massal. Jangkar kapal bisa menghancurkan simpanan karbon ribuan tahun.Persentase julah kapal pesiar berukuran 24-60 meter yang berlabuh di perairan Mediterania Perancis naik 449 persen pada periode tahun 2010-2018.
Pulau Korsika, Perancis, memberlakukan peraturan ketat terhadap kapal pesiar dengan panjang lebih dari 24 meter. Kapal tersebut harus berlabuh agak jauh dari lepas pantai sejak tahun 2020, jika dilanggar maka ada denda 100.000 euro (sekitar Rp 1,9 miliar) dan pengusiran.
Namun, para pengusaha menyiasatinya dengan membangun kapal pesiar yang panjangnya kurang dari 24 meter.
Menurut Direktur Pelabuhan Bonifacio, Michel Mallaroni, penegakan hukum aturan tersebut sulit.
"Untuk menjatuhkan denda, Anda memerlukan foto jangkar yang diangkat dengan tanaman yang tercabut akarnya," ucap Mallaroni.
Di sisi lain, penambatan ilegal kapal pesiar dalam kawasan padang Posidonia oceanica menurun dari 13.630 sebelum tahun 2020, menjadi 1.955 pada 2024.
Hanya ada 10 kapal patroli untuk memantau garis pantai Kosrika sepanjang 1.000 kilometer, dengan dua kapal yang didenda pada tahun 2024 dan hanya segelintir pemilik membayar hingga 100.000 euro sejak undang-undang itu disahkan.
Dalam kebanyakan kasus, kapal-kapal pesiar yang melanggar aturan hanya diminta untuk pindah ke tempat lain.
Lamun Posidonia oceanica di Laut Mediterania terancam pariwisata massal. Jangkar kapal bisa menghancurkan simpanan karbon ribuan tahun.Italia tidak memiliki undang-undang khusus yang melarang penambatan kapal di kawasan padang Posidonia oceanica.
Aturan perlindungan padang lamun di Italia bervariasi, tergantung wilayah. Hanya delapan persen perairannya yang dilindungi di Taman Nasional Kepulauan Maddalena di Sardinia, yang merupakan rumah bagi beberapa hamparan lamun paling alami di Italia.
“Tanpa undang-undang nasional, kami tidak berdaya,” tutur Direktur Taman Nasional Kepulauan Maddalena, Giulio Plastina.
Pada tahun 2024, Penjaga Pantai pulau La Maddalena mendenda 29 kapal sebesar 50 euro (sekitar Rp 978.700) karena melintasi kawasan lindung.
Nilai denda tersebut terlau kecil, mengingat pada 2024 saja, Taman Nasional Kepulauan Maddalena mengeluarkan 13.500 izin berlayar di perairannya.
Plastina berencana mewajibkan pelampung tambat di dalam Taman Nasional Kepulauan Maddalena untuk mencegah kapal merusak ekosistem laut saat berlabuh
“Saat ini, perahu ada di mana-mana. Kita perlu mengendalikan jumlah perahu, jika tidak, akan sangat sulit untuk melindungi ekosistem yang rapuh seperti ini,” ucapnya.
Laporan WWF pada Juni 2025 memperkirakan 50.000 hektar padang Posidonia oceanica hancur akibat penambatan kapal di seluruh Mediterania pada tahun 2024, dengan Italia sebagai negara yang paling terdampak, diikuti oleh Spanyol.
Baca juga:
Sementara itu, kondisi berbeda terjadi di Pulau Gyaros (Giaros), pulau Yunani yang gersang dan tidak berpenghuni di Cyclades utara. Pulau ini dikenal sebagai oasis kehidupan di Laut Mediterania.
“Padang rumput Posidonia (oceanica) yang subur di bawah permukaan laut, tempat sinar matahari hilang dalam birunya lautan yang tak berujung, dan formasi karang yang lebih dalam lagi, membentuk pemandangan bawah laut dengan nilai lingkungan yang unik dan keindahan yang tak tertandingi,” ujar CEO WWF Hellas, Demetres Karavellas, dilansir dari Greek Reporter.
Pulau Gyaros menjadi tempat pengasingan dan penyiksaan selama kediktatoran militer pasca-Perang Saudara di Yunani (1946-1949). Pulau Gyaros menjadi tempat pengasingan sebanyak 20.000 orang yang berarti melanjutkan tradisi sejak masa Romawi Kuno.
"Kami ingin pulau ini, yang dulunya merupakan tempat pengasingan dan kematian, menjadi pulau kehidupan dan harapan," tutur Karavellas.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya