Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi Sebut Bahasa Iklim PBB Kikis Kepercayaan Publik terhadap Sains

Kompas.com, 27 November 2025, 21:07 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Penelitian baru dari University of Essex menunjukkan bahwa badan perubahan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mungkin secara tidak sengaja mengikis kepercayaan publik terhadap sains karena cara badan tersebut mengomunikasikan risiko.

Kesimpulan ini didapat setelah peneliti melakukan studi terhadap lebih dari 4000 penduduk Inggris.

Studi menemukan bahwa bahasa yang digunakan oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) dapat membuat publik berpikir bahwa para ilmuwan terpecah belah dan bahwa prediksi yang ada terlalu ekstrem atau tidak masuk akal.

Baca juga: Ancaman Baru, Perubahan Iklim Perluas Habitat Nyamuk Malaria

Dibentuk pada tahun 1988, IPCC didirikan untuk menyediakan penilaian ilmiah reguler yang netral bagi para pembuat kebijakan tentang perubahan iklim, implikasinya, dan potensi risiko di masa depan.

Namun, melansir Phys, Rabu (26/11/2025) Profesor Marie Juanchich dari Departemen Psikologi University of Essex menemukan panduan IPCC untuk mengkomunikasikan ketidakpastian ilmiah terkait perubahan iklim memiliki efek negatif yang tidak disengaja.

Panduan mereka untuk menyajikan ketidakpastian justru membuat publik lebih skeptis terhadap temuan ilmiah utama, alih-alih membangun kepercayaan.

IPCC menggunakan istilah "tidak mungkin" atau "kemungkinan rendah" untuk peristiwa seperti kenaikan permukaan laut dalam skala besar dengan peluang terjadi kurang dari 33 persen, yang membingkai hasil tersebut secara negatif.

Profesor Juanchich menemukan bahwa bahasa yang dimaksudkan untuk transparansi ilmiah, malah ditafsirkan sebagai sinyal bahwa risiko tersebut tidak penting atau bahkan sebagai ekspresi keraguan ilmiah, yang merupakan alasan mengapa kepercayaan publik terkikis.

Akibatnya, mendengar "tidak mungkin" membuat orang berpikir bahwa para ilmuwan iklim terpecah belah, padahal sebenarnya tidak.

Kegagalan IPCC dalam berkomunikasi tentang risiko secara efektif membuat publik rentan terhadap misinformasi. Yang penting, kerentanan ini meluas di seluruh spektrum politik dan keyakinan, menunjukkan bahwa masalah ini bersifat universal.

Baca juga: PBB Ungkap 2025 Jadi Salah Satu dari Tiga Tahun Terpanas Global

Profesor Juanchich juga menemukan bahwa perubahan kata-kata yang kecil, seperti menggunakan "ada kemungkinan kecil" daripada "tidak mungkin" akan memperbaiki persepsi publik dan pada akhirnya memulihkan serta meningkatkan kepercayaan publik pada sains iklim.

"Meskipun ini adalah perubahan kata-kata yang sederhana, hal itu dapat membuat perbedaan besar karena banyak peristiwa dengan probabilitas rendah masih dapat menimbulkan dampak yang parah," katanya.

Penggunaan kata "tidak mungkin" dapat membuat masyarakat kurang menyadari risikonya dan kurang bersedia mendukung tindakan yang mengurangi atau mempersiapkan diri menghadapi ancaman perubahan iklim.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau