KOMPAS.com - CEO Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa mengatakan, dalam jangka pendek, konflik Amerika Serikat (AS) dan Venezuela tidak berdampak pada sektor energi seperti minyak dan gas di Indonesia.
Indonesia tidak mengimpor minyak dari Venezuela sehingga eskalasi konflik di negara Amerika Latin tersebut tak memengaruhi pasokan energi nasional.
Baca juga:
"Saya kira kita punya kedutaan di situ, hubungan diplomatik ada, tetapi hubungan ekonomi biasa-biasa saja. Apalagi kita enggak impor minyak dari mereka," ujar Fabby saat dihubungi Kompas.com, Senin (5/1/2026).
Fabby menjelaskan, PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) memang memiliki aset di Venezuela.
PIEP menguasai 71,09 persen saham perusahaan minyak dan gas asal Perancis, Maurel & Prom (M&P).
Namun, Fabby melanjutkan, M&P secara badan hukum berkedudukan di Perancis yang menyebabkan aset tersebut tidak terdampak konflik AS-Venezuela.
"Kalau saya lihat dari misalnya ekspor, tujuan ekspor dari produksi minyak Venezuela ke Indonesia enggak ada, yang ada ke Malaysia. Untuk hari ini saya belum melihat (dampak lain), makanya saya katakan jangka pendek kan ini di Venezuela masih berkembang ya," jelas Fabby.
Baca juga:
IESR menyebutkan kondisi impor minyak Indonesia masih belum terpengaruh konflik Amerika Serikat dan Venezuela. Maka dari itu, Fabby mewanti-wanti potensi dampak tidak langsung dapat muncul dari sisi geopolitik.
Venezuela saat ini mengekspor sekitar 80 persen minyaknya ke China, sedangkan China dan India merupakan pemain besar energi global sekaligus anggota BRICS, bersama Rusia dan Indonesia.
Artinya, Indonesia perlu menentukan sikap seiring dengan pergerakan negara anggota BRICS.
"Apakah kita akan mengecam itu atau bagaimana? Yang menjadi persoalan adalah Indonesia juga sekarang sedang memfinalisasi negosiasi tarif dagang dengan Amerika, dan kalau sekarang kan basis negosiasinya kadang-kadang tergantung mood-nya Amerika," tutur Fabby.
Meski belum terpengaruh, pemerintah Indonesia diminta waspada dengan kondisi geopolitik.
"Kalau Trump merasa Indonesia enggak kooperatif atau apa kan bisa jadi ya berubah," imbuh dia.
Fabby menilai pengaruh terhadap harga minyak dunia akibat ketegangan AS dan Venezuela juga sangat minim. Produksi minyak Venezuela hanya sekitar satu persen dari total produksi global.
Sementara ini, terdapat surplus pasokan minyak dunia sekitar tiga juta barel per hari.
"Jadi saya rasa enggak terlalu banyak pengaruhnya untuk harga minyak. Kemudian, tadi kan Indonesia juga enggak impor dari Venezuela jadi kecuali kita impor mungkin jadi masalah ya," papar Fabby.
Kebakaran di Fuerte Tiuna, kompleks militer terbesar Venezuela, terlihat dari kejauhan, Sabtu (3/1/2026).Dilaporkan Kompas.com, Minggu (4/1/2026), ledakan-ledakan besar terjadi di ibu kota Venezuela, Caracas, pada Sabtu (3/1/2026) dini hari.
AS lantas secara resmi mengonfirmasi telah meluncurkan serangan militer berskala besar ke negara tersebut.
Pada saat bersamaan, Presiden AS, Donald Trump memerintahkan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. AS menyebut Maduro sebagai pemimpin yang tidak sah.
Trump telah mendesak Maduro menyerahkan kekuasaan dan menuduhnya mendukung kartel narkoba. Jaksa federal menuding Maduro sebagai aktor utama jaringan narkoba yang melibatkan elite politik dan militer Venezuela.
Jaringan itu disebut bersekongkol selama puluhan tahun dengan kelompok penyelundup narkoba dan organisasi teroris untuk membanjiri AS dengan kokain.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya