Asia secara keseluruhan menempati peringkat buruk dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia 2025, dengan sebagian besar dari 32 negara dan wilayahnya terkumpul dalam kategori “sulit” atau “sangat serius”, yang mencerminkan tekanan ekonomi, represi politik, dan ancaman fisik terhadap jurnalis.
Di Asia Tenggara, Timor Leste dinilai memiliki iklim media yang paling bebas dengan menduduki peringkat ke-39, jauh mengungguli negara-negara tetangganya.
Selanjutnya, Thailand di peringkat ke-85 secara global, Malaysia di urutan ke-88, dan Brunei di urutan ke-97.
Sementara itu, Filipina, salah satu negara paling berbahaya di dunia bagi jurnalis, menempati peringkat ke-116, diikuti oleh Singapura di peringkat 123 dan Indonesia di peringkat 127.
Peringkat yang lebih rendah mencakup Laos, Kamboja dengan peringkat 161, Myanmar di peringkat 169, dan Vietnam di peringkat 173.
Baca juga:
Selama 15 tahun terakhir, setidaknya 34 jurnalis yang menyelidiki pembalakan liar dan ekspansi kelapa sawit di kawasan tersebut dan dalam beberapa kasus mencatat peran otoritas setempat, telah diancam dan diserang, menurut studi UNESCO pada tahun 2024.
Selain itu, tujuh jurnalis terbunuh karena pekerjaan mereka dalam melaporkan masalah-masalah tersebut.
“Hasil-hasil ini menunjukkan bahwa beban bagi jurnalis dalam pelaporan perubahan iklim, terdistribusi secara tidak merata,” sebut laporan RISJ.
“Organisasi berita perlu menyadari hal ini. Mengingat tantangan yang ditimbulkan oleh perubahan iklim akan menyertai kita untuk waktu yang lama, upaya untuk mengatasi kurangnya perhatian terhadap keselamatan jurnalis ini tidak boleh ditunda-tunda lagi,” tulis laporan itu lagi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya