Dalam risetnya, Cut Azizah menyampaikan pemetaan hujan deras dapat memprediksi wilayah potensial banjir dan tanah longsor yang menyebabkan banjir bandang.
Akumulasi curah hujan lima hari sebelumnya menjadi pendekatan yang bisa memperkirakan lokasi hujan deras dan kelembapan tanah karena hujan.
Cut Azizah merujuk data historis curah hujan Climate Hazards Group InfraRed Precipitation with Station (CHIRPS) 1981-2018, yang menunjukkan sebaran curah hujan lebih dari 150 milimeter sebesar 53 persen dari luasan DAS Tamiang, dan sedang atau 100–150 milimeter seluas 47 persen.
"Wilayah tinggi terdapat di bagian hulu dan sedikit di bagian hilir," tulis Cut Azizah.
Potensi banjir bandang sedang terkonsentrasi di wilayah DAS bagian dalam dan rendah di punggung atas DAS.
Sementara itu, potensi banjir bandang tinggi seluas 167 kilometer persegi terdapat di wilayah hulu barat laut yang mencakup Desa Lokop dan sekitarnya. Wilayah itu termasuk dalam Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur.
Lokasi potensi banjir bandang DAS Tamiang yang terletak di bagian hulu mendukung penelitian sebelumnya tahun 2014, 2009, dan 2017 yang menemukan umumnya insiden terjadi di wilayah hulu DAS.
Baca juga:
Penelitiannya juga mencatat alih fungsi lahan DAS Tamiang mengakibatkan hilangnya sabana atau padang rumput, dan bertambahnya penggunaan lahan permukiman hingga 73 persen.
Kemudian, perubahan lahan menjadi perkebunan kelapa sawit sebesar 71 persen, berkurangnya hutan mangrove sebesar 63 persen, dan menurunnya penggunaan lahan pertanian lahan kering sebesar 62 persen.
"Pola perubahan penggunaan lahan DAS Tamiang dari tahun 1995 ke tahun 2003 didominasi oleh hutan lahan kering primer berubah menjadi hutan lahan kering sekunder, hutan lahan kering sekunder berubah menjadi belukar dan pertanian lahan kering, hutan mangrove berubah menjadi belukar, dan belukar berubah menjadi perkebunan," tulis Cut Azizah.
Perubahan penggunaan lahan paling luas terjadi pada penggunaan lahan hutan kering primer.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya