Tim peneliti menemukan pada burung dengan kadar merkuri yang lebih tinggi, membran mitokondria menjadi lebih berpori sehingga menyebabkan membuat energi terbuang.
Sebaliknya, kadar tinggi senyawa PFAS tertentu meracuni mereka dari dalam dengan merusak sistem pembuangan limbah sel mereka.
Gangguan produksi energi ini tentu akan memengaruhi kebugaran mereka dalam beraktivitas, mulai dari terbang hingga reproduksi.
“Polutan yang menjadi perhatian global, seperti PFAS dan merkuri, sudah dikenal sebagai zat beracun. Namun, baru sekarang kemajuan dalam teknologi memungkinkan kita untuk memahami dampaknya terhadap satwa liar pada skala ekosistem yang berguna untuk mengembangkan pendekatan konservasi," kata Guadalupe Lopez-Nava, penulis pertama bersama dan mahasiswa pascasarjana di Max Planck Institute for Biological Intelligence.
Para ilmuwan mengatakan, memahami jalur paparan yang berbeda ini sangat penting untuk melindungi populasi burung laut dan mengembangkan strategi pengurangan polusi yang tepat sasaran.
Selain satwa liar, pemantauan jangka panjang akan sangat penting untuk memahami dampaknya terhadap kesehatan manusia.
Baca juga: Menyelamatkan Burung Laut, Menyelamatkan Lautan
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya