Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 21 September 2023, 11:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com – Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, dunia hampir kehabisan waktu untuk melawan perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia.

Hal tersebut disampaikan Guterres di hadapan para pemimpin sejumlah negara di sela-sela Majelis Umum PBB di New York City, AS, Rabu (20/9/2023).

Guterres mendesak para pembuat kebijakan di level nasional untuk menghentikan penggunaan bahan bakar fosil sebagai penyebab utama perubahan iklim.

Baca juga: Perang dan Krisis Iklim Ancam Pembangunan, Solidaritas Dibutuhkan

“Peralihan dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan sedang terjadi. Namun kita sudah ketinggalan beberapa dekade,” kata Guterres sebagaimana dilansir Reuters.

“Kita harus mengganti waktu yang terbuang dengan menyeret kaki, memutarbalikkan tangan, dan keserakahan dari pihak-pihak yang sudah mengakar dan meraup miliaran dollar dari bahan bakar fosil,” sambungnya.

Sebagai pengakuan, Guterres memberikan kesempatan bagi perwakilan 34 negara yang dinilai melakukan aksi yang kuat terhadap perubahan iklim untuk berbicara dalam pertemuan tersebut. Di antara 34 negara tersebut ada Brasil, Kanada, Afrika Selatan, dan Tuvalu.

Di sisi lain, AS dan China sebagai dua negara teratas penghasil emisi terbesar, tidak diberi kesempatan untuk berbicara, meski Utusan Khusus AS untuk Perubahan Iklim John Kerry hadir.

Baca juga: Perubahan Iklim Kacaukan Capaian SDGs, Solusi Berbasis Sains Semakin Penting

Presiden Kenya William Ruto mendesak negara-negara di dunia untuk menerapkan pajak atas perdagangan bahan bakar fosil untuk membiayai upaya perlawanan perubahan iklim, terutama transisi energi.

Dia juga mendesak adanya pungutan emisi penerbangan dan maritim serta transaksi keuangan.

Perdana Menteri Thailand Srettha Thavisin mengatakan, negaranya telah menaikkan target pengurangan emisi dari 20 persen menjadi 40 persen di bawah proyeksi business-as-usual (BaU) pada 2030.

“Perubahan iklim adalah prioritas utama pemerintahan saya,” kata Thavisin pada pertemuan tersebut, karena negaranya baru-baru ini membentuk kementerian perubahan iklim.

Baca juga: Dari Indonesia hingga AS, Aksi Iklim Serempak Dilakukan dalam Global Climate Strike 2023

Pertemuan tersebut dilakukan beberapa pekan sebelum KTT Iklim PBB, COP28, yang bakal digelar di Uni Emirat Arab (UEA) pada November mendatang.

Meskipun UEA tidak termasuk di antara negara-negara yang dipilih oleh Guterres untuk membicarakan rencana iklimnya, Presiden COP28 UEA Sultan Ahmed al-Jaber dijadwalkan untuk berbicara.

“Banyak negara-negara termiskin mempunyai hak untuk marah. Marah karena merekalah yang paling menderita akibat krisis iklim yang tidak mereka sebabkan, marah karena pendanaan yang dijanjikan tidak terwujud, dan marah karena biaya pinjaman mereka sangat tinggi,” kata Guterres.

Dengan hanya 70 hari tersisa sebelum COP28 dimulai, pemimpin Barbados mempertanyakan fokus Majelis Umum PBB yang membahas perang di Ukraina.

Baca juga: Perubahan Iklim Picu Krisis Air, Semua Negara Perlu Bergerak

“Saya berharap, sama seperti kita memandang serius Ukraina di Dewan Keamanan PBB, kita juga bisa menanggapi krisis iklim dan pendanaannya dengan serius,” kata Perdana Menteri Barbados Mia Mottley.

Mottley menyampaikan, krisis iklim adalah ancaman yang lebih besar karena mengancam banyak nyawa dibandingkan perang di Ukraina. Meski demikian, dia menegaskan tak ada pembenaran dalam perang yang berkecamuk di Ukraina.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan, negara-negara perlu memenuhi target yang sudah lama tidak terpenuhi, yaitu memobilisasi 100 miliar dollar per tahun untuk pendanaan iklim.

Baca juga: Perubahan Iklim Bikin Badai Jadi Lebih Sering dan Kuat

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tingkatkan Produktivitas Lahan, IPB Latih Petani Kuasai Teknik Agroforestri
Tingkatkan Produktivitas Lahan, IPB Latih Petani Kuasai Teknik Agroforestri
Pemerintah
Desa Utak Atik di Serangan Bali Hadirkan Inovasi Lampu Nelayan hingga Teknologi Hijau
Desa Utak Atik di Serangan Bali Hadirkan Inovasi Lampu Nelayan hingga Teknologi Hijau
LSM/Figur
Pasca-Siklon Senyar, Ilmuwan Khawatir Populasi Orangutan Tapanuli Makin Terancam
Pasca-Siklon Senyar, Ilmuwan Khawatir Populasi Orangutan Tapanuli Makin Terancam
Pemerintah
Adaptasi Perubahan Iklim, Studi Temukan Beruang Kutub Kembangkan DNA Unik
Adaptasi Perubahan Iklim, Studi Temukan Beruang Kutub Kembangkan DNA Unik
Pemerintah
Permintaan Meningkat Tajam, PBB Peringatkan Potensi Krisis Air
Permintaan Meningkat Tajam, PBB Peringatkan Potensi Krisis Air
Pemerintah
Bibit Siklon Tropis Terpantau, Hujan Lebat Diprediksi Landa Sejumlah Wilayah
Bibit Siklon Tropis Terpantau, Hujan Lebat Diprediksi Landa Sejumlah Wilayah
Pemerintah
Masyarakat Adat Terdampak Ekspansi Sawit, Sulit Jalankan Tradisi hingga Alami Kekerasan
Masyarakat Adat Terdampak Ekspansi Sawit, Sulit Jalankan Tradisi hingga Alami Kekerasan
LSM/Figur
Limbah Cair Sawit dari RI Diterima sebagai Bahan Bakar Pesawat Berkelanjutan
Limbah Cair Sawit dari RI Diterima sebagai Bahan Bakar Pesawat Berkelanjutan
LSM/Figur
BRIN Catat Level Keasaman Laut Paparan Sunda 2 Kali Lebih Cepat
BRIN Catat Level Keasaman Laut Paparan Sunda 2 Kali Lebih Cepat
Pemerintah
Belajar dari Sulawesi Tengah, Membaca Peran Perempuan Ketika Bencana Menguji
Belajar dari Sulawesi Tengah, Membaca Peran Perempuan Ketika Bencana Menguji
LSM/Figur
ILO Dorong Literasi Keuangan Untuk Perkuat UMKM dan Pekerja Informal Indonesia
ILO Dorong Literasi Keuangan Untuk Perkuat UMKM dan Pekerja Informal Indonesia
Pemerintah
ULM dan Unmul Berkolaborasi Berdayakan Warga Desa Penggalaman lewat Program Kosabangsa
ULM dan Unmul Berkolaborasi Berdayakan Warga Desa Penggalaman lewat Program Kosabangsa
Pemerintah
PLTS 1 MW per Desa Bisa Buka Akses Energi Murah, tapi Berpotensi Terganjal Dana
PLTS 1 MW per Desa Bisa Buka Akses Energi Murah, tapi Berpotensi Terganjal Dana
LSM/Figur
Bulu Babi di Spanyol Terancam Punah akibat Penyakit Misterius
Bulu Babi di Spanyol Terancam Punah akibat Penyakit Misterius
LSM/Figur
Studi Iklim 2024 Direvisi, tapi Prediksi Dampak Ekonomi Global Tetap Parah
Studi Iklim 2024 Direvisi, tapi Prediksi Dampak Ekonomi Global Tetap Parah
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau