Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Miliaran Orang Dilanda Kekeringan, Kemitraan Ketahanan Global Diluncurkan

Kompas.com, 3 Desember 2024, 07:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Arab Saudi meluncurkan Kemitraan Ketahanan Kekeringan Global Riyadh atau Riyadh Global Drought Resilience Partnership saat pembukaan Konferensi Para Pihak ke-16 (COP16) United Nations Convention to Combat Desertification (UNCCD), Senin (2/12/2024).

Pada 2022, 1,84 miliar orang terkena dampak kekeringan. Lebih dari 55 negara pernah menyatakan keadaan darurat kekeringan antara tahun 2020 hingga 2023, menurut UNCCD. 

Kekeringan menjadi penyebab utama kerawanan pangan dan air. Kekeringan juga memicu jutaan orang mengungsi dan menimbulkan dampak ekonomi yang sangat besar pada negara-negara yang terkena dampak.

Baca juga: COP16 Riyadh: Pembicaraan Tinggi Lawan Degradasi Lahan Dimulai

Kerja sama yang diinisasi Arab Saudi selaku Presidensi COP16 tersebut mencakup kemitraan antarnegara, organisasi internasional, dan pemangku kepentingan lainnya.

Beberapa aspek yang dodorong dalam inisiatif ini yakni peningkatan sistem peringatan dini, pembiayaan, penilaian kerentanan, dan mitigasi risiko kekeringan.

Deputi Menteri Lingkungan Hidup Kementerian Lingkungan Hidup, Air, dan Pertanian Arab Saudi Osama Faqeeha mengatakan, kemitraan tersebut akan berfungsi sebagai fasilitator global.

Riyadh Global Drought Resilience Partnership juga akan menjadi pusat layanan terpadu untuk ketahanan kekeringan.

Baca juga: Konferensi Melawan Penggurunan COP16: Tempat, Waktu, dan Agenda Utama

Dengan adanya inisiatif tersebut, ada perubahan dari sebelumnya respons reaktif setelah kekeringan terjadi, menjadi kesiapsiagaan proaktif. 

"Kami juga berupaya untuk memperkuat sumber daya global guna menyelamatkan jiwa dan mata pencaharian di seluruh dunia," kata Faqeeha dikutip dari siaran pers.

Faqeeha menyampaikan, jauh lebih hemat biaya untuk mengambil pendekatan proaktif terhadap ketahanan kekeringan daripada pendekatan reaktif.

"Kami menyerukan kepada negara, perusahaan, organisasi, ilmuwan, LSM, lembaga keuangan, dan masyarakat untuk bergabung dalam kemitraan penting ini dan menjadi bagian dari gerakan global untuk membangun masa depan yang tangguh terhadap kekeringan," ucap Faqeeha.

Kemitraan ini akan dioperasikan oleh kantor permanen untuk menghubungkan negara dan masyarakat yang rentan dengan sumber daya yang ada, sambil bersinergi dengan inisiatif yang sedang berlangsung untuk memaksimalkan dampak.

Baca juga: Degradasi Lahan Semakin Cepat, Capai 1 Juta Km Persegi per Tahun

Riyadh Global Drought Resilience Partnership juga akan memprioritaskan pembukaan mekanisme pendanaan baru untuk ketahanan terhadap kekeringan, meningkatkan akses ke kredit, pembiayaan ekuitas, produk asuransi, dan hibah.

Untuk memastikan dukungan operasional yang berkelanjutan dan dampak jangka panjang, Arab Saudi akan menanggung biaya kantor kemitraan tersebut setidaknya selama 10 tahun.

Sekretaris Eksekutif UNCCD Ibrahim Thiaw menuturkan, tidak ada negara yang kebal terhadap kekeringan. 

Di satu sisi, 85 persen orang yang terkena dampak tinggal di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. 

"Dalam dunia yang mengglobal, merupakan tanggung jawab kolektif kita, dan kepentingan bersama kita, untuk membebaskan semua orang, di mana pun, dari dampak terburuk kekeringan. Saya percaya Kemitraan Ketahanan Kekeringan Global Riyadh akan memainkan peran penting dalam memobilisasi keuangan dan kemauan politik untuk masa depan yang lebih tangguh," ucap Thiaw.

Baca juga: Sektor Swasta Perlu Terlibat Melawan Degradasi Lahan

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Karhutla Bakar 637.011 Hektar Lahan, Organisasi Lintas Iman Desak Siklus Tahunan Diputus
Pemerintah
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
ASRI Menyapa Surabaya, Dorong Siswa dan Guru Wujudkan Sekolah Berkelanjutan
Swasta
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Lonjakan Belanja Militer Perparah Perubahan Iklim dan Keamanan Global
Pemerintah
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pengembangan PLTS Terapung Perlu Mitigasi agar Tak Ganggu Fungsi Badan Air
Pemerintah
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
Rotan Kian Sulit Didapat, Perajin Anyaman Mahakam Ulu Terpaksa Beralih ke Plastik
LSM/Figur
'Cage Free Eggs', Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
"Cage Free Eggs", Mengangkat Isu Kesejahteraan di Sebutir Telur
LSM/Figur
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
Pelajar Galang Dana lewat Golf untuk Wujudkan Harapan Anak dengan Penyakit Kritis
LSM/Figur
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
Dilema Pemanfaatan Dana Karbon di Pedalaman Kalimantan...
LSM/Figur
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Bank Global Kucurkan Rp 10,69 Kuadriliun ke Perusahaan Terkait Deforestasi
Pemerintah
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Menjaga Mangrove Tetap Hidup, Bukan Sekadar Menanam
Pemerintah
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
LSEG: Pemilik Aset Semakin Integrasikan Keberlanjutan ke Dalam Portofolio
Pemerintah
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Bisakah Pemulihan Populasi Hewan Besar Bantu Atasi Perubahan Iklim?
Pemerintah
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
Dari Rotan, Masyarakat Dayak Merawat Tradisi dan Membuka Jalan Penghidupan
LSM/Figur
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
Pembangunan Proyek Batu Bara Baru Tiga Kali Lebih Cepat dari Penghentiannya
LSM/Figur
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
Ketika Greenpeace Mencuri Panggung di Bundaran HI
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau