Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Degradasi Lahan Ancam Stabilitas Ekonomi Global, Arab Saudi Siapkan Langkah Strategis di COP16

Kompas.com, 17 Desember 2024, 17:59 WIB
Anissa Dea,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

Menurut Dr Osama, pendekatan Indonesia untuk menyeimbangkan antara pembangunan dengan perlindungan lingkungan, termasuk upayanya untuk mengatur ekspansi minyak kelapa sawit dan mencegah kebakaran hutan, menunjukkan tantangan sekaligus peluang dalam menangani degradasi lahan.

Baca juga: Indonesia Akhirnya Dukung Pembentukan Badan Permanen Masyarakat Adat dalam COP16

"Pengalaman Indonesia sangat berharga saat kami bekerja sama di UNCCD COP16 untuk mengembangkan solusi yang praktis dan dapat diimplementasikan," ujarnya.

Posisi Indonesia sebagai salah satu negara tropis terbesar di dunia menjadikannya mitra yang sangat penting dalam upaya restorasi lahan global.

Dr Osama menekankan bahwa pengalaman Indonesia dalam mengatasi tantangan kompleks, mulai dari pengelolaan lahan gambut hingga pengembangan praktik pertanian berkelanjutan, menjadi wawasan berharga bagi negara-negara lain yang menghadapi tantangan serupa.

Dr Osama pun tidak menutup peluang kolaborasi antara Arab Saudi dan Indonesia, terutama di area-area kedua negara menghadapi tantangan yang serupa.

"Keahlian Arab Saudi dalam teknologi efisiensi air dan manajemen kekeringan dapat melengkapi pengalaman Indonesia dalam restorasi hutan dan lahan gambut," jelasnya.

Ia pun menyambut partisipasi Indonesia di UNCCD COP16 dan menantikan kesempatan untuk belajar dari pengalaman Indonesia dalam melaksanakan program restorasi berskala besar.

Investasi untuk masa depan bumi

Dr Osama mengatakan, UNCCD memperkirakan bahwa setiap dollar AS yang diinvestasikan untuk merestorasi lahan yang terdegradasi dapat menghasilkan antara 7 hingga 30 dollar AS dalam bentuk keuntungan ekonomi.

Namun, menurutnya, tujuan ke-15 dari Sustainable Development Goals (SDG) tetap menjadi yang paling sedikit mendapatkan pendanaan di antara semua poin tujuan SDG.

"Tujuan kami adalah untuk mempercepat kemajuan menuju target UNCCD dalam merestorasi 1,5 miliar ha lahan yang terdegradasi pada 2030," ujarnya.

Setelah COP16 di Riyadh, Arab Saudi berharap, dapat melihat kerja sama internasional yang lebih kuat dan kerangka kerja yang lebih solid untuk melaksanakan komitmen restorasi lahan.

Dr Osama menjelaskan bahwa menurut UNCCD, dunia membutuhkan setidaknya 300 miliar dollar AS setiap tahun untuk mencapai hasil restorasi yang signifikan pada 2030.

Baca juga: COP16 Riyadh Hasilkan Janji Rp 191 Triliun Atasi Kekeringan dan Degradasi Lahan

"Sebagai bagian dari Presidensi COP16 Arab Saudi yang berlangsung selama dua tahun, kami bekerja untuk memperkaya agenda aksi dengan mendorong pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya untuk meluncurkan inisiatif implementasi,” ujarnya.

Pihaknya juga berusaha memperkuat partisipasi sektor swasta dalam restorasi lahan dan meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan di negara-negara yang rentan.

Keberhasilan jangka panjang, menurutnya, memerlukan pendekatan komprehensif yang menggabungkan reformasi kebijakan, praktik pengelolaan lahan yang berkelanjutan, dan peningkatan investasi.

Data UNCCD menyoroti bahwa tindakan yang dilakukan saat ini untuk melindungi dan memulihkan sumber daya lahan akan memberikan lebih dari sepertiga dari mitigasi iklim berbasis lahan yang efektif secara biaya yang dibutuhkan pada 2030.

Baca juga: Serukan Hidup Selaras, 20 Negara Bentuk Koalisi Alam dalam COP16

"Kita membutuhkan mekanisme yang lebih kuat untuk pelaksanaan, pemantauan, dan akuntabilitas, bersama dengan peningkatan dukungan finansial dan teknologi untuk negara-negara berkembang. Hal terpenting, kita harus memobilisasi sektor swasta, yang memiliki peran penting dalam memperlambat degradasi lahan dan mempercepat restorasi," tegas Dr Osama.

COP16 juga mendukung pencapaian SDG, khususnya SDG 15 yang menyerukan untuk memerangi desertifikasi dan memulihkan lahan yang terdegradasi pada 2030. Dr Osama menyebutkan bahwa lebih dari 115 negara telah membuat komitmen kuantitatif untuk memulihkan satu miliar Ha lahan.

"Konferensi ini juga memajukan tujuan aksi iklim karena restorasi lahan menyediakan peluang signifikan untuk penyerapan karbon. Menurut data UNCCD, 24 persen emisi gas rumah kaca disebabkan oleh aktivitas penggunaan lahan, menjadikan restorasi lahan penting untuk mitigasi iklim," jelasnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kerugian Ekonomi Akibat Makanan Tak Aman Masih Tinggi, BPOM Gandeng IPB Jalankan KKN Tematik
Kerugian Ekonomi Akibat Makanan Tak Aman Masih Tinggi, BPOM Gandeng IPB Jalankan KKN Tematik
Pemerintah
Skema EPR Baru: Sampah Susah Didaur Ulang, Produsen Sampah Bayar Lebih Mahal
Skema EPR Baru: Sampah Susah Didaur Ulang, Produsen Sampah Bayar Lebih Mahal
Pemerintah
Jakarta Jadi Barometer Keberhasilan Kebijakan Tanggung Jawab Produsen Atasi Sampah
Jakarta Jadi Barometer Keberhasilan Kebijakan Tanggung Jawab Produsen Atasi Sampah
Pemerintah
El Nino Perparah Degradasi Hutan dan Lahan,
El Nino Perparah Degradasi Hutan dan Lahan,
Pemerintah
Teknologi Pendinginan Pasif Penting untuk Adaptasi Perubahan Iklim
Teknologi Pendinginan Pasif Penting untuk Adaptasi Perubahan Iklim
LSM/Figur
Air Daur Ulang Berpotensi Bantu Kota Hadapi Gelombang Panas Akibat Perubahan Iklim
Air Daur Ulang Berpotensi Bantu Kota Hadapi Gelombang Panas Akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
Hilirisasi Nikel Dinilai Pangkas Jejak Karbon, tetapi Manfaatnya Belum Masuk Perhitungan
Hilirisasi Nikel Dinilai Pangkas Jejak Karbon, tetapi Manfaatnya Belum Masuk Perhitungan
Swasta
Dampak Perubahan Iklim Turut Kurangi Hak Anak di Sejumlah Daerah Indonesia
Dampak Perubahan Iklim Turut Kurangi Hak Anak di Sejumlah Daerah Indonesia
LSM/Figur
Menentukan Strategi Pembangunan Global setelah Agenda SDGs 2030
Menentukan Strategi Pembangunan Global setelah Agenda SDGs 2030
Pemerintah
Aspirasi Anak Lebih Mudah Diakomodasi di Desa Dibandingkan Perkotaan
Aspirasi Anak Lebih Mudah Diakomodasi di Desa Dibandingkan Perkotaan
LSM/Figur
Lawan Serbuan Batik Tiruan, APPBI Gelar Puspa Nuswantara 2026 di JICC
Lawan Serbuan Batik Tiruan, APPBI Gelar Puspa Nuswantara 2026 di JICC
LSM/Figur
Ekspansi Industri Nikel Gerus Lahan Pertanian dan Kampung Nelayan di Morowali
Ekspansi Industri Nikel Gerus Lahan Pertanian dan Kampung Nelayan di Morowali
LSM/Figur
HUT ke-46 Dekranas Dorong Pengrajin Lokal Tembus Pasar Global dengan Produk Ramah Lingkungan
HUT ke-46 Dekranas Dorong Pengrajin Lokal Tembus Pasar Global dengan Produk Ramah Lingkungan
Pemerintah
Ubah Paradigma Pamong, Program KDMK Dorong Kepala Desa Jadi Lokomotif Perubahan
Ubah Paradigma Pamong, Program KDMK Dorong Kepala Desa Jadi Lokomotif Perubahan
Pemerintah
Atasi Polusi Udara Akut, New Delhi Umumkan Kebijakan EV Terbaru
Atasi Polusi Udara Akut, New Delhi Umumkan Kebijakan EV Terbaru
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau