KOMPAS.com - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk menandatangani kerja sama dengan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) dalam rangka penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan kredit BNI Wirausaha (BWU) kepada petani tebu.
Program yang sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto ini dilakukan untuk mendorong kemandirian sektor pertanian dan juga mendukung target swasembada gula konsumsi pada 2028.
Kolaborasi keduanya ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara Pemimpin Divisi Business Program BNI Sunarna Eka Nugraha dan Direktur Keuangan Sinergi Gula Nusantara Hariyanto dalam keterangan resmi pekan lalu.
Melalui kerja sama ini, BNI akan menyalurkan KUR dan BWU kepada petani tebu yang telah bermitra dengan SGN.
Baca juga:
Potensi pembiayaan kepada petani tebu rakyat mitra SGN sendiri mencapai Rp1,17 triliun, di mana SGN akan bertindak sebagai off-taker atau pihak yang membeli tebu hasil panen petani yang menerima KUR dan BWU dari BNI.
"Sebagai bank BUMN, kami berkomitmen untuk mendukung program prioritas pemerintah salah satunya ketahanan pangan nasional dan swasembada gula. Kerjasama ini menjadi momen yang spesial karena dapat mempererat dan memperkuat kolaborasi dalam mendukung program pemerintah," kata Direktur Retail Banking BNI Corina Leyla Karnalies yang turut hadir dalam acara ini.
Program kerja sama ini juga akan memastikan agar para petani mendapatkan akses pembiayaan yang murah, mudah, disertai pendampingan yang cukup.
"Mudah-mudahan kolaborasi ini semakin baik karena ini adalah awal dan akan kami tingkatkan terus. Dan ini akan menjadi salah satu wujud dari visi Indonesia yang berdaulat dalam sektor pangan," sambung Corina.
Dalam kesempatan yang sama, Hariyanto mengatakan, penandatanganan perjanjian kerja sama ini merupakan kelanjutan dari kemitraan yang sudah terjalin antara BNI dan SGN sejak 2022.
Baca juga:
Ia menambahkan pula program penyaluran KUR dan BWU ini tidak hanya bertujuan mendukung tercapainya swasembada gula konsumsi nasional, tapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Dengan begitu, petani dapat berkontribusi lebih besar dalam menggerakkan roda ekonomi.
"85 persen bahan baku gula itu berasal dari petani, sehingga ekosistem yang dapat mendukung usaha petani itu menjadi sangat penting," ungkap Hariyanto.
"Dampaknya terutama dalam penyaluran yaitu petani menjadi lebih sejahtera. Secara nasional, milestone yang terdekat adalah swasembada gula konsumsi tahun 2028," imbuh dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya