KOMPAS.com - Penelitian baru dari University of Essex menunjukkan bahwa badan perubahan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mungkin secara tidak sengaja mengikis kepercayaan publik terhadap sains karena cara badan tersebut mengomunikasikan risiko.
Kesimpulan ini didapat setelah peneliti melakukan studi terhadap lebih dari 4000 penduduk Inggris.
Studi menemukan bahwa bahasa yang digunakan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) dapat membuat publik berpikir bahwa para ilmuwan terpecah belah dan bahwa prediksi yang ada terlalu ekstrem atau tidak masuk akal.
Baca juga: Ancaman Baru, Perubahan Iklim Perluas Habitat Nyamuk Malaria
Dibentuk pada tahun 1988, IPCC didirikan untuk menyediakan penilaian ilmiah reguler yang netral bagi para pembuat kebijakan tentang perubahan iklim, implikasinya, dan potensi risiko di masa depan.
Namun, melansir Phys, Rabu (26/11/2025) Profesor Marie Juanchich dari Departemen Psikologi University of Essex menemukan panduan IPCC untuk mengkomunikasikan ketidakpastian ilmiah terkait perubahan iklim memiliki efek negatif yang tidak disengaja.
Panduan mereka untuk menyajikan ketidakpastian justru membuat publik lebih skeptis terhadap temuan ilmiah utama, alih-alih membangun kepercayaan.
IPCC menggunakan istilah "tidak mungkin" atau "kemungkinan rendah" untuk peristiwa seperti kenaikan permukaan laut dalam skala besar dengan peluang terjadi kurang dari 33 persen, yang membingkai hasil tersebut secara negatif.
Profesor Juanchich menemukan bahwa bahasa yang dimaksudkan untuk transparansi ilmiah, malah ditafsirkan sebagai sinyal bahwa risiko tersebut tidak penting atau bahkan sebagai ekspresi keraguan ilmiah, yang merupakan alasan mengapa kepercayaan publik terkikis.
Akibatnya, mendengar "tidak mungkin" membuat orang berpikir bahwa para ilmuwan iklim terpecah belah, padahal sebenarnya tidak.
Kegagalan IPCC dalam berkomunikasi tentang risiko secara efektif membuat publik rentan terhadap misinformasi. Yang penting, kerentanan ini meluas di seluruh spektrum politik dan keyakinan, menunjukkan bahwa masalah ini bersifat universal.
Baca juga: PBB Ungkap 2025 Jadi Salah Satu dari Tiga Tahun Terpanas Global
Profesor Juanchich juga menemukan bahwa perubahan kata-kata yang kecil, seperti menggunakan "ada kemungkinan kecil" daripada "tidak mungkin" akan memperbaiki persepsi publik dan pada akhirnya memulihkan serta meningkatkan kepercayaan publik pada sains iklim.
"Meskipun ini adalah perubahan kata-kata yang sederhana, hal itu dapat membuat perbedaan besar karena banyak peristiwa dengan probabilitas rendah masih dapat menimbulkan dampak yang parah," katanya.
Penggunaan kata "tidak mungkin" dapat membuat masyarakat kurang menyadari risikonya dan kurang bersedia mendukung tindakan yang mengurangi atau mempersiapkan diri menghadapi ancaman perubahan iklim.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya