Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dunia Terancam Meleset Capai 3 Kali Lipat Energi Terbarukan pada 2030

Kompas.com, 15 Juli 2024, 17:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Dunia terancam meleset dalam mencapai target peningkatan energi terbarukan sebanyak tiga kali lipat pada 2030 mencapai kapasitas terpasang 11,2 terawatt (TW).

Target tersebut disepakati dalam COP28 di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) tahun lalu.

Menurut laporan terbaru International Renewables Energy Agency (Irena) dalam Renewable Energy Statistics 2024, dunia harus meningkatkan kapasitas energi terbarukan sebesar 16,4 persen per tahun untuk mencapai target pada 2030.

Baca juga: China Jawara Pengembangan Energi Terbarukan Global, Getol Bangun PLTS dan PLTB

Di sisi lain, meski pengembangan energi terbarukan global meningkat pesat, tahun 2023 kapasitas yang terpasang baru 14 persen alias masih di bawah jalur.

Jika kenaikan energi terbarukan stabil 14 persen tiap tahun, kapasitas energi terbarukan global adalah 9,7 TW, selirih 1,5 TW dari target yang ditentukan.

Di sisi lain, jika kenaikan energi terbarukan hanya 10 persen per tahun, kapasitas energi terbarukan yang tercapai hanya 7,5 TW pada 2030, alias meleset sepertiga dari target.

Direktur Jenderal Irena Francesco La Camera mengatakan, energi terbarukan memang semakin mengungguli bahan bakar fosil, namun ini bukan saatnya untuk berpuas diri.

Dia menambahkan, energi terbarukan harus tumbuh dengan kecepatan dan skala yang lebih tinggi.

Baca juga: PLN Didorong Fokus Transmisi Listrik, Swasta dan BUMN Pembangkit Energi Terbarukan

"Jika kita melanjutkan tingkat pertumbuhan saat ini, kita hanya akan menghadapi kegagalan dalam mencapai tiga kali lipat target energi terbarukan yang disepakati dalam Konsensus UEA pada COP28, yang akibatnya membahayakan tujuan Perjanjian Paris dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030," ucap La Camera.

Dia berujar, Irena berkomitmen untuk mendukung negara di dunia dalam upaya mencapai target tersebut.

"Namun kita memerlukan tindakan kebijakan yang konkret dan mobilisasi keuangan secara besar-besaran dengan kecepatan penuh untuk mencapai tujuan kita bersama," ujar La Camera.

Dalam hal pembangkit listrik, data terbaru pada 2022 masih menunjukkan adanya kesenjangan regional dalam penerapan energi terbarukan.

Asia memegang posisinya sebagai produsen listrik dari pembangkit energi terbarukan global dengan 3.749 Terawatt jam (TWh), diikuti oleh Amerika Utara yakni 1.493 TWh.

Baca juga: IESR: Power Wheeling Percepat Pengembangan Energi Terbarukan RI

Lonjakan yang paling mengesankan terjadi di Amerika Selatan, di mana produksi listrik dari energi terbarukan meningkat hampir 12 persen menjadi 940 TWh.

Sementara itu, Afrika mengalami pertumbuhan produksi listrik dari energi terbarukan yang tidak terlalu besar, hanya 3,5 persen pada 2022.

Di satu sisi, Afrika memiliki potensi yang sangat besar dan kebutuhan yang sangat besar akan pertumbuhan yang cepat dan berkelanjutan.

Menyadari adanya kebutuhan mendesak akan dukungan dan pendanaan, Irena memajukan inisiatif di Afrika bernama Accelerated Partnership for Renewables in Africa (APRA).

Irena juga sedang mempersiapkan forum investasi yang berfokus pada negara-negara anggota APRA pada akhir tahun ini.

Baca juga: Tertarik Lamar Green Jobs? Ini Situs Lowongan Kerja Energi Terbarukan

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Bali Jadi Pusat Pariwisata, tapi Sampah Lautnya Kian Meningkat
Pemerintah
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor
Pemerintah
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Peneliti Kaitkan Naiknya Kasus Gigitan Hiu dengan Perubahan Iklim
Pemerintah
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
Tren Global Predator Darat Berburu di Pesisir, Lebih dari 7.000 Penguin di Argentina Mati Selama 4 Tahun
LSM/Figur
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
SBTi Siapkan Standar Emisi Nol Bersih Baru bagi Industri Otomotif
LSM/Figur
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Uni Eropa Terancam Kekurangan Bahan Mentah untuk Transisi Energi Bersih
Pemerintah
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Patahkan Stigma, Inilah Kisah Kolaborasi Petani dengan Industri Tambang yang Bertanggung Jawab
Swasta
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
United Tractors Cabang Padang Raih Penghargaan Kementerian UMKM
Swasta
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
Menteri LH Larang Insinerator Mini di Bandung, Benarkah Emisinya Lebih Berbahaya?
LSM/Figur
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
RDF Rorotan Bantu Kurangi Beban Bantargebang, Ini Cerita Warga
LSM/Figur
Tingkatkan Keamanan dan Keselamatan Kerja, KAI Daop 7 Madiun Gelar Diklat Masinis dan Asisten
Tingkatkan Keamanan dan Keselamatan Kerja, KAI Daop 7 Madiun Gelar Diklat Masinis dan Asisten
BUMN
SAF Berbasis Limbah Sawit Diusulkan Masuk Kebijakan Mandatori
SAF Berbasis Limbah Sawit Diusulkan Masuk Kebijakan Mandatori
LSM/Figur
Gas Asam Nitrat Bocor di Cilegon, BRIN Imbau untuk Cepat Dinetralkan
Gas Asam Nitrat Bocor di Cilegon, BRIN Imbau untuk Cepat Dinetralkan
Pemerintah
Di Balik Asap Pembakaran Sampah, Ada Masalah Sosial yang Tak Sederhana
Di Balik Asap Pembakaran Sampah, Ada Masalah Sosial yang Tak Sederhana
LSM/Figur
Gajah Sumatera Ditemukan Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Buru Pelaku
Gajah Sumatera Ditemukan Mati Tanpa Kepala di Riau, Kemenhut Buru Pelaku
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau