Harga beras di pusat ekspor utama Asia Tenggara pun perlahan mulai merangkak naik sekitar 15 persen selama sebulan terakhir karena kenaikan biaya produksi dan ketakutan akan menipisnya pasokan barang.
Sementara itu harga gandum telah naik sekitar 20 persen sejak awal tahun 2026, sebagian besar karena kekhawatiran atas kekeringan di wilayah-wilayah pertanian utama di Amerika Serikat.
"Ada tanda-tanda krisis yang jelas karena harga beras telah bergerak naik secara signifikan padahal belum terjadi kelangkaan yang parah," kata seorang pedagang yang berbasis di Singapura dari sebuah perusahaan perdagangan internasional.
Ia juga mengatakan bahwa harga beras Thailand telah melonjak sekitar 15 persen dalam sebulan terakhir.
"India memiliki tumpukan stok beras yang sangat besar, beberapa kali lipat lebih banyak dari yang sebenarnya mereka butuhkan. Namun, pemikirannya adalah bahwa dalam waktu dekat India akan mulai menganggap stok ini sebagai aset yang sangat penting dan mungkin akan memberlakukan semacam pembatasan ekspor jika kita melihat adanya masalah pada bagian awal musim hujan," paparnya lagi.
Namun, KKP Research, sebuah lembaga riset dari Kiatnakin Phatra Bank di Thailand, mengatakan bahwa sebagian dampak dari cuaca kering ini bisa diredam oleh kondisi volume air waduk yang masih kuat.
Sedangkan yang menjadi kekhawatiran mereka adalah pasokan pupuk yang diperkirakan akan mengalami kelangkaan. Jika itu terjadi maka dapat mengurangi produksi beras hingga 15–20 persen dalam kondisi terburuk.
Hujan yang baru-baru ini turun di lahan pertanian Australia yang kering kerontang telah memicu penanaman gandum yang terlambat, tetapi para petani tetap waspada terhadap El Niño dalam beberapa bulan mendatang yang dapat merusak hasil panen mereka.
Baca juga: El Nino Bisa Surutkan Sungai Mahakam-Barito dan Ganggu Rantai Pasok Batu Bara
Biro Meteorologi Australia memprediksi bahwa banyak wilayah pertanian di seluruh New South Wales dan Queensland akan mengalami kekurangan curah hujan antara 20 hingga 40 milimeter dari biasanya selama tiga bulan ke depan.
John Lowe, seorang petani di dekat Burcher di New South Wales tengah, mengatakan bahwa total area lahan pertanian yang ia tanami saat ini masih sekitar 30 persen lebih kecil dari ukuran yang seharusnya bisa ia tanami.
Lebih lanjut, El Niño kemungkinan besar tidak akan memberikan pengaruh apa pun bagi China dan wilayah Laut Hitam, sementara fenomena ini akan membawa lebih banyak hujan ke benua Amerika.
"Secara statistik, tidak ada banyak hubungan antara cuaca di Amerika Serikat dengan El Niño selama musim panas," kata Drew Lerner, seorang ahli meteorologi pertanian dan presiden dari World Weather Inc.
"Sering kali, kita bisa mendapatkan kondisi udara yang sedikit lebih lembap selama musim panas El Niño. Namun, hal itu tidak selalu berarti akan terjadi curah hujan di atas normal," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya