Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kagama: Perlu Penguatan Aspek Hukum untuk Wujudkan Transisi Energi

Kompas.com, 28 Oktober 2024, 12:26 WIB
Add on Google
Bambang P. Jatmiko

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Transisi energi membutuhkan peran dari berbagai pihak agar target yang telah ditetapkan, bisa dicapai. Tanpa adanya kolaborasi, upaya untuk lepas dari energi fosil akan terhambat.

Hal tersebut merupakan kesimpulan dari seminar "Masa Depan Transisi Energi di Indonesia" yang diselenggarakan oleh Komunitas Kagama Persma dalam rangka rangkaian acara Pra-Munas Keluarga Alumni Gadjah Mada ke-XIV.

Wakil Ketua Umum I PP Kagama Budi Karya Sumadi mengatakan transisi energi menjadi tantangan di Indonesia, karena tidak mudah untuk mencapainya.

Baca juga:

"Jadi ini penting bagi kita untuk menjalankan law enforcement kita bisa mulai sama-sama mewujudkan transisi energi," kata Budi Karya, Minggu (27/10/2024).

Selain Budi Karya, sejumlah narasumber juga dihadirkan dalam seminar tersebut. Masing-masing mewakili perusahaan atau lembaga yang memiliki komitmen terhadap transisi energi.

VP Transisi Energi dan Perubahan Iklim PLN Anindita Satria Surya dalam pemaparannya menuturkan perseroan berkomitmen untuk mewujudkan transisi energi seiring dengan diimplementasikannya interkoneksi jaringan listrik di berbagai pulau yang ada di Indonesia.

"Untuk interkoneksi jaringan kelistrikan di pulau-pulau, nantinya juga akan dipasok oleh listrik yang bersumber dari renewable energy termasuk dari pembangkut yang memanfaatkan gas," kata dia. 

Sementara itu Kepala Badan Standardisasi Kurikulum dan Asesmen Pendidikan Kemendikbudristek Anindito Aditomo menjelaskan bahwa dari aspek pendidikan, pemerintah telah memasukkan materi perubahan iklim ke dalam materi sekolah.

Hal ini diharapkan bisa meningkatkan pemahaman dan kompetensi pendidik serta murid mengenai perubahan iklim.

Mewakili perusahaan energi terbarukan, VP Teknologi dan Engineering PT Pertamina New Renewable Energy (NRE) Nanang Kurniawan menjelaskan bahwa salah satu hal yang dilakukan perusahaan adalah pengembangan bioetanol.

"Dengan mengembangkan bioetanol, ke depan diharapkan juga bisa mengurangi impor BBM. Ini karena Indonesia saat ini sudah menjadi importir minyak," jelas dia.

Baca juga:

Sementara itu dari sisi perbankan, SVP International Banking & Financial Institutions Divisions PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Rima Cahyani mengungkapkan secara umum ada dua pendekatan dalam pembiayaan transisi energi, yakni sustainability linked instrument serta used of proceed instruments.

"Setiap ada perusahaan yang mengajukan pembiayaan, kami akan melihat dari dua sisi tersebut," jelas Rima.

Adapun Founder & Chairman Biru Peduli Foundation Ahmad Yuniarto mengutarakan bahwa pihak-pihak yang berkaitan dengan kebijakan, harusnya memahami aspek-aspek yang bisa menyebabkan perubahan iklim.

"Kita perlu governance, leadership, dan komitmen. Di Indonesia saat ini belum ada aturan yang secara spesifik mengatur transisi energi. Kalaupun ada mengenai rencana umum kebijakan energi nasional, itu bukan mengenai transisi energi," kata Ahmad.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau