Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Polutan Ganggu Kesehatan Burung Laut, Ini Dampak Merkuri dan PFAS

Kompas.com, 9 Januari 2026, 16:36 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Polutan secara umum bisa mengganggu keberlangsungan burung laut liar, khususnya dari segi produksi energi pada tingkat seluler, menurut studi yang dipublikasikan di jurnal Environment & Health

Dalam studi ini, peneliti fokus pada burung camar Scopoli yang berkembang biak di Linosa, sebuah pulau vulkanis kecil dan terpencil di Selat Sisilia, Italia. 

Baca juga:

"Polusi kimia adalah salah satu ancaman yang lebih kompleks terhadap ekosistem laut di semua tingkatan karena sifatnya yang tidak mencolok dan dampaknya yang beragam," kata salah satu penulis pertama dan mahasiswa pascasarjana di Universitas Giessen, Jerman, Lucie Michel, dilansir dari Phys.org, Jumat (9/1/2026).

Para ilmuwan mencatat bahwa kontaminan yang tersebar luas, seperti merkuri dan senyawa kimia "abadi" atau PFAS tertentu, memengaruhi fungsi mitokondria burung.

Mitokondria merupakan pembangkit energi seluler kecil yang menghasilkan energi untuk berbagai aktivitas, dari terbang hingga reproduksi.

Baca juga: 

Polutan membahayakan keberlangsungan burung laut

Polutan di laut

Studi terbaru mengungkap polutan laut seperti merkuri dan PFAS merusak mitokondria burung laut. Simak selengkapnya.PEXELS/ RDNE Stock project Studi terbaru mengungkap polutan laut seperti merkuri dan PFAS merusak mitokondria burung laut. Simak selengkapnya.

Di lautan, merkuri sering kali diubah oleh bakteri menjadi metilmerkuri yang sangat berbahaya, yang kemudian menumpuk di dalam jaringan tubuh dan konsentrasinya meningkat seiring naiknya rantai makanan.

PFAS, yang merupakan bahan kimia sintetis abadi yang ditemukan dalam berbagai produk termasuk alat masak anti lengket dan kain tahan noda, terus menumpuk dalam jumlah yang lebih besar.

Penumpukan tetap terjadi meski ada upaya internasional untuk mengendalikan penggunaannya.

Polutan tersebut sangat beracun, bahkan pada konsentrasi rendah dan mencapai lautan melalui atmosfer serta aliran air permukaan.

Baca juga: KKP: 20 Juta Ton Sampah Masuk ke Laut, Sumber Utamanya dari Pesisir

Studi laboratorium menunjukkan bahwa zat-zat tersebut dapat memengaruhi produksi energi dalam mitokondria, tapi tidak mencerminkan tingkat pencemaran yang ditemukan di ekosistem saat ini dan bagaimana efeknya pada satwa liar.

Untuk mengetahuinya, tim peneliti internasional yang dipimpin oleh Stefania Casagrande, seorang ilmuwan di Institut Max Planck untuk Intelijen Biologis, mengukur kadar polutan sekaligus fungsi mitokondria pada burung laut Scopoli.

Peneliti tidak hanya melihat apakah ada racun di tubuh burung, tapi juga memeriksa apakah mitokondria yang berfungsi sebagai pembangkit energi seluler kecil di dalam sel burung masih bekerja dengan baik atau tidak.

Mitokondria ini menggerakkan produksi adenosin trifosfat (ATP) yang digunakan sel untuk melakukan segala aktivitas mulai dari menggerakkan otot sayap untuk terbang atau mencerna makanan.

Jika produksi ATP turun, burung tersebut secara teknis mengalami "krisis energi".

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tiru Kesuksesan Sawit, Prabowo Minta Kementan Hilirisasi 7 Komoditas Ini
Tiru Kesuksesan Sawit, Prabowo Minta Kementan Hilirisasi 7 Komoditas Ini
Pemerintah
Paving Block Ramah Lingkungan, Manfaatkan Limbah Kerang dan Tambang
Paving Block Ramah Lingkungan, Manfaatkan Limbah Kerang dan Tambang
LSM/Figur
Keberlanjutan dan Hilirisasi Kelapa Sawit Jadi Kunci Lawan Gejolak Harga Global
Keberlanjutan dan Hilirisasi Kelapa Sawit Jadi Kunci Lawan Gejolak Harga Global
LSM/Figur
Gen Z Paling Khawatir Dampak AI, Baby Boomer Justru Percaya Diri
Gen Z Paling Khawatir Dampak AI, Baby Boomer Justru Percaya Diri
LSM/Figur
Salon Bisa Jadi Senjata Rahasia Melawan Krisis Iklim, Kok Bisa?
Salon Bisa Jadi Senjata Rahasia Melawan Krisis Iklim, Kok Bisa?
Pemerintah
Schneider Electric Kurangi 862 Juta Ton Emisi CO2 pada 2021–2025
Schneider Electric Kurangi 862 Juta Ton Emisi CO2 pada 2021–2025
Swasta
Antisipasi Cuaca Ekstrem, Modifikasi Cuaca Digelar di 3 Lokasi
Antisipasi Cuaca Ekstrem, Modifikasi Cuaca Digelar di 3 Lokasi
Pemerintah
Krisis Iklim Bikin Industri Asuransi Asia Pasifik Cemas
Krisis Iklim Bikin Industri Asuransi Asia Pasifik Cemas
LSM/Figur
Nyanyi Bali dan Valrhona Kembangkan Kebun Kakao Berkelanjutan di Tabanan
Nyanyi Bali dan Valrhona Kembangkan Kebun Kakao Berkelanjutan di Tabanan
Swasta
Kapan Musim Kemarau 2026 di Indonesia? Ini Kata BMKG
Kapan Musim Kemarau 2026 di Indonesia? Ini Kata BMKG
Pemerintah
Artefak Bersejarah di Bawah Laut Terancam Krisis Iklim, Warisan Budaya Terancam Lenyap
Artefak Bersejarah di Bawah Laut Terancam Krisis Iklim, Warisan Budaya Terancam Lenyap
LSM/Figur
Jejak Karbon Industri Film Ternyata Besar, 65 Persen Emisi dari Transportasi
Jejak Karbon Industri Film Ternyata Besar, 65 Persen Emisi dari Transportasi
LSM/Figur
Ada Spesies Ngengat Baru di Indonesia, Dinamai Sutrisno dan Ubaidilla
Ada Spesies Ngengat Baru di Indonesia, Dinamai Sutrisno dan Ubaidilla
Pemerintah
Barito Renewables Rampungkan Penambahan Kapasitas PLTP di Jawa Barat
Barito Renewables Rampungkan Penambahan Kapasitas PLTP di Jawa Barat
Swasta
Pemerintah Bakal Restorasi 66.704 Hektar Lahan Tesso Nilo yang Rusak hingga 2028
Pemerintah Bakal Restorasi 66.704 Hektar Lahan Tesso Nilo yang Rusak hingga 2028
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau