KOMPAS.com - Cuaca kering mengancam musim tanam di seluruh Asia, meningkatkan kekhawatiran tentang pasokan pangan di wilayah dengan penduduk terbanyak di dunia ini.
Selain itu, fenomena cuaca El Niño parah yang diperkirakan akan terjadi bisa membawa kerusakan yang lebih besar.
Melansir Dawn, Kamis (4/6/2026) cuaca panas dan curah hujan di bawah normal mulai merusak tanaman dan memaksa petani untuk mengurangi jumlah tanaman yang mereka tanam.
Ini terjadi mulai dari dataran barat laut di India hingga wilayah bagian timur Australia yang merupakan penghasil gandum. Tak hanya itu ladang padi di Thailand hingga perkebunan kelapa sawit di Indonesia juga mengalami hal serupa.
Kekeringan yang dipicu oleh El Niño ini menjadi pukulan ganda bagi para petani yang saat ini sudah kesulitan akibat kelangkaan pupuk dan bahan bakar diesel akibat perang Iran.
Baca juga: EL Nino dan IOD Tingkatkan Risiko Konflik Bersenjata
Salah satu fenomena El Niño terkuat dalam sejarah diperkirakan secara luas akan terjadi pada paruh kedua tahun 2026. Fenomena ini akan membawa cuaca panas dan kering ke wilayah Asia serta hujan yang berlebihan ke wilayah benua Amerika, di mana perubahan iklim global membuat kondisinya menjadi semakin buruk.
"Dampak El Niño secara global dimulai dari Asia Tenggara, India, dan Australia, sebelum akhirnya memberikan dampak yang lebih luas ke wilayah hilir di Amerika Utara dan Amerika Selatan," kata Chris Hyde, seorang ahli meteorologi yang berbasis di AS dari perusahaan data dan citra satelit SkyFi.
Hyde mengatakan bahwa tanda-tanda awal kekeringan sudah mulai terlihat di beberapa wilayah Asia melalui platform citra satelit beresolusi tinggi milik perusahaannya.
Badan cuaca India kembali menurunkan perkiraan mereka untuk musim hujan empat bulanan, yang biasanya menyumbang sekitar 70 persen dari total curah hujan tahunan di sana.
"Dengan suhu di sebagian besar wilayah negara yang terus berada jauh di atas normal, kondisi saat ini sangat tidak mendukung untuk menanam tanaman musim panas tepat waktu," kata seorang pedagang yang berbasis di New Delhi dari sebuah perusahaan perdagangan global.
"Penanaman kemungkinan besar akan tertunda karena musim hujan yang datang terlambat, tetapi kekhawatiran yang lebih besar adalah adanya kemungkinan curah hujan yang di bawah normal serta masa-masa kering yang panjang setelah hujan itu datang," katanya lagi.
India sebagian besar menanam padi, kedelai, kacang-kacangan, tebu, dan jagung pada musim panas.
Untuk negara-negara Asia Tenggara, cuaca kering mulai merusak hasil panen padi dan kelapa sawit di beberapa wilayah.
Thailand dan Filipina biasanya menanam padi utama mereka pada bulan Juni-Juli, sementara Vietnam dan Indonesia saat ini sedang menanam padi untuk musim kedua mereka.
Pulau Jawa yang merupakan pulau terpadat di Indonesia, serta beberapa wilayah di Sumatra bagian utara, Kalimantan bagian selatan, dan Sulawesi sudah tidak mengalami hujan selama lebih dari 10 hari, menurut badan meteorologi negara tersebut (BMKG), dengan curah hujan diperkirakan berada di tingkat menengah hingga rendah pada bulan Juni.
Baca juga: El Nino Berisiko Tingkatkan Konflik Manusia dengan Satwa, Begini Kata Pakar
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya