Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jelang Ramadhan, Listrik di Aceh Masih Padam dan Warga Harus Jalan Kaki demi Bantuan

Kompas.com, 18 Februari 2026, 20:32 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Korban banjir bandang dari Desa Atu Payung, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, harus berjalan kaki selama dua hari untuk mengambil bantuan dan belanja kebutuhan sehari-hari.

“Listrik masih padam, bahkan awal bencana itu beras 10 kg (kilogram) harganya sampai Rp 500.000. Bertani pun belum bisa dijual,” ujar seorang penyintas dari Desa Atu Payung lewat keterangan resmi dari Dompet Dhuafa, Rabu (18/2/2026).

Baca juga:

Selain itu, warga dari Desa Paya Kolak, Kecamatan Celala, dan Desa Serule, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, juga menjadi penyintas banjir bandang pada November 2025 lalu.

Saat ini, aktivitas warga di desa-desa tersebut masih terbatas dan sangat terganggu listrik yang belum menyala.

Jelang Ramadhan, listrik masih mati di Aceh Tengah

Warga iuran untuk beli bahan bakar minyak

Perjuangan tim Dompet Dhuafa dan Is Pusakata saat menerjang Sungai Kalaili demi mengantar amanah bantuan di Linge, Aceh Tengah, Selasa (20/1/2026).
DOK. Humas Dompet Dhuafa Perjuangan tim Dompet Dhuafa dan Is Pusakata saat menerjang Sungai Kalaili demi mengantar amanah bantuan di Linge, Aceh Tengah, Selasa (20/1/2026).

Hingga Rabu (18/2/2026), listrik masih padam di Desa Atu Payung, Desa Serule, dan Desa Paya Kolak.

Warga dari ketiga desa tersebut harus iuran secara kolektif untuk membeli bahan bakar minyak, mengingat penerangan pada malam hari atau sekitar pukul 18.00 sampai 21.00 WIB, hanya mengandalkan genset.

Di tengah tersendatnya penjualan hasil tani, sejumlah warga mengaku harus mengirit stok bantuan yang diberikan untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

“Persiapan Ramadhan kami ya begini saja, tidak ada persiapan khusus karena kebutuhan sehari-hari pun masih menunggu bantuan,” tutur salah seorang penyintas di Desa Serule.

Saat ini, sudah hampir tiga bulan sejak bencana hidrometeorologi itu melanda wilayah Aceh. Masih terdapat kerusakan jalan akibat longsor di beberapa titik lintas Takengon hingga pedalaman Kecamatan Bintang.

Sepanjang pengamatan tim Dompet Dhuafa sejak Januari 2026, keterbatasan akses itu belum banyak berubah. Setelah hujan mengguyur, lumpur kembali membasahi, akses jalan terputus, dan masyarakat terisolasi lagi.

Sebagai langkah amanah, Dompet Dhuafa melalui tim Disaster Management Center (DMC) mendistribusikan bantuan kepada 300 kepala keluarga (KK) di tiga desa tersebut. 

Rinciannya, sebanyak 83 KK di Desa Atu Payung, 163 KK di Desa Seruleh, dan 64 KK di Desa Paya Kolak. Bantuan tersebut berupa kebutuhan dasar, seperti sembako, hygiene kit, dan school kit.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau