Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia, Semiarto Aji Purwanto menilai, mitigasi bencana sering kali terlalu teknis dan kurang mempertimbangkan dinamika sosial masyarakat.
Upaya mitigasi bencana dengan pembangunan infrastruktur tanggul, pengadaan pompa air, dan pengendalian alih fungsi lahan perlu disertai partisipasi masyarakat.
Tanpa partisipasi masyarakat, mitigasi bencana tidak akan terlaksana karena hanya bersifat jangka pendek, dan berisiko malah menjadi beban biaya tambahan.
Dalam membentuk komunitas dengan kapasitas adaptif menghadapi bencana, masyarakat harus mengembangkan kearifan lokal dalam membangun sistem peringatan dininya.
Kearifan lokal terlahir dari pengalaman menghadapi krisis akibat bencana yang berulang dan tertanam dalam praktik keseharian.
"Saat banjir terakhir apa yang pertama kali dilakukan? Siapa yang ambil keputusan? Kenapa begitu basisnya apa? Siapa yang bergerak paling cepat? Bagaimana? Lalu, kemudian flashback, bagaimana dibanding 10 tahun yang lalu? Lalu seperti apa? Jadi, kita bisa memetakan nanti jaringan informal warga, pola mobilitasnya, mekanisme peringatan dini yang berbasis sosial, dan barangkali pembagian peran di warga," terang Aji.
"Itulah buat saya kearifan yang hidup di dalam konteks lokal. Sekali lagi kalau kita bicara soal kearifan lokal itu bukan tradisi lama, bukan list-nya, bukan daftar-daftarnya, tapi praktiknya," tambah dia.
Baca juga:
Menurut Aji, tindakan kolektif di perkotaan dapat terbentuk dari kepentingan bersama untuk mengurangi risiko bencana.
Tindakan kolektif di perkotaan bisa muncul dari organisasi formal di tingkat lokal, seperti karang taruna atau pusat keagamaan.
Selain itu, solidaritas berbasis risiko tersebut difasilitasi dengan akses digital yang menjadi isu khas perkotaan. Misalnya, menggalang dana secara kolektif dengan memanfaatkan akses digital sebagai infrastruktur sosial baru.
"Jangan meromantisasi peran komunitas hanya sebatas kearifan tradisional, tetapi gali apa yang dilakukan warga saat terakhir ada bencana dan bandingkan dengan 10 tahun yang lalu, siapa yang berperan? Apa basisnya? Tindakan kolektif di perkotaan. Sering kali kita terperangkap pada asosiasi orang perkotaan biasanya individualistis, orang pedesaan orang rural biasanya lebih enak gotong royongnya masih kuat gitu kan?" kata Aji.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya