KOMPAS.com - Masalah sampah di Indonesia dinilai semakin kompleks, seiring bertumbuhnya ekonomi dan populasi. Ketika produksi sampah secara nasional terus meningkat, kapasitas pengelolaan di tingkat daerah masih menghadapi berbagai keterbatasan.
Keterbatasan tersebut khususnya sumber daya manusia (SDM), serta infrastruktur dan teknologi pendukung dalam pengelolaan sampah.
Baca juga:
Wakil Menteri Dalam Negeri, Akhmad Wiyagus mengatakan, dampak dari pengelolaan sampah yang tidak memadai sangat merugikan. Dampaknya, antara lain pencemaran lingkungan hidup, memperburuk kualitas udara, mengganggu kesehatan masyarakat, dan menimbulkan korban jiwa.
"Apalagi, sekarang cuaca ekstrem. Curah hujan itu begitu tinggi," ujar Wiyagus dalam webinar Forum Diskusi Aktual: Tantangan dan Peluang Menuju Tata Kelola Sampah Berkelanjutan (Studi Kasus Aglomerasi Sampah) di kanal YouTube BSKDN Kemendagri, Selasa (13/1/2026).
Wamendagri Akhmad Wiyagus menyoroti dampak pengelolaan sampah yang tidak memadai, dari gangguan kesehatan hingga emisi gas rumah kaca.Kelebihan kapasitas di tempat pemrosesan akhir (TPA) beberapa kali menyebabkan jatuhnya korban jiwa.
Salah satu contohnya, ratusan orang meninggal dunia akbat longsor sampah di TPA Leuwigajah, Jawa Barat, pada tahun 2005 karena curah hujan sangat tinggi dan gas metana yang terakumulasi.
Berkaca dari kasus tersebut, Wiyagus menyesalkan terpaksa harus membandingkan permasalahan pengelolaan sampah di Indonesia dengan negara-negara yang berkembang lainnya.
Kasus longsor sampah dengan korban jiwa hingga ratusan orang pernah terjadi di Filipina pada tahun 2000 dan Ethiopia tahun 2017.
"Tapi kenyataannya seperti itu cerminan negara kita ya. Jangan sampai lagi terjadi hal-hal semacam itu," tutur Wiyagus.
Di sisi lain, pengelolaan sampah secara tidak memadai berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca (GRK) yang memperparah krisis iklim.
Wiyagus mengenang kebakaran TPA Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada tahun 2023 yang sangat sulit dipadamkan.
Sebagai Kapolda Jawa Barat waktu itu, Wiyagus menyasikan akumulasi ribuan ton sampah yang terbakar sangat mengganggu kenyamanan masyarakat Kabupaten Bandung Barat dan daerah-daerah sekitarnya.
Baca juga:
Aktivitas pembungaan sampah di TPA Sarimukti, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.Buruknya pengelolaan sampah akan berdampak terhadap penurunan kualitas kehidupan masyarakat dan menghambat potensi pemanfaatannya melalui proyek waste to energy (WtE).
Konsep aglomerasi pengelolaan persampahan, kata Wiyagus, sangat mendesak dan relevan untuk dikembangkan.
Pendekatan kolaborasi antar daerah dalam pengelolaan sampah disebut jadi resep paling mujarab untuk menyelesaikan permasalahan ini.
"Bagaimana pengelolaan sampah itu harus dikelola secara aglomerasi ya. Jadi, bukan hanya Tangerang Selatan (Tangsel), tapi juga menjadi tanggung jawab kita bersama. Kalau Walikota Bogor punya lahan yang cukup luas ya, kenapa tidak ditawarkan ke Walikota Tangsel, mau sewa atau beli saja karena Tangsel di media ini kan setiap hari ya, kemarin di demo mahasiswa," terang dia.
Baca juga: Jakarta Punya Pusat Daur Ulang Sampah, Kapasitasnya hingga 10 Ton
Kondisi gunungan sampah yang semakin tinggi di TPA Cipeucang, Serpong, Tangerang Selatan, Senin (8/12/2025).Sebelumnya, Guru Besar dari Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB University, Arief Sabdo Yowono mengatakan, penutupan TPA Cipeucang di Tangerang Selatan, Banten, mencerminkan volume sampah sudah jauh melewati kapasitas daya tampungnya.
Bahkan, TPA Cipeucang sebenarnya sudah tidak dapat lagi menampung sejak beberapa tahun lalu.
"(Penutupan TPA Cipeucang sinyal) Sudah masuk kondisi darurat (sampah), meski tidak ada batasan khusus tentang darurat sampah," ujar Arief kepada Kompas.com, Senin (12/1/2026).
Menurut Arief, curah hujan tinggi akibat cuaca ekstrem belakangan ini urut memperparah kondisi di TPA, dengan menambah beban volume tumpukan sampah.
Hujan juga berdampak terhadap peningkatan kadar air sampah di TPA. Hal tersebut biasanya mendorong peningkatan konsentrasi gas-gas berbau yang diemisikan ke lingkungan.
Baca juga: Sampah Campur Aduk, Biaya Operasional Waste to Energy Membengkak
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya