Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Proyek Energi Surya dan Angin Melambat Tahun 2025

Kompas.com, 11 Februari 2026, 20:47 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Proyek energi surya dan angin, baik yang direncanakan maupun sedang dibangun, disebut melambat tahun lalu, menurut analisis Global Energy Monitor (GEM).

Hal ini menimbulkan keraguan apakah dunia akan mencapai target peningkatan kapasitas energi terbarukan hingga tiga kali lipat pada akhir dekade ini.

Baca juga: 

Kapasitas tenaga surya dan angin menurun

Proyek pengembangan energi alami hambatan

Laporan menunjukkan, proyek energi surya dan angin turun melambat. Dunia terancam gagal capai target peningkatan energi terbarukan.KOMPAS.com/ Bambang P. Jatmiko Laporan menunjukkan, proyek energi surya dan angin turun melambat. Dunia terancam gagal capai target peningkatan energi terbarukan.

Pada tahun 2023, puluhan negara sepakat untuk meningkatkan kapasitas energi terbarukan hingga tiga kali lipat pada 2030 sebagai bagian dari upaya untuk mengatasi pemanasan global, dilansir dari Tech Xplore, Rabu (11/2/2026).

Namun, pengumuman dan dimulainya pembangunan proyek energi angin dan surya baru tahun 2025 turun 11 persen, setelah mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 22 persen pada 2024.

Menurut GEM, hal ini terjadi karena proyek pengembangan energi angin menghadapi berbagai hambatan.

"Pengembang energi angin mengalami hambatan politik dan serangkaian kegagalan lelang energi angin di negara-negara kaya," kata analis riset GEM, Diren Kocakusak.

Kocakusak menambahkan, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump telah memblokir proyek energi angin, dan tidak merahasiakan ketidaksukaannya terhadap energi terbarukan, meskipun penurunan global tersebut tidak disebabkan oleh satu negara pun.

Riset GEM juga menemukan bahwa hanya sebagian kecil dari pertumbuhan tenaga angin dan surya yang berasal dari negara-negara kaya G7.

Saat ini pusat dari revolusi energi terbarukan bukan lagi di barat, tapi bergeser ke pasar berkembang dan negara berkembang.

Baca juga: 

Keraguan dunia gagal mencapai target energi terbarukan

Laporan menunjukkan, proyek energi surya dan angin turun melambat. Dunia terancam gagal capai target peningkatan energi terbarukan.Dok. Freepik/rawpixel.com Laporan menunjukkan, proyek energi surya dan angin turun melambat. Dunia terancam gagal capai target peningkatan energi terbarukan.

Seperti yang telah terjadi selama bertahun-tahun, China memperluas kapasitas energi terbarukan dalam skala yang tidak tertandingi di tempat lain.

China menyumbang sekitar sepertiga dari pertumbuhan kapasitas global pada 2025 atau 1,5 terawatt lebih banyak daripada pertumbuhan di enam negara berikutnya jika digabungkan.

Akan tetapi, langkah itu tidak cukup untuk membuat dunia berada di jalur yang tepat untuk mencapai target tahun 2030.

Bahkan, jika semua proyek yang saat ini diumumkan dan target dibangun berjalan, dunia masih akan gagal mencapai target.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Kesenjangan Waktu Jadi Alasan Perempuan Sulit Berkarier
Pemerintah
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Satgas Inovasi Pembiayaan Taman Nasional: Konservasi atau Komodifikasi?
Pemerintah
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Perubahan Iklim Paksa Petani Padi Pensiun Dini
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
BMKG Prediksi Hujan Lebat di Beberapa Wilayah Selama Masa Peralihan Musim
Pemerintah
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Tak Cuma Soal Polusi, Ekonomi Sirkular Juga Bisa Ciptakan Lapangan Kerja
Pemerintah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah Perketat Pengawasan Penerima MBG hingga Limbah Makanan di Sekolah
Pemerintah
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Pemerintah
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau