Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 14 November 2024, 07:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - KTT Iklim kembali digelar tahun ini. Azerbaijan, negara penghasil minyak dan gas, menjadi tuan rumah COP29.

Ribuan perwakilan dari seluruh dunia berkumpul di negara Kaukasus Selatan tersebut selama dua minggu untuk berunding mengenai cara mengatasi krisis iklim.

Dilansir dari Al Jazeera, berikut serba-serbi COP29, mulai dari tempat perhelatan, waktu, hingga agenda utamanya.

Baca juga: COP29: Presiden Azerbaijan Sebut Barat Munafik karena Beli Minyak dan Gas

Tempat dan waktu

COP29 berlangsung di ibu kota Azerbaijan, Baku. KTT Iklim ini sedianya akan berlangsung selama sepekan lebih, mulau dari 11 sampai 22 November.

COP sendiri adalah singkatan dari Conference of the Parties, para pihak yang ikut menyepakati United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).

UNFCCC merupakan pakta multilateral yang diadopsi pada 1992 dan mulai berlaku pada 1994.

UNFCCC menjadi dasar bagi perjanjian-perjanjian penting seperti Protokol Kyoto tahun 1997 dan Perjanjian Paris tahun 2015.

Perjan-perjanjian tersebut bertujuan untuk membatasi melawan perubahan iklim dan membatasi kenaikan suhu Bumi.

KTT Iklim COP pertama diadakan di ibu kota Jerman, Berlin, pada 1995.

Lebih dari 32.000 orang telah mendaftar untuk menghadiri COP29 tahun ini. Mereka terdiri aras perwakilan dari seluruh 198 negara yang telah meratifikasi UNFCCC.

Baca juga: COP29: Sekjen PBB Desak Dunia Tebus Dosa Perubahan Iklim

Apa saja agenda COP29

Agenda utama dalam COP29 bakal membahas pendanaan. Oleh karena ini, COP29 diberi label KTT keuangan.

Pasalnya, pembicaraan mengenai keuangan berupaya untuk meningkatkan pendanaan guna mendukung negara-negara berpenghasilan rendah dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.

Sebuah laporan yang didukung PBB telah menyatakan, negara-negara berkembang, membutuhkan investasi lebih dari 2 triliun dollar AS per tahun pada 2030 jika dunia ingin menghentikan pemanasan global.

Siapa saja yang harus menyalurkan dana sebesar itu? Sebuah analisis yang ditugaskan oleh Inggris dan Mesir menemukan, anggaram 1 triliun dollar AS seharusnya berasal dari negara-negara kaya, investor, dan bank pembangunan multilateral.

Laporan tersebut juga menambahkan bahwa sisanya harus berasal dari dalam negeri seperti sumber-sumber swasta dan publik.

Baca juga: Aruki: Agenda Indonesia dalam COP29 Jauh dari Keadilan Iklim

Pada 2009, negara-negara kaya sudah berjanji untuk menyediakan 100 miliar dollar AS setiap tahunnya dalam bentuk pembiayaan iklim bagi negara-negara berkembang.

Negara-negara miskin di dunia kini menyerukan tujuan baru setidaknya 1 triliun dollar AS per tahun.

Di sisi lain, negara-negara kaya saat ini juga mendesak negara lain seperti China dan Uni Emirat Arab (UEA) yang masih tergolong negara berkembang untuk berkontribusi pada dana tersebut.

Selain membahas pendanaan, COP29 juga memiliki agenda pembahasan ambisi iklim nasional yang tertuang dalam Nationally Determined Contribution (NNDC) masing-masing negara.

NDC adalah rencana aksi iklim nasional suatu negara yang menetapkan target untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sesuai dengan tujuan yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris.

Baca juga: Hari Pertama COP29, Negara-negara Sepakati Aturan Bursa Karbon Internasional

Refleksi

Salah satu kesepakatan utama yang dihasilkan dari COP28 di Dubai, UEA, tahun lalu adalah dunia sepakat untuk bertransisi dari bahan bakar fosil.

Itu adalah tonggak penting karena menjadi teks COP pertama yang secara terbuka menyerukan negara-negara untuk menghentikan penggunaan bahan bakar fosil.

Selain itu, COP28 juga menyepakati dua target lain yakni melipatgandakan kapasitas energi terbarukan global dan menggandakan peningkatan efisiensi energi global pada 2030.

Pada April, Badan Energi Internasional (IEA) membuat pelacak untuk mengukur tujuan yang ditetapkan pada COP28.

Baca juga: Hadiri COP29, Delegasi Indonesia Promosikan Nuklir hingga Penangkap Karbon

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
BUMN
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau