Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bisakah Kita Berhenti Menggunakan Plastik?

Kompas.com, 13 Agustus 2024, 16:44 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com-Salah satu upaya mencegah laju pemanasan global yang tak terkendali di planet ini adalah dengan bertahap menghentikan penggunaan bahan bakar fosil.

Namun di satu sisi, ada satu industri yang masih memanfaatkan penggunaan minyak dan bahkan meningkat yaitu produksi plastik.

Laporan tahun 2018 dari Badan Energi Internasional menyebutkan petrokimia, bahan kimia yang diperoleh dari minyak bumi selama penyulingan dan digunakan untuk memproduksi plastik menjadi pendorong dan menyumbang terbesar permintaan minyak global pada tahun 2050.

Gambaran ini pun menjadi pemicu pertanyaan, bisakah kita berhenti menggunakan plastik?

Sebuah pertanyaan sulit mengingat banyak aspek kehidupan yang kini tidak bisa terlepas dari bahan tersebut.

Selain itu mengutip Live Science, Selasa (13/8/2024) salah satu alasan plastik sulit dihilangkan adalah karena biaya produksinya yang sangat murah.

Baca juga: Kurangi Penggunaan Botol Plastik, KAI Sediakan Dispenser di 22 Stasiun

Plastik juga memiliki sifat kimia yang membuatnya sangat diperlukan dalam lingkungan medis.

Plastik steril, fleksibel dan cukup murah untuk dibuang setelah sekali pakai. Ini jadi keuntungan bagi pengendalian infeksi.

Artikel yang dipublikasikan oleh AMA Journal of Ethics tahun 2022 menulis pula bahwa plastik menyumbang antara 20 persen hingga 25 persen dari limbah yang dihasilkan oleh fasilitas perawatan kesehatan AS.

Dan penggunaan plastik sekali pakai dalam perawatan kesehatan mungkin meningkat, meskipun seberapa banyak jumlahnya sulit untuk dipastikan.

Walaupun jadi tantangan tersendiri bukan berarti hal yang mustahil untuk berhenti atau setidaknya mengurangi penggunaan plastik.

Salah satunya dengan cara beralih ke bioplastik atau plastik yang terbuat dari biomassa terbarukan, seperti pati jagung atau polihidroksialkanoat (PHA), yang merupakan poliester alami yang dapat terurai yang diproduksi oleh mikroorganisme.

Hanya saja bioplastik bukannya tanpa masalah. Tidak semua bioplastik terurai secara hayati dan sebagian besar memerlukan pemrosesan industri untuk mengembalikannya ke alam.

Dibandingkan dengan produksi plastik tradisional, produksi bioplastik menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih rendah.

Baca juga: Upaya DLH Jakarta Terapkan Plastik Sekali Pakai dan Guna Ulang

Akan tetapi, seperti produk tradisional lainnya, bioplastik menghasilkan mikroplastik saat terurai. Bioplastik juga jauh lebih mahal untuk diproduksi dan tidak selalu memiliki sifat yang ideal untuk setiap pemakaian, seperti penggunaan di lingkungan rumah sakit.

Daya tahan adalah masalah yang dapat dipecahkan, tetapi Robert Langer, Profesor Institut David H. Koch di Departemen Teknik Biologi MIT mengungkapkan tantangan yang lebih besar adalah apa pun yang digunakan dalam lingkungan medis harus diuji keamanannya sebelum digunakan dan itu sangat mahal.

Peraturan kesehatan dan keselamatan mengharuskan bahan yang digunakan dalam lingkungan medis untuk bertahan dalam kondisi yang sangat keras.

Misalnya, plastik harus berulang kali menahan panas dan tekanan tinggi yang diperlukan untuk sterilisasi.

"Plastik yang dapat terurai secara hayati mungkin tidak tahan terhadap kondisi ini dan mungkin tidak memiliki waktu stabilitas yang dibutuhkan," kata Jan-Georg Rosenboom, seorang insinyur kimia di MIT.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pertamina Lirik Tebu jadi Bahan Baku Bensin Nabati
Pertamina Lirik Tebu jadi Bahan Baku Bensin Nabati
BUMN
BRIN Dorong Pengembangan PLTSa untuk Tangani Sampah di Wilayah 3T
BRIN Dorong Pengembangan PLTSa untuk Tangani Sampah di Wilayah 3T
Pemerintah
Menteri LH Perkuat Penegakan Hukum Kasus Karhutla
Menteri LH Perkuat Penegakan Hukum Kasus Karhutla
Pemerintah
BMKG Sebut Hujan Bakal Melanda hingga 20 April, Ini Wilayah yang Harus Waspada
BMKG Sebut Hujan Bakal Melanda hingga 20 April, Ini Wilayah yang Harus Waspada
Pemerintah
Waste4Change: Produksi Sampah Nasional Per Hari Setara 12 Candi Borobudur
Waste4Change: Produksi Sampah Nasional Per Hari Setara 12 Candi Borobudur
LSM/Figur
Pangkas Emisi, Perusahaan Logistik Global Beralih ke Avtur Ramah Lingkungan
Pangkas Emisi, Perusahaan Logistik Global Beralih ke Avtur Ramah Lingkungan
Swasta
Gas Metana di Atmosfer Melonjak Dalam 4 Tahun, Tertinggi pada 2021
Gas Metana di Atmosfer Melonjak Dalam 4 Tahun, Tertinggi pada 2021
LSM/Figur
Minim Aksi Iklim, Pendapatan Rata-Rata Masyarakat Dunia Diprediksi Turun 15 Persen
Minim Aksi Iklim, Pendapatan Rata-Rata Masyarakat Dunia Diprediksi Turun 15 Persen
Pemerintah
ISO Perbarui Standar Utama Manajemen Lingkungan
ISO Perbarui Standar Utama Manajemen Lingkungan
Swasta
Dosen Unej Teliti Tanaman Zaman Prasejarah di Geopark Ijen
Dosen Unej Teliti Tanaman Zaman Prasejarah di Geopark Ijen
LSM/Figur
Krisis Selat Hormuz, FAO Ingatkan Bahaya Inflasi Pangan Global
Krisis Selat Hormuz, FAO Ingatkan Bahaya Inflasi Pangan Global
Pemerintah
KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
KKP Tak Tenggelamkan Kapal Asing Ilegal Seperti Era Susi Pudjiastuti, tapi Diberikan ke Nelayan
Pemerintah
Pakar IPB Beberkan Cara Berantas Lonjakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Pakar IPB Beberkan Cara Berantas Lonjakan Populasi Ikan Sapu-sapu
Pemerintah
Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran
Kepatuhan Minum Tablet Tambah Darah di Kalangan Remaja Rendah, Ngantuk Saat Jam Pelajaran
LSM/Figur
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Kemenhut Terbitkan Aturan Baru Perdagangan Karbon, Disebut Lebih Jelas dan Terarah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau