Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pengelolaan Sampah di Indonesia Buruk, Wamendagri Ingatkan Ancaman Kesehatan dan Krisis Iklim

Kompas.com, 13 Januari 2026, 20:26 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Masalah sampah di Indonesia dinilai semakin kompleks, seiring bertumbuhnya ekonomi dan populasi. Ketika produksi sampah secara nasional terus meningkat, kapasitas pengelolaan di tingkat daerah masih menghadapi berbagai keterbatasan.

Keterbatasan tersebut khususnya sumber daya manusia (SDM), serta infrastruktur dan teknologi pendukung dalam pengelolaan sampah.

Baca juga:

Wakil Menteri Dalam Negeri, Akhmad Wiyagus mengatakan, dampak dari pengelolaan sampah yang tidak memadai sangat merugikan. Dampaknya, antara lain pencemaran lingkungan hidup, memperburuk kualitas udara, mengganggu kesehatan masyarakat, dan menimbulkan korban jiwa.

"Apalagi, sekarang cuaca ekstrem. Curah hujan itu begitu tinggi," ujar Wiyagus dalam webinar Forum Diskusi Aktual: Tantangan dan Peluang Menuju Tata Kelola Sampah Berkelanjutan (Studi Kasus Aglomerasi Sampah) di kanal YouTube BSKDN Kemendagri, Selasa (13/1/2026).

Masalah sampah di Indonesia

Kelebihan kapasitas hingga emisi gas rumah kaca

Wamendagri Akhmad Wiyagus menyoroti dampak pengelolaan sampah yang tidak memadai, dari gangguan kesehatan hingga emisi gas rumah kaca.PEXELS.com/Fernando Makers Wamendagri Akhmad Wiyagus menyoroti dampak pengelolaan sampah yang tidak memadai, dari gangguan kesehatan hingga emisi gas rumah kaca.

Kelebihan kapasitas di tempat pemrosesan akhir (TPA) beberapa kali menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

Salah satu contohnya, ratusan orang meninggal dunia akbat longsor sampah di TPA Leuwigajah, Jawa Barat, pada tahun 2005 karena curah hujan sangat tinggi dan gas metana yang terakumulasi.

Berkaca dari kasus tersebut, Wiyagus menyesalkan terpaksa harus membandingkan permasalahan pengelolaan sampah di Indonesia dengan negara-negara yang berkembang lainnya.

Kasus longsor sampah dengan korban jiwa hingga ratusan orang pernah terjadi di Filipina pada tahun 2000 dan Ethiopia tahun 2017.

"Tapi kenyataannya seperti itu cerminan negara kita ya. Jangan sampai lagi terjadi hal-hal semacam itu," tutur Wiyagus.

Di sisi lain, pengelolaan sampah secara tidak memadai berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca (GRK) yang memperparah krisis iklim

Wiyagus mengenang kebakaran TPA Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, pada tahun 2023 yang sangat sulit dipadamkan.

Sebagai Kapolda Jawa Barat waktu itu, Wiyagus menyasikan akumulasi ribuan ton sampah yang terbakar sangat mengganggu kenyamanan masyarakat Kabupaten Bandung Barat dan daerah-daerah sekitarnya.

Baca juga:

Bikin kualitas hidup masyarakat menurun

Aktivitas pembungaan sampah di TPA Sarimukti, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.Humas Jabar Aktivitas pembungaan sampah di TPA Sarimukti, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Buruknya pengelolaan sampah akan berdampak terhadap penurunan kualitas kehidupan masyarakat dan menghambat potensi pemanfaatannya melalui proyek waste to energy (WtE).

Konsep aglomerasi pengelolaan persampahan, kata Wiyagus, sangat mendesak dan relevan untuk dikembangkan.

Pendekatan kolaborasi antar daerah dalam pengelolaan sampah disebut jadi resep paling mujarab untuk menyelesaikan permasalahan ini.

"Bagaimana pengelolaan sampah itu harus dikelola secara aglomerasi ya. Jadi, bukan hanya Tangerang Selatan (Tangsel), tapi juga menjadi tanggung jawab kita bersama. Kalau Walikota Bogor punya lahan yang cukup luas ya, kenapa tidak ditawarkan ke Walikota Tangsel, mau sewa atau beli saja karena Tangsel di media ini kan setiap hari ya, kemarin di demo mahasiswa," terang dia. 

Baca juga: Jakarta Punya Pusat Daur Ulang Sampah, Kapasitasnya hingga 10 Ton

Kondisi gunungan sampah yang semakin tinggi di TPA Cipeucang, Serpong, Tangerang Selatan, Senin (8/12/2025).KOMPAS.com/INTAN AFRIDA RAFNI Kondisi gunungan sampah yang semakin tinggi di TPA Cipeucang, Serpong, Tangerang Selatan, Senin (8/12/2025).

Sebelumnya, Guru Besar dari Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB University, Arief Sabdo Yowono mengatakan, penutupan TPA Cipeucang di Tangerang Selatan, Banten, mencerminkan volume sampah sudah jauh melewati kapasitas daya tampungnya.

Bahkan, TPA Cipeucang sebenarnya sudah tidak dapat lagi menampung sejak beberapa tahun lalu.

"(Penutupan TPA Cipeucang sinyal) Sudah masuk kondisi darurat (sampah), meski tidak ada batasan khusus tentang darurat sampah," ujar Arief kepada Kompas.com, Senin (12/1/2026).

Menurut Arief, curah hujan tinggi akibat cuaca ekstrem belakangan ini urut memperparah kondisi di TPA, dengan menambah beban volume tumpukan sampah.

Hujan juga berdampak terhadap peningkatan kadar air sampah di TPA. Hal tersebut biasanya mendorong peningkatan konsentrasi gas-gas berbau yang diemisikan ke lingkungan.

Baca juga: Sampah Campur Aduk, Biaya Operasional Waste to Energy Membengkak

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
KLH Finalisasi Aturan Pembagian Keuntungan dari Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati
KLH Finalisasi Aturan Pembagian Keuntungan dari Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati
Pemerintah
Menteri LH: Bisnis Karbon Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Menteri LH: Bisnis Karbon Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru
Pemerintah
Satelit Bisa Deteksi Metana Secara Real-Time, Tapi Dibiarkan Tanpa Penanganan
Satelit Bisa Deteksi Metana Secara Real-Time, Tapi Dibiarkan Tanpa Penanganan
Pemerintah
PWYP: Putusan MK soal Jalur Prioritas Izin Tambang Belum Selesaikan Persoalan Tata Kelola
PWYP: Putusan MK soal Jalur Prioritas Izin Tambang Belum Selesaikan Persoalan Tata Kelola
LSM/Figur
Ini Upaya Pertamina Membangun Desa Mandiri Energi
Ini Upaya Pertamina Membangun Desa Mandiri Energi
BUMN
FDKJ Perkuat Ketahanan Pangan lewat Pemberdayaan UMKM Hortikultura di Jonggol
FDKJ Perkuat Ketahanan Pangan lewat Pemberdayaan UMKM Hortikultura di Jonggol
Swasta
PT Astra International Tbk Hadir dalam Sesi Bincang Inspiratif Lestari Summit 2026
PT Astra International Tbk Hadir dalam Sesi Bincang Inspiratif Lestari Summit 2026
Swasta
Pengetahuan Masyarakat Adat Jadi Kunci Pengembangan Sistem Pangan Berkelanjutan
Pengetahuan Masyarakat Adat Jadi Kunci Pengembangan Sistem Pangan Berkelanjutan
Pemerintah
Transisi Energi Hadapi Risiko Krisis Air dan Pelanggaran HAM
Transisi Energi Hadapi Risiko Krisis Air dan Pelanggaran HAM
Pemerintah
UE Usul Tunda Penerapan Denda Aturan Metana Hingga Tiga Tahun
UE Usul Tunda Penerapan Denda Aturan Metana Hingga Tiga Tahun
Pemerintah
Studi: Kekeringan Dapat Meningkatkan Solidaritas Sosial dan Lembaga yang Inklusif
Studi: Kekeringan Dapat Meningkatkan Solidaritas Sosial dan Lembaga yang Inklusif
Pemerintah
Bappenas: Saatnya Menuju Pembangunan Regeneratif
Bappenas: Saatnya Menuju Pembangunan Regeneratif
Pemerintah
AHY: Pertumbuhan Ekonomi Harus Diimbangi Keberlanjutan Lingkungan
AHY: Pertumbuhan Ekonomi Harus Diimbangi Keberlanjutan Lingkungan
Pemerintah
Pos Lintas Batas Negara Diharapkan Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Terluar
Pos Lintas Batas Negara Diharapkan Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Terluar
Pemerintah
Ketika Festival Musik Tak Lagi Wariskan Gunungan Sampah dan Polusi Lingkungan
Ketika Festival Musik Tak Lagi Wariskan Gunungan Sampah dan Polusi Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau