Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

IESR Sebut Impor Minyak Indonesia Tak Terdampak Konflik AS-Venezuela

Kompas.com, 5 Januari 2026, 16:06 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - CEO Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa mengatakan, dalam jangka pendek, konflik Amerika Serikat (AS) dan Venezuela tidak berdampak pada sektor energi seperti minyak dan gas di Indonesia.

Indonesia tidak mengimpor minyak dari Venezuela sehingga eskalasi konflik di negara Amerika Latin tersebut tak memengaruhi pasokan energi nasional.

Baca juga:

"Saya kira kita punya kedutaan di situ, hubungan diplomatik ada, tetapi hubungan ekonomi biasa-biasa saja. Apalagi kita enggak impor minyak dari mereka," ujar Fabby saat dihubungi Kompas.com, Senin (5/1/2026).

Konflik AS-Venezuela, impor minyak Indonesia tak terdampak

Waspada potensi dampak tidak langsung

Fabby menjelaskan, PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) memang memiliki aset di Venezuela.

PIEP menguasai 71,09 persen saham perusahaan minyak dan gas asal Perancis, Maurel & Prom (M&P).

Namun, Fabby melanjutkan, M&P secara badan hukum berkedudukan di Perancis yang menyebabkan aset tersebut tidak terdampak konflik AS-Venezuela.

"Kalau saya lihat dari misalnya ekspor, tujuan ekspor dari produksi minyak Venezuela ke Indonesia enggak ada, yang ada ke Malaysia. Untuk hari ini saya belum melihat (dampak lain), makanya saya katakan jangka pendek kan ini di Venezuela masih berkembang ya," jelas Fabby.

Baca juga:

IESR menyebutkan kondisi impor minyak Indonesia masih belum terpengaruh konflik Amerika Serikat dan Venezuela. SHUTTERSTOCK/DED PIXTO IESR menyebutkan kondisi impor minyak Indonesia masih belum terpengaruh konflik Amerika Serikat dan Venezuela.

Maka dari itu, Fabby mewanti-wanti potensi dampak tidak langsung dapat muncul dari sisi geopolitik.

Venezuela saat ini mengekspor sekitar 80 persen minyaknya ke China, sedangkan China dan India merupakan pemain besar energi global sekaligus anggota BRICS, bersama Rusia dan Indonesia.

Artinya, Indonesia perlu menentukan sikap seiring dengan pergerakan negara anggota BRICS.

"Apakah kita akan mengecam itu atau bagaimana? Yang menjadi persoalan adalah Indonesia juga sekarang sedang memfinalisasi negosiasi tarif dagang dengan Amerika, dan kalau sekarang kan basis negosiasinya kadang-kadang tergantung mood-nya Amerika," tutur Fabby.

Meski belum terpengaruh, pemerintah Indonesia diminta waspada dengan kondisi geopolitik.

"Kalau Trump merasa Indonesia enggak kooperatif atau apa kan bisa jadi ya berubah," imbuh dia.

Fabby menilai pengaruh terhadap harga minyak dunia akibat ketegangan AS dan Venezuela juga sangat minim. Produksi minyak Venezuela hanya sekitar satu persen dari total produksi global. 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau