Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BRIN Kembangkan Teknologi Satelit untuk Konservasi Laut Berbasis Masyarakat

Kompas.com, 3 Desember 2024, 15:00 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Organisasi Riset Elektronika dan Informatika (OREI) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi satelit untuk mendukung konservasi laut berbasis masyarakat.

Salah satu fokus riset dari OREI adalah pengelolaan kawasan perlindungan laut (KPL) dan kawasan konservasi berbasis masyarakat atau other effective area-based conservation measures (OECM).

Peneliti Ahli Utama BRIN Mulyanto Darmawan mengungkapkan, perubahan paradigma konservasi ke arah pendekatan yang berpusat pada masyarakat sangat penting untuk mengurangi resistensi komunitas terhadap upaya konservasi.

Baca juga: Konservasi Laut yang Efektif Butuh Pendekatan Kesetaraan Gender

Hal tersebut disampaikan Mulyanto dalam webinar Diseminasi Hasil Riset Rumah Program Seri #4, Kamis (28/11/2024).

"OECM di Indonesia seharusnya menjadi arena untuk mengubah paradigma konservasi ke arah people centered (yang berpusat pada orang) atau setidaknya people friendly paradigm (paradigma ramah masyarakat)," ungkap Mulyanto, dikutip dari situs web.

Mulyanto berujar, BRIN melakukan riset pengembangan sistem pendukung keputusan (SPK) untuk mengevaluasi biodiversitas kawasan laut dangkal yang dikelola oleh masyarakat lokal atau adat berdasar analisis data satelit.

Berdasarkan lokasi penelitian yang telah dilakukan di Pulau Tidung, dia menyimpulkan analisis Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) dan Lyzinga telah dilakukan untuk mengevaluasi biofisika di sana untuk evaluasi indeks keanekaragaman hayati.

"Indeks kualitas air di Kepulauan Tidung termasuk dalam kategori tercemar ringan. Sehingga, ciri-ciri ini menjadi kandidat utama perlindungan dalam menentukan kawasan konservasi," ungkap Mulyanto.

Baca juga: Konservasi Laut, Pupuk Kaltim Turunkan 6.882 Terumbu Karang Sejak 2011

Adapun parameter analisis selain parameter biofisik adalah parameter sosial dan ekonomi. Fitur biaya seperti pelabuhan, pemukiman, dan penggunaan lahan juga harus dipertimbangkan.

"Dengan mempertimbangkan parameter-parameter tersebut, model pendekatan adaptif seperti pengelolaan berbasis masyarakat dan ekosistem menjadi relevan untuk diterapkan dalam pengelolaan kawasan konservasi laut di wilayah tersebut," tegas Mulyanto.

Dia menuturkan, aktivitas antropogenik yang intensif dan meluas serta dampak perubahan iklim telah menempatkan sumber daya laut Indonesia kian terancam.

Sehingga pengelolaan berbasis masyarakat dan ekosistem menjadi pendekatan adaptif yang relevan.

Menurutnya, OECM bukan merupakan penetapan area konservasi baru, tetapi peningkatan kualitas manajemen di area yang eksisting.

Baca juga: Masyarakat Hukum Adat Jadi Ujung Tombak Konservasi Laut

Dalam riset tersebut, OECM diarahkan pada pengelolaan manajemen berbasis masyarakat sebagai penyesuaian wujud pengelolaan dengan kepentingan dan kebutuhan, baik sosial-budaya maupun komunitas.

Dengan demikian, kesesuaian tersebut akan menekan resistensi dari komunitas dan menjadikan OECM sebagai wujud pengelolaan yang lebih murah, karena sebagian fungsi pengelolaan dilakukan voluntary oleh komunitas.

Sementara SPK bertujuan mendukung berbagai kebutuhan, seperti evaluasi biodiversitas kawasan laut, keselamatan pelayaran melalui pengembangan intelligent system lampu pelampung suar, hingga deteksi gelombang laut dan tsunami.

Kepala OREI BRIN Budi Prawara menekankan pentingnya peran masyarakat dalam mendukung keberhasilan riset ini.

"Partisipasi masyarakat dalam kegiatan penelitian seperti pengumpulan, analisis, dan publikasi data penelitian harus dilibatkan. Ini menjadi bagian penting dalam menciptakan solusi yang inklusif dan berkelanjutan," tutur Budi.

Baca juga: Kawasan Konservasi Laut Ditarget Sampai 30 Persen

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Nikel, Kekuatan Besar, dan Tanggung Jawab di Balik Hilirisasi Indonesia
Nikel, Kekuatan Besar, dan Tanggung Jawab di Balik Hilirisasi Indonesia
BUMN
Mengejar Nilai Tambah, Menekan Jejak Karbon dan Limbah Hilirisasi Nikel
Mengejar Nilai Tambah, Menekan Jejak Karbon dan Limbah Hilirisasi Nikel
Swasta
PBB: 1 Miliar Porsi Makanan Terbuang per Hari, Perparah Pemanasan Global
PBB: 1 Miliar Porsi Makanan Terbuang per Hari, Perparah Pemanasan Global
Pemerintah
Jerman Targetkan Bebas Bahan Bakar Fosil pada 2045
Jerman Targetkan Bebas Bahan Bakar Fosil pada 2045
Pemerintah
GRI Siapkan Standar Pelaporan ESG Khusus Industri Makanan dan Minuman
GRI Siapkan Standar Pelaporan ESG Khusus Industri Makanan dan Minuman
Pemerintah
Kampung Bebas Rokok dan Pinjol yang Sejuk di Tengah Panas Surabaya
Kampung Bebas Rokok dan Pinjol yang Sejuk di Tengah Panas Surabaya
LSM/Figur
PBB Peringatkan Waktu untuk Pulihkan Hutan Dunia Kian Terbatas
PBB Peringatkan Waktu untuk Pulihkan Hutan Dunia Kian Terbatas
Pemerintah
Teknologi Satelit Bantu Lindungi Pasokan Air Minum Dunia, Kok Bisa?
Teknologi Satelit Bantu Lindungi Pasokan Air Minum Dunia, Kok Bisa?
LSM/Figur
Hujan Berlebihan Bisa Jadi Ancaman Iklim Baru bagi Industri Cokelat
Hujan Berlebihan Bisa Jadi Ancaman Iklim Baru bagi Industri Cokelat
Pemerintah
Lanskap Bukit Tigapuluh, Menjaga Ruang Jelajah Gajah Sumatera
Lanskap Bukit Tigapuluh, Menjaga Ruang Jelajah Gajah Sumatera
Pemerintah
25 Beras Fortifikasi Tak Sesuai Standar, IPB Soroti Stabilitas Zat Gizi
25 Beras Fortifikasi Tak Sesuai Standar, IPB Soroti Stabilitas Zat Gizi
LSM/Figur
Empat Tahun Dipantau, Biodiversitas Area Weda Bay Catat Ratusan Spesies
Empat Tahun Dipantau, Biodiversitas Area Weda Bay Catat Ratusan Spesies
Swasta
Studi Ungkap Asap Kebakaran Hutan Kurangi Keanekaragaman Burung
Studi Ungkap Asap Kebakaran Hutan Kurangi Keanekaragaman Burung
Pemerintah
Studi Ungkap Sungai Alirkan Mikroplastik Lebih Banyak dari Perkiraan ke Laut
Studi Ungkap Sungai Alirkan Mikroplastik Lebih Banyak dari Perkiraan ke Laut
Pemerintah
Umbi Kimpul Berpotensi Jadi Komoditas Pangan 'Gluten Free' Bernilai Ekonomi Tinggi
Umbi Kimpul Berpotensi Jadi Komoditas Pangan "Gluten Free" Bernilai Ekonomi Tinggi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau