Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penggurunan Lahan: Pengertian, Penyebab, dan Dampaknya

Kompas.com, 13 November 2024, 17:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Pada Desember 2024, PBB bakal menggelar KTT Melawan Penggurunan COP16 yang sedianya bakal berlangsung di Riyadh, Arab Saudi, mulai 2 sampai 13 Desember.

Penggurunan merupakan isu yang penting untuk dibahas dan diatasi karena menyangkut pangan dan lingkungan, sehingga berdampak langsung terhadap kehidupan manusia.

Dilansir dari berbagai sumber, berikut pengertian, penyebab, dan dampak dari penggurunan.

Baca juga: 17 Juni, Hari Memerangi Penggurunan dan Kekeringan Sedunia

Pengertian

Penggurunan atau desertifikasi adalah proses terdegradasinya lahan atau tanah. Proses degradasi tersebut mengubah lahan yang subur menjadi gersang hingga menjadi gurun.

Degradasi ini mencakup penurunan sementara atau permanen pada kualitas tanah, vegetasi, sumber daya air, atau satwa liar.

Dilansir dari World Economic Forum, penggurunan terjadi ketika lahan yang sudah relatif kering menjadi semakin gersang.

Proses tersebut merusak tanah produktif, kehilangan sumber air, keanekaragaman hayati, dan tutupan vegetasi.

Penggurunan disebabkan oleh berbagai faktor termasuk perubahan iklim, penggundulan hutan, peternakan yang berlebihan, dan praktik pertanian yang tidak berkelanjutan.

Baca juga: Pertama dalam Sejarah, Salju Langka Turun di Gurun Arab Saudi

Pada 1994, PBB menetapkan Konvensi PBB untuk Melawan Penggurunan atau UN Convention to Combat Desertification (UNCCD) sebagai satu-satunya perjanjian internasional yang mengikat secara hukum yang menghubungkan lingkungan dan pembangunan dengan pengelolaan lahan berkelanjutan.

UNCCD merupakan respons terhadap seruan di KTT PBB di Rio de Janeiro pada 1992 untuk mengadakan negosiasi perjanjian hukum internasional tentang penggurunan.

UNCCD menetapkan definisi penggurunan dalam sebuah perjanjian yang diadopsi oleh para pihak pada 1994.

Dinyatakan bahwa penggurunan berarti degradasi lahan di daerah kering, semikering, dan kering sublembab yang diakibatkan oleh berbagai faktor, termasuk variasi iklim dan aktivitas manusia.

Baca juga: Video Viral Perempuan Memesan Uber Unta di Gurun Dubai, Warganet Tak Percaya

Penyebab

Dilansir Britannica, penggurunan disebabkan oleh perubahan iklim dan praktik pengelolaan lahan yang tidak berkelanjutan di lingkungan lahan kering.

Berdasarkan sifatnya, ekosistem kering dan semikering mempunyai curah hujan yang jarang atau bervariasi.

Dengan demikian, perubahan iklim yang mengakibatkan kekeringan berkepanjangan dapat dengan cepat mengurangi produktivitas ekosistem di lahan tersebut.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau