Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

"Food Rescue Warrior" Salurkan Ribuan Paket Makanan ke 53.000 Masyarakat Rentan

Kompas.com, 3 Januari 2025, 19:25 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Program Food Rescue Warrior yang digagas Bank DBS Indonesia dan FoodCycle Indonesia, telah menyalurkan 658.071 paket makanan kepada 53.046 orang.

Ratusan ribu paket makanan tersebut merupakan hasil pengolahan 134.700 kilogram surplus makanan.

Head of Group Strategic Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika menjelaskan, program ini mendorong partisipasi aktif pengelolaan sampah makanan yang berkelanjutan.

Baca juga:

Lainnya adalah mengatasi surplus makanan dari hotel, restoran, dan kafe dengan mendistribusikan makanan atau bahan pangan layak konsumsi kepada masyarakat rentan.

“Dengan menyediakan kebutuhan dasar, yakni makanan yang bernutrisi bagi masyarakat rentan, ini adalah bentuk komitmen nyata Bank DBS Indonesia melalui DBS Foundation untuk berkontribusi secara positif bagi komunitas," ujar Mona dalam keterangan tertulis, Jumat (3/1/2025).

Pihaknya telah bekerja sama dengan 28 mitra hotel dan 56 tenant makanan sebagai pendonor makanan surplus. Ekosistem Food Rescue Warrior terdiri dari tenant restoran dan kafe antara lain Holland Bakery, Solaria, Kopi Kenangan, Hotel Le Meridien Jakarta, Hotel Aston Pluit, Hotel Harris fX Sudirman, dan lain-lain.

"Ke depannya, kami akan fokus untuk bekerja sama dengan lebih banyak mitra, untuk menciptakan masyarakat yang lebih sehat, sejahtera, dan memiliki akses yang lebih baik terhadap kebutuhan dasar nutrisi," tutur Mona.

Kini program Food Rescue Warrior telah mendirikan dan mengelola tiga urban farm yang memberikan pelatihan kepada 52 orang serta mempekerjakan empat kaum muda binaan

Selain itu, Food Rescue Warrior juga mengelola 74.695 kg sampah makanan secara berkelanjutan sehingga tidak berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

Melalui program tersebut, Bank DBS Indonesia dan DBS Foundation turut mengajak para mitra dan masyarakat untuk memerangi masalah sampah makanan ataupun mendukung ketahanan pangan di Indonesia.

Perluas Distribusi Makanan

Berdasarkan Indeks Kelaparan Global 2023, Indonesia berada di peringkat ke-70 dari 107 negara, dengan skor 20,4 yang menunjukkan tingkat kelaparan yang serius.

Laporan Global Food Security Index (GFSI) 2022 menyatakan, Indonesia menempati peringkat ke-63 dari 113 negara dalam hal ketahanan pangan, dengan skor rata-rata 60,2.

Baca juga:

Mona menyebut, posisi ini lebih rendah dibandingkan dengan Vietnam yang berada di peringkat ke-46 dan Malaysia di peringkat ke-41.

Oleh sebab itu, pihaknya akan memperluas distribusi makanan untuk mendukung pemenuhan nutrisi termasuk ke daerah-daerah terpencil pada 2025.

Bank DBS Indonesia juga bakal melakukan urban farming, praktik bercocok tanam di lingkungan perkotaan, sebagai salah satu solusi untuk menyediakan bahan makanan segar serta mengembangkan ketahanan pangan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau