Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Paus Paling Langka Sedunia Ditemukan Mati Terdampar di Selandia Baru

Kompas.com, 17 Juli 2024, 12:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Awal bulan ini, seekor paus terdampar di lepas pantai Otago, Selandia Baru, dan ditemukan telah mati.

Setelah dilakukan pemeriksaan beberapa lama, para ilmuwan meyakini mamalia tersebut adalah paus bergigi sekop, spesies yang sangat langka yang bahkan belum pernah dilihat dalam keadaan hidup.

Para peneliti meyakininya setelah mengidentifikasi paus sepanjang lima meter tersebut berdasarkan pola warna serta bentuk tengkorak, paruh, dan giginya.

Baca juga: Elnusa Lestarikan Hiu Paus di Papua Tengah, Pakai Teknologi Tagging

Kini, jasad paus tersebut masih disimpan di lemari pendingin dan tes DNA dilakukan untuk lebih memastikan lagi.

Para ahli mengatakan, mungkin diperlukan waktu beberapa minggu sebelum identifikasi akhir dapat dikonfirmasi, sebagaimana dilansir BBC, Selasa (16/7/2024).

Karena sangat sedikit spesimen yang ditemukan dan tidak ada penampakan langsung, maka sangat sedikit yang diketahui tentang paus bergigi sekop.

Para peneliti mengatakan, temuan bangkai tersebut dapat membantu mereka memperoleh informasi baru yang penting tentang spesies tersebut.

Baca juga: Perancis Hibahkan 500.000 Euro, Dukung Kawasan Konservasi Perairan Hiu Paus Sumbawa

Pejabat setempat diberitahu bahwa paus tersebut telah terdampar di pantai pada 4 Juli di muara sungai Taiari, di Provinsi Otago di Pulau Selatan Selandia Baru.

Pejabat Departemen Konservasi Selandia Baru Gabe Davies mengatakan, paus bergigi sekop adalah salah satu spesies mamalia besar yang paling sedikit diketahui.

Sampai saat ini, hanya ada enam sampel yang pernah didokumentasikan di seluruh dunia.

"Dari sudut pandang ilmiah dan konservasi, ini sangat besar," ujar Davies.

Baca juga: Individu Baru Ditemukan, Kini Terdapat 203 Hiu Paus di Whale Shark Center PIS-KLHK

Jasad itu bisa menjadi paus pertama dari spesies tersebut yang dibedah.

Masyarakat Maori sebagai suku asli Selandia Baru menganggap paus sebagai harta suci.

Departemen Konservasi Selandia Baru mengatakan, masyarakat Maori setempat akan mengambil bagian dalam menentukan nasib paus tersebut.

Spesies ini pertama kali dideskripsikan pada 1874 setelah rahang bawah dan dua gigi dikumpulkan dari Kepulauan Chatham, Selandia Baru.

Baca juga: Paus Abu-abu Muncul di Perairan Bukan Habitatnya, Tanda Perubahan Iklim Makin Parah

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau