Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Moh Samsul Arifin
Broadcaster Journalist

Sejak 2006 berkecimpung di dunia broadcast journalism, dari Liputan6 SCTV, ANTV dan Beritasatu TV. Terakhir menjadi produser eksekutif untuk program Indepth, NewsBuzz, Green Talk dan Fakta Data

Jejak Karbon dan Pola Makan

Kompas.com, 30 Januari 2024, 09:10 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Emisi dalam proses produksi makanan paling besar disumbang oleh sektor peternakan dan perikanan (31 persen). Sisanya produksi tanaman (27 persen), penggunaan tanah sebagai lahan pertanian (24 persen), dan rantai pasokan makanan (18 persen).

Jejak karbon tak lain adalah total karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya, termasuk metana (CH4), yang dimuncratkan oleh aktivitas komunitas, populasi, sistem kerja dan individu.

Jejak karbon melingkupi nyaris seluruh sektor kehidupan manusia. Ini tak dapat dielakkan. Pendulumnya adalah revolusi Industri meletus di Inggris, abad 18 silam.

Itulah revolusi yang memberi tiket kepada bangsa manusia untuk mengeruk, mengeksplorasi dan mengeksploitasi energi fosil dari minyak, gas hingga batu bara yang mengotori atmosfer.

Belakangan kesadaran hijau mekar. Inilah kesadaran yang diketuk oleh kepedulian terhadap bumi yang makin merana karena pemanasan global.

Prediksi suram dipaparkan David Wallace-Wells (2019) dalam “Bumi yang Tak Dapat Dihuni” (The Uninhabitable Earth).

Menurut dia, krisis iklim yang tidak terkendali bakal berpuncak pada “kiamat iklim” pada 2100 mendatang. Itulah ramalan saintis yang menyebut sebagian pojok bumi tak dapat dihuni lagi saking panasnya ketika suhu meloncat 3 hingga 6 derajat celcius dari sekarang.

Artinya negara-negara di dunia gagal menahan kenaikan suhu bumi di bawah 2 derajat celcius seperti diamanatkan Perjanjian Paris 2015.

Mengurangi emisi gas karbon wajib dilakukan di seluruh sektor; dari energi, kelistrikan, transportasi hingga kehutanan. Tidak terkecuali menyangkut makanan dan pola makan.

Mari belajar dari Inggris tentang bagaimana meredam emisi GRK sejak dari piring makanan kita. Tayangan BBC Earth berjudul “When The World Gets 1°C Hotter” menggambarkan kampanye untuk “menginterupsi” pola makan warga di negeri Pangeran Charles itu.

Maklum sampah makanan dari sayuran, buah dan sereal dari rumah tangga di Inggris pernah mencapai 6 juta ton pada 2015. Itu setara 80 kilogram-110 kilogram/kapita. Tertinggi di daratan Eropa.

Ada tiga jurus yang dikampanyekan. Pertama, makanlah semua yang kita beli. Warga Inggris diminta mencari cara untuk mengurangi sampah dari makanan yang mereka beli. Bahkan jika mungkin seluruh makanan itu tidak bersisa, alias zero waste.

Soal ini saya teringat dengan “kearifan tradisional” yang dianut orang tua-orang tua di kampung di pulau Jawa. Di zaman dahulu, di antara kita mungkin masih ingat tatkala nenek atau kakek kita menanamkan nilai berikut: “Nak, jangan sisakan satu butir nasi pun dari piringmu. Itu rezeki yang layak disyukuri.”

Jika nilai tradisional semacam ini menjadi laku sehari-hari, hal itu bakal menjadi benteng individu untuk tidak membuang atau memubazirkan makanan yang kita beli. Makanan yang sesungguhnya dibeli dengan keringat (baca: modal/rupiah).

Yang dikampanyekan di Inggris tadi sebetulnya telah hidup dalam khazanah masyarakat tradisional Indonesia. Jadi cuma perlu dibangkitkan dan ditanamkan kembali pada generasi muda demi misi yang lebih adiluhung, yakni membantu mengurangi emisi gas rumah kaca.

Kedua, warga Inggris diimbau mengurangi atau mengatakan “tidak” terhadap produk makanan atau minuman (impor) yang diangkut dengan transportasi udara (pesawat terbang).

Asal tahu saja industri penerbangan menyumbang 2-3 persen emisi karbondioksida global. Jika jurus ini terlampau ekstrem, mungkin kita, warga Indonesia dapat menoleh pada produk lokal: dari sayur mayur, beras, daging sapi, kambing hingga ikan laut.

Selain mengurangi emisi gas rumah kaca, menoleh pada produk pangan lokal sama dengan memberdayakan petani, peternak dan nelayan negeri sendiri. Itu menyantuni ekonomi nasional.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Bukan Sekadar Teknologi Canggih, Inilah 'Fondasi Tak Kasatmata' Keselamatan PLTN
Bukan Sekadar Teknologi Canggih, Inilah 'Fondasi Tak Kasatmata' Keselamatan PLTN
LSM/Figur
Kepedulian Lingkungan Perusahaan Berdampak Positif pada Performa Finansial
Kepedulian Lingkungan Perusahaan Berdampak Positif pada Performa Finansial
Pemerintah
Perusahaan Global Terancam Tagihan Karbon Sebesar Rp24.908 Triliun
Perusahaan Global Terancam Tagihan Karbon Sebesar Rp24.908 Triliun
Pemerintah
Poliester Daur Ulang Dinilai Gagal Atasi Masalah Sampah Tekstil Global
Poliester Daur Ulang Dinilai Gagal Atasi Masalah Sampah Tekstil Global
Pemerintah
Gelombang Panas Melanda, Pasokan Energi Surya Uni Eropa Naik 17 Persen
Gelombang Panas Melanda, Pasokan Energi Surya Uni Eropa Naik 17 Persen
Pemerintah
Emisi NOx Industri Nikel di Sulawesi-Maluku Lampaui Sumber Polusi Jabodetabek
Emisi NOx Industri Nikel di Sulawesi-Maluku Lampaui Sumber Polusi Jabodetabek
LSM/Figur
Studi Sebut Kekeringan Mengubah Pola Penyebaran Penyakit Menular
Studi Sebut Kekeringan Mengubah Pola Penyebaran Penyakit Menular
Pemerintah
Penyedia Fasilitas Kesehatan Belum Laporkan Pengelolaan 130.199 Ton Limbah B3 ke KLH
Penyedia Fasilitas Kesehatan Belum Laporkan Pengelolaan 130.199 Ton Limbah B3 ke KLH
Pemerintah
Ayam Hutan Indonesia Terancam Kehilangan Kemurnian Genetik akibat Perburuan dan Persilangan
Ayam Hutan Indonesia Terancam Kehilangan Kemurnian Genetik akibat Perburuan dan Persilangan
LSM/Figur
Karhutla Global Musnahkan 4 Juta Hektar Hutan Tropis Lindung
Karhutla Global Musnahkan 4 Juta Hektar Hutan Tropis Lindung
Pemerintah
IPB University Tutup SAMI 2026, Kolaborasi untuk Agrifood Berkelanjutan jadi Fokus
IPB University Tutup SAMI 2026, Kolaborasi untuk Agrifood Berkelanjutan jadi Fokus
Pemerintah
70 persen Perusahaan Global Stop Beli Mobil Dinas Berbahan Bakar Fosil
70 persen Perusahaan Global Stop Beli Mobil Dinas Berbahan Bakar Fosil
Pemerintah
Dampak El Niño: 50 Juta Orang Terancam Kelaparan Akut dalam Waktu Dekat
Dampak El Niño: 50 Juta Orang Terancam Kelaparan Akut dalam Waktu Dekat
Pemerintah
Isu Kesehatan PBB: Ibu Masih Kurang Dukungan untuk  Menyusui
Isu Kesehatan PBB: Ibu Masih Kurang Dukungan untuk Menyusui
Pemerintah
 Populasi Gajah Sumatra Diperkirakan Tinggal 900-1.350 Ekor, Habitat Terus Terfragmentasi
Populasi Gajah Sumatra Diperkirakan Tinggal 900-1.350 Ekor, Habitat Terus Terfragmentasi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau