Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengalirkan Harapan Energi Bersih Berkelanjutan pada Ratusan PLTA di Negeri Kaya Air

Kompas.com, 31 Oktober 2024, 19:17 WIB
Aningtias Jatmika,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, berdiri Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Balambano. Dengan kapasitas daya 110 megawatt (MW), PLTA ini memanfaatkan aliran Sungai Malarona yang airnya dipasok dari tiga danau, yakni Matano, Mahalona, dan Towuti.

Adapun mayoritas daya yang dihasilkan digunakan untuk operasional perusahaan tambang nikel milik PT Vale Indonesia. Sementara itu, sekitar 8 MW disalurkan kepada masyarakat sekitar melalui PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN.

Kerja sama dengan PT Vale Indonesia hanyalah salah satu contoh dari upaya nyata PLN dalam memaksimalkan potensi energi hidro sebagai sumber energi bersih yang ramah lingkungan di Tanah Air.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) periode 2019-2024 Arifin Tasrif mengatakan bahwa tenaga hidro dari PLTA merupakan salah satu sumber energi baru dan terbarukan (EBT) yang memiliki produktivitas stabil. Dengan demikian, pemanfaatannya bisa dipakai menjadi beban listrik dasar atau baseload listrik nasional.

“Tenaga hidro adalah salah satu energi terbarukan yang dapat digunakan sebagai baseload dan solusi bagi intermitensi dari variabel energi terbarukan, seperti tenaga surya dan angin, pada jaringan listrik,” tutur Arifin sebagaimana diberitakan Kompas.com, Selasa (31/10/2023).

Sebagai informasi, energi hidro atau tenaga air merupakan sumber energi yang diperoleh dari kekuatan aliran air yang mampu menggerakkan turbin untuk menghasilkan listrik. Di tengah upaya global untuk mengurangi emisi karbon dan ketergantungan pada energi fosil, energi hidro menjadi salah satu pilihan alternatif yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Terlebih, Indonesia merupakan negara kepulauan dengan banyak sungai besar dan curah hujan tinggi yang menciptakan kondisi ideal bagi pembangunan PLTA.

Indonesia tercatat memiliki 4.400 sungai. Sebanyak 128 di antaranya merupakan sungai besar yang sudah dimanfaatkan untuk pembangkit listrik.

Petugas PLN sedang berdiskusi di lokasi Powerhouse PLTA Jatigede, Sumedang, Jawa Barat. PLTA Jatigede memiliki kapasitas 110 megawatt (MW) yang akan mengalirkan listrik ke sistem kelistrikan Jawa-Bali.  KOMPAS.com/YOHANA ARTHA ULY Petugas PLN sedang berdiskusi di lokasi Powerhouse PLTA Jatigede, Sumedang, Jawa Barat. PLTA Jatigede memiliki kapasitas 110 megawatt (MW) yang akan mengalirkan listrik ke sistem kelistrikan Jawa-Bali.

Sementara itu, data dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (P3TEK) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan, terdapat lebih dari 52.000 lokasi yang berpotensi sebagai pembangkit hidro.

Adapun total potensi energi hidro dengan sistem run off river sebesar 94.627 MW. Namun, implementasi PLTA di Indonesia baru mencapai 6,7 gigawatt (GW).

Menjawab tantangan dalam pemanfaatan PLTA

Meski memiliki potensi yang besar, pemanfaatan energi hidro di Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang tidak bisa diabaikan.

Baca juga: Bendungan Bisa Dimanfaatkan untuk PLTA dan PLTS Terapung

Ketua Klaster Riset Sekolah llmu Lingkungan Universitas Indonesia Ahyahudin Sodri dalam Simposium bertajuk ”Peluang dan Tantangan Pembangkit Listrik Tenaga Air di Indonesia” di Jakarta, Kamis (23/11/2023), menjabarkan, kendala yang selama ini dihadapi dalam pembangunan PLTA di Indonesia, antara lain, besaran investasi yang tinggi, perizinan yang kompleks dan lama, kebutuhan lahan yang besar, serta kualitas sumber air yang belum mencukupi.

“Penolakan dan konflik sosial juga masih dijumpai pada pembangunan PLTA di beberapa lokasi,” ujar Ahyahudin sebagaimana diberitakan Kompas.id, Kamis (23/11/2023).

Namun, pemerintah melalui PLN terus melangkah maju. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030, PLN menargetkan pembangunan energi hidro yang mencakup 9.272 MW pada PLTA dan 1.118 MW pada pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH).

Untuk diketahui, PLTMH memiliki kapasitas yang lebih kecil ketimbang PLTA dan dapat diterapkan di wilayah-wilayah terpencil. PLTMH cocok untuk melistriki daerah yang memiliki akses terbatas ke jaringan listrik nasional.

Dari Tonsealama hingga Cirata

Adalah PLTA Tonsealama yang menjadi salah satu tonggak pemanfaatan energi hidro tertua di Tanah Air. Sejak 1928, PLTA yang memanfaatkan aliran air dari Danau Tondano itu menjadi sumber energi di Sulawesi Utara dan Gorontalo.

PLTA Tonsealama yang berada di Manado, Sulawesi Utara, termasuk dalam tujuh pembangkit pertama milik s’Lands Waterkracht Bedriven, perusahaan listrik di Hindia Belanda yang menjadi cikal bakal PLN.

“PLTA Tonsealama memiliki kapasitas 14,38 MW dan memenuhi 3 persen dari kebutuhan kelistrikan Sulut dan Gorontalo,” jelas Manajer PLN UPDK Minahasa Andreas Arthur seperti dikutip dari Kontan, Sabtu (13/12/2024).

Bukti perjalanan panjang PLN dalam pemanfaatan EBT lainnya adalah PLTA Bengkok yang terletak di Bandung, Jawa Barat.

Dioperasikan sejak 1923, kini PLTA Bengkok berada di bawah subholding PLN Indonesia Power (PLN IP) dan menjadi salah satu sumber listrik bersih bagi area Bandung dan sekitarnya.

Petugas PLN Indonesia Power mengatur operasi PLTA Bengkok di Bandung yang sudah beroperasi sejak 1923. KOMPAS.com/YOHANA ARTHA ULY Petugas PLN Indonesia Power mengatur operasi PLTA Bengkok di Bandung yang sudah beroperasi sejak 1923.

PLTA tersebut juga telah diakui sebagai bangunan cagar budaya di Kota Bandung. Demi menjaga orisinalitasnya, pengoperasian PLTA Bengkok masih menggunakan mesin dan peralatan asli yang dioperasikan secara manual.

Baca juga: Beroperasi Lebih 100 Tahun, PLTA Bengkok Jadi Bukti Perjalanan Panjang PLN Gunakan EBT

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, eksistensi PLTA Bengkok dalam memproduksi listrik merupakan bukti perjalanan panjang kemampuan PLN dalam memanfaatkan EBT dan melakukan transisi energi.

“Pembangkit ini merefleksikan semangat PLN sebagai tulang punggung transisi energi. Kami optimistis, Indonesia pasti bisa mencapai target net zero emission (NZE), seperti yang kita cita-citakan,” tutur Darmawan.

Untuk diketahui, PLTA Bengkok memiliki empat unit pembangkit di dua lokasi berbeda. Di lokasi utama PLTA Bengkok, terdapat tiga unit pembangkit dengan kapasitas total 3 x 1.050 kW, sedangkan satu unit lainnya adalah PLTA Dago yang memiliki kapasitas 700 kW. Dengan demikian, pembangkit ini mampu menghasilkan listrik bersih sebesar 3,85 (MW).

Semula, daerah yang mendapat suplai listrik dari PLTA Bengkok meliputi Sukaresmi, Dago, dan Bengkok. Seiring peningkatan kebutuhan listrik, PLTA Bengkok pun menjadi penyuplai listrik pendukung untuk Kota Bandung.

Konsistensi PLN untuk menyediakan energi bersih lewat PLTA pun semakin kukuh. Hingga kini, lebih dari 160 PLTA menjadi penopang daya bagi kebutuhan listrik seluruh negeri.

PLN juga terus menggenjot pembangunan PLTA Jatigede di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. PLTA berkapasitas 2x55 MW itu telah memasuki tahap akhir pembangunan dan ditargetkan dapat beroperasi pada tahun ini.

Tak hanya sebagai penghasil energi bersih, pembangunan PLTA Jatigede juga diproyeksikan dapat mencegah banjir. PLTA Jatigede turut mendukung fungsi itu dengan membuat Bendungan Karedok sebagai pengatur aliran air.

Pekerja PT PLN (Persero) UPP Kit JBT 2 sedang melakukan supervisi konstruksi lokasi pembangunan power house PLTA Jatigede 2x55 MW. Pekerja PT PLN (Persero) UPP Kit JBT 2 sedang melakukan supervisi konstruksi lokasi pembangunan power house PLTA Jatigede 2x55 MW.

Bendungan tersebut mampu menampung 980 juta meter kubik air dari daerah aliran Sungai Cimanuk yang berhulu di Garut serta melintasi Sumedang, Majalengka, dan Indramayu. Ketika musim hujan, bendungan dapat mencegah banjir di daerah hilir seluas 14.000 hektar.

PLTA lain yang juga punya peran vital sebagai pemasok energi bersih adalah PLTA Cirata di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Pembangkit ini merupakan PLTA terbesar di Indonesia dan terbesar kedua di Asia Tenggara.

Baca juga: PLTS Terapung Cirata Pangkas Emisi Karbon 214.000 Ton per Tahun

Dengan delapan unit generator, PLTA ini mampu menghasilkan data dengan kapasitas 1.008 MW. Tak heran, PLTA Cirata menjadi tulang punggung energi bersih di Pulau Jawa, Madura, dan Bali.

Menariknya, pada November 2023, PLN juga membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung di atas Waduk Cirata. PLTS ini menjadi pembangkit listrik terapung pertama dan terbesar yang beroperasi komersial di Indonesia. Dengan kapasitas 192 MWp atau 145 MWac, PLTS itu mampu memasok listrik setara untuk 50.000 rumah tangga.

Salah satu aset pembangkit EBT milik PLN, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata 192 Megawatt Peak (MWp).
DOK. Humas PLN Salah satu aset pembangkit EBT milik PLN, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata 192 Megawatt Peak (MWp).

Kehadiran PLTA dan PLTS di Waduk Cirata dinilai sebagai kombinasi yang apik dan menguntungkan. Pasalnya, saat musim kemarau, produksi listrik PLTA cenderung menurun karena debit air waduk yang ikut surut. Inilah momen paling produktif bagi PLTS terapung, mengingat kemarau adalah waktu saat paparan matahari paling optimal.

Sebaliknya, saat musim hujan, produksi listrik PLTS terapung cenderung menurun karena paparan sinar matahari banyak terganti awan mendung dan hujan. Di sisi lain, debit air waduk akan naik sehingga produksi listrik PLTA bisa optimal.

Lewat ratusan PLTA yang tersebar di seluruh Indonesia itu, tergantung harapan bahwa Indonesia akan sepenuhnya bisa memanfaatkan energi bersih secara berkelanjutan.

“Tugas PLN bukan hanya menyediakan listrik andal, melainkan juga menjaga lingkungan dan menurunkan emisi gas rumah kaca. Melalui listrik hijau yang andal dan merata, PLN berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tegas Darmawan dalam upacara peringatan Hari Listrik Nasional ke-79 dan Hari Sumpah Pemuda, Senin (28/10/2024).

Pada akhirnya, pembangkit listrik tenaga hidro membuka jalan bagi Tanah Air meraih target NZE pada 2060 atau lebih cepat. Lebih dari itu, pemanfaatan PLTA sebagai sumber energi bersih juga mendorong Indonesia untuk mampu mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) Poin 7, yakni Energi Bersih dan Terjangkau.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
SDG Academy Indonesia Terbaru Diluncurkan, Jadi Pusat Pembelajaran Nasional
SDG Academy Indonesia Terbaru Diluncurkan, Jadi Pusat Pembelajaran Nasional
Pemerintah
Mendagri: RI Urutan Kelima Negara Penghasil Sampah Terbanyak di Dunia
Mendagri: RI Urutan Kelima Negara Penghasil Sampah Terbanyak di Dunia
Pemerintah
Kurangnya Data Karbon Laut Bisa Hambat Mitigasi Perubahan Iklim
Kurangnya Data Karbon Laut Bisa Hambat Mitigasi Perubahan Iklim
Pemerintah
CSIS: Tumpang Tindih Regulasi Hambat Aksi Tekan Perubahan Iklim
CSIS: Tumpang Tindih Regulasi Hambat Aksi Tekan Perubahan Iklim
LSM/Figur
Studi: Kebijakan Iklim yang Tepat Sasaran Efektif Kurangi Karbon
Studi: Kebijakan Iklim yang Tepat Sasaran Efektif Kurangi Karbon
Pemerintah
2026, Tak Ada Daerah yang Raih Adipura Kencana, Ratusan Lainnya Berstatus 'Kotor'
2026, Tak Ada Daerah yang Raih Adipura Kencana, Ratusan Lainnya Berstatus "Kotor"
Pemerintah
Bersama Siswa, Guru di Sekolah Ini Kembangkan Sistem untuk Olah 90.000 Kantong Sampah
Bersama Siswa, Guru di Sekolah Ini Kembangkan Sistem untuk Olah 90.000 Kantong Sampah
LSM/Figur
KLH Selidiki 44 TPA yang Masih Open Dumping, Pemda Terancam Dipidana
KLH Selidiki 44 TPA yang Masih Open Dumping, Pemda Terancam Dipidana
Pemerintah
Pemanasan Global Jadi Ancaman Penyelenggaraan Tour de France
Pemanasan Global Jadi Ancaman Penyelenggaraan Tour de France
LSM/Figur
Peneliti BRIN: Korban Bencana Alami Trauma Ganda, Perlu Pendekatan Spiritual dan Ekologis
Peneliti BRIN: Korban Bencana Alami Trauma Ganda, Perlu Pendekatan Spiritual dan Ekologis
LSM/Figur
Celah Tata Kelola AI Timbulkan Risiko terhadap Implementasi ESG
Celah Tata Kelola AI Timbulkan Risiko terhadap Implementasi ESG
Pemerintah
Dari Rumah Pertama ke Ketahanan Keluarga, Kala Ekosistem Hunian Bangun Rasa Aman dan Masa Depan
Dari Rumah Pertama ke Ketahanan Keluarga, Kala Ekosistem Hunian Bangun Rasa Aman dan Masa Depan
BUMN
Saat Meja Bar Kopi Jadi Ruang Tumbuh Barista Indonesia hingga Bawa ke Panggung Dunia
Saat Meja Bar Kopi Jadi Ruang Tumbuh Barista Indonesia hingga Bawa ke Panggung Dunia
Swasta
Pekerja Jakarta Tunda Beli Rumah, Harga Mahal Upah Pas-pasan
Pekerja Jakarta Tunda Beli Rumah, Harga Mahal Upah Pas-pasan
LSM/Figur
Meski Punya Dasar Perhitungan, Program 100 GW PLTS Hadapi Tantangan Besar
Meski Punya Dasar Perhitungan, Program 100 GW PLTS Hadapi Tantangan Besar
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau