Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Riset Ungkap 11 Desa di DAS Tamiang Aceh Rawan Banjir Bandang

Kompas.com, 6 Januari 2026, 19:45 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Prediksi wilayah berisiko banjir

Dalam risetnya, Cut Azizah menyampaikan pemetaan hujan deras dapat memprediksi wilayah potensial banjir dan tanah longsor yang menyebabkan banjir bandang.

Akumulasi curah hujan lima hari sebelumnya menjadi pendekatan yang bisa memperkirakan lokasi hujan deras dan kelembapan tanah karena hujan.

Cut Azizah merujuk data historis curah hujan Climate Hazards Group InfraRed Precipitation with Station (CHIRPS) 1981-2018, yang menunjukkan sebaran curah hujan lebih dari 150 milimeter sebesar 53 persen dari luasan DAS Tamiang, dan sedang atau 100–150 milimeter seluas 47 persen.

"Wilayah tinggi terdapat di bagian hulu dan sedikit di bagian hilir," tulis Cut Azizah. 

Potensi banjir bandang sedang terkonsentrasi di wilayah DAS bagian dalam dan rendah di punggung atas DAS. 

Sementara itu, potensi banjir bandang tinggi seluas 167 kilometer persegi terdapat di wilayah hulu barat laut yang mencakup Desa Lokop dan sekitarnya. Wilayah itu termasuk dalam Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur.

Lokasi potensi banjir bandang DAS Tamiang yang terletak di bagian hulu mendukung penelitian sebelumnya tahun 2014, 2009, dan 2017 yang menemukan umumnya insiden terjadi di wilayah hulu DAS.

Baca juga: 

Penelitiannya juga mencatat alih fungsi lahan DAS Tamiang mengakibatkan hilangnya sabana atau padang rumput, dan bertambahnya penggunaan lahan permukiman hingga 73 persen.

Kemudian, perubahan lahan menjadi perkebunan kelapa sawit sebesar 71 persen, berkurangnya hutan mangrove sebesar 63 persen, dan menurunnya penggunaan lahan pertanian lahan kering sebesar 62 persen.

"Pola perubahan penggunaan lahan DAS Tamiang dari tahun 1995 ke tahun 2003 didominasi oleh hutan lahan kering primer berubah menjadi hutan lahan kering sekunder, hutan lahan kering sekunder berubah menjadi belukar dan pertanian lahan kering, hutan mangrove berubah menjadi belukar, dan belukar berubah menjadi perkebunan," tulis Cut Azizah. 

Perubahan penggunaan lahan paling luas terjadi pada penggunaan lahan hutan kering primer.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau